Senin, 04 Juli 2011

Media Yang Menerima Karya

A. MAJALAH


1. Alia

Karindra Plaza Blok B – 1 No.6, Jl. Karang TengaH Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan

Telepon : ( 021 ) 750 5886

Faks : ( 021 ) 750 6004

Email : majalah_alia@yahoo.com

* Majalah dewasa/ keluarga Islami

* Menerima Kiriman cerpen


2. Aneka Yess

Jl.Salemba Tengah No.58, Jakarta Pusat 10440

Telepon : ( 021 ) 230 6188

Email : aneka@indosat.net.id

Web : www.anekayaess-online.com

* Menerima Kiriman cerpen remaja. Panjang cerpen maksimal 7 halaman folio, ketik 2 spasi.


3. Bobo

Gedung Gramedia Majalah Lt.4, Jl.Panjang No.8A, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530

Telepon : ( 021 ) 533 0150/533 0170

Email : bobonet@gramedia-majalah.com

* Majalah anak anak ( usia SD )

* Menerima kiriman majalah cerpen dan dongeng


4. Femina

Jl. H.R Rasuna Said Blok B Kav. 32 – 33, Jakarta Selatan 12910

Telepon : ( 021 ) 525 3816

Email : redaksi@feminagroup.com

Web : www.femina-online.com

* Majalah wanita dewasa

* Menerima cerpen, 6 – 8 halaman kuarto, ketik 2 spasi


5. Gadis

Jl. HR Rasuna Said Blok B Kav 32 – 33, Jakarta 12910

Telepon : ( 021 ) 525 3816 / 520 9370

Faks : ( 021 ) 520 9366

Email : info@gadis-online.com

* Menerima cerpen remaja, 6 – 7 halaman folio, ketik 2 spasi

* Rubrik percikan/cerpen mini, 2 halaman folio, 2 spasi


6. Girliezone

Jl. Apel II No.30, Jajar Laweya, Surakarta

Telepon/Faks : ( 021 ) 710 812

Web : www.majalah-girliezone.com

* Untuk mengirimkan naskah cerpen dapat langsung di-upload aja di www.majalah-girliezone.com


7. Kartini

Jl. Garuda No.80A, Kemayoran, Jakarta Pusat 10620

Telepon : ( 021 ) 4280-1905

Email : redaksi_kartini@yahoo.com

Web : www.kartinionline.com

* Majalah wanita

* Menerima kiriman cerpen dan cerber


8. Kawanku

Gedung Gramedia Majalah Lt.3, Jl. Panjang No.8A, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530

Telepon : ( 021 ) 533 0150

Email : cerpenkawanku@gmail.com

kawanku-mag@gramedia-majalah.com

* Menerima kiriman cerpen remaja, 6 – 8 halaman folio, ketik 2 spasi


9. Orbit

Gedung The Habibie Center, Jl. Kemang Selatan No. 98, Jakarta 12560

* Majalah Iptek anak

* Menerima kiriman cerpen

10. Story

Jl. Raya Kedoya Duri No.36, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11520

( PO BOX 6148 JKB 66 )

Telepon : ( 021 ) 5835 9108/ 5835 9112

Faks : ( 021 ) 5835 9094

Email : story_magazine@yahoo.com

* Majalah cerita remaja

* Menerima kiriman untuk :

* Cerpen = 8 – 10 halaman

* Cerber atau cerbung = 20 – 30 halaman

* Kissing / Kisah Singkat = sekitar 1 – 3 halaman ( khusus untuk penulis yang sedang belajar menulis )

* Novelett = 23 – 25 halaman

* Serial = Harus mengirimkan minimal 5 judul, sekitar 8 – 10 halaman

* Pusi = Khusus untuk murid sekolah

* Cerpen Berbahasa Inggris = sekitar 4 halaman, juga ada edisi untuk mentranslatenya

* Semua cerita harus bertema remaja dengan genre bebas ( horror, science fiction, romantis, komedi )

Kirimkan naskah melalui pos atau email.


11. Ummi

Jl. Mede No. 42A Utan Kayu, Kakarta Timur 13120

Telepon : ( 021v) 819 3242

Email : kru_ummi@yahoo.com

* Majalah dewasa/ keluarga islami

* Menerima kiriman cerpen. 8 folio, 2 spasi

* Menerima tulisan nonfiksi ringan untuk rubric Dunia Wanita dan Nuansa Kehidupan.


B. SURAT KABAR

1. Kompas

Jl. Palmerah Selatan 26 – 28, Jakarta 10270

Telepon : ( 021 ) 530 2200/ 534 7720

Email : kompas@kompas.com

Web : www.kompas.com

opini@kompas.com

* Menerima kiriman cerpen dan artikel


2. Media Indonesia

Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A – D Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat

Telepon : ( 021 ) 581 2088

Email : redaksi@mediaindonesia.com

Web : www.mediaindonesia.com

* Menerima kiriman cerpen dan artikel


3. Republika

Jl. Warung Buncit Raya No.37, Jakarta Selatan

Telepon : ( 021 ) 780 3747

Email : redaksionline@republika.co.id

Web : www.republika.co.id

* Menerima kiriman cerpen dan artikel


4. Seputar Indonesia

Menara Kebon Sirih Lt.22, Jl. Kebon Sirih Raya No. 17 – 19, Jakata 10340

Telepon : ( 021 ) 392 6955

Email : redaksi@seputar-indonesia.com

* Menerima kiriman artikel dan cerpen


C.TABLOID

1. Gaul

Jl.Kedoya Duri Raya No.36, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11520

Telepon : ( 021 )5835 9109

Email : tabloidgaul@yahoo.com

* Menerima kiriman cerpen teenlit. Maksimal 8 halaman folio dan 1,5 spasi


2. Keren Beken

Jl. Salemba Tengah No.58, Jakarta Pusat 10440

Telepon : ( 021 ) 230 6188

Email : aneka@indosat.net.id

Web : www.anekayess-online.com

* Menerima kiriman cerpen remaja. Panjang cerpen maksimal 7 halaman folio, 2 spasi


3. Teen

Jl. Guru Mughni No.2, Karet Kuningan, Jakarta Selatan 12940

Telepon : ( 021 ) 527 6325

* Menerima kiriman cerpen teenlit, maksimal 6 halaman

Sewaktu mengirimkan cerpen atau artikel anada jangan lupa mencantumkan identitas diri.

Semoga, bisa membantu ya…………

Salam Sukses

http://nuepoel.wordpress.com/2010/05/04/daftar-nama-majalah-surat-kabar-dan-tabloid/


Minggu, 08 Mei 2011

Sebuah Penantian

(Peringkat ke III cerpen Mini yang diadakan oleh Kak Hylla/WR04)
Ketika sebuah perasaan terlahir di dalam diri sebuah insan, akan terlahir pula banyak perasaan yang serupa namun sungguh tidak sama. Begitu yang ku rasakan. Enam tahun yang lalu aku menerima sebuah pernyataan cinta seorang lelaki yang kini menjadi pemilik tahta baris ke tiga di hatiku. Tentu saja, kedudukannya setelah Sang Pencipta, kedua orang tuaku dan keluargaku. Saat itu, aku berkenalan dengannya, ia dua tahun di atasku. Ia begitu baik dan terlihat amat penyayang. Membuatku tidak ragu menerimanya. Ia bernama Kian. Kisahku dengan Kian sudah tercipta sejak tahun pertamaku bersekolah berseragamkan putih abu-abu. Ia menyatakan cintanya padaku. Ia adalah lelaki pertama yang menyatakan cintanya padaku. Selama menjalin hubungan, Kian adalah lelaki yang nyaris sempurna. Perhatiannya, keistimewaan yang tiada tara tak segan ia berikan kepadaku.
“Saya suka tempe ini, dan juga suka kamu” Itulah kata-kata yang sempat membuat aliran darahku lebih cepat terpompa. Pernyataan cinta yang unik, namun begitu istimewa terucap di pojok kantin sekolah. Banyak kisah yang tercipta selama aku dekat dengannya. Namun di tahun pertama hubunganku dan Kian, Kian pindah bersama keluarganya ke luar kota. Sebuah kota yang terpisahkan pulau dari tempat tinggalku. Seketika hatiku ragu, mampukah aku mempertahankan perasaan ini.
***
“Bagaimana mungkin kamu lupa dengan hari jadi kita? Ini sudah tahun ke enam!” ucapku kecewa. Telpon genggam ku eratkan ke telingaku. Tanganku gemetar menanti jawabannya. Ia tidak terlalu menanggapi ucapanku.
“Jawab, Kian!”
“Sudahlah, pengganggu!” Kian mematikan saluran telponku. Aku kembali menghubunginya, tapi saluran itu selalu sibuk.
Ini adalah Kian yang sekarang. Aku tidak terlalu mengerti sesibuk apa ia. Aku merasakan hal yang aneh. Saat aku sudah benar-benar mencintainya, ia seakan menjauh. Ada sebuah komitmen yang ia katakan sebelum ia pergi. Kini ia telah sibuk dan melupakan semua komitmen yang ia ucapkan sendiri. Sebuah komitmen untuk tetap menjaga hubungan ini walaupun terpisah jarak yang jauh.
“Sudahlah, cari saja laki-laki lain. Kamu masih muda. Calon arsitek lagi,” itulah kalimat yang selalu di ucapkan oleh mama Rika, sahabatku. Memang sangat mudah berbicara seperti itu. Tapi semuanya sudah terlambat, perasaan ini sudah amat mendalam. Perasaan ini sudah terlanjur ku serahkan seutuhnya pada Kian yang kini tidak seperti dulu.
“Hari jadi kalian saja tak ia ingat. Apalagi komitmen kalian.” Sambung Rika. Aku membenarkan semua perkataannya. Sudah berulang kali aku membuka hati untuk lelaki lain, namun sungguh aku tidak bisa aku begitu saja menyerahkan hati dan perasaan ini untuk lelaki lain.
Aku menekan keypad telpon genggamku.
“Kian, jawab pertanyaanku. Apa kau masih ingat dengan perkataanmu dulu?” sebuah sms terkirim. Hanya kecanggihan teknologi ini yang menjadi temanku. Teknologi ini yang membuatku tetap mencintai Kian. Lama aku menunggu balasan itu, tak kunjung tiba. Namun saat aku sudah hampir melupakannya, dua getaran yang menunjukan sebuah pesan masuk terdengar. Aku membukanya dengan hati yang berdebar.
“Yang mana? Nanti ya sayang, lagi sibuk. Nanti malem saya telf ya. Miss You.”
Bukan jawaban yang ku harapkan. Namun aku berharap saat malam datang aku bisa mengungkapkan kegundahanku padanya. Aku terus menunggu handphoneku berdering. Tidak kunjung terdengar. Hingga malam semakin larut. Aku memutuskan untuk menelponnya. Namun hanya nada sambung yang terdengar, lama dan kemudian di akhiri dengan suara operator yang mengatakan saluran sedang sibuk.
“Apa kau lupa?” aku memilih untuk meng-smsnya kembali. Tidak ada jawaban. Ini bukan kali pertama ia melupakan janji yang ia buat.
Aku menyesali ini. Aku sungguh menyesali perasaan ini. Tangis yang panjang ini tidak akan ia anggap. Salahkah aku benar-benar mencintainya, Tuhan? Selama ini aku bersabar menunggunya menjemputku dengan kebahagiaan di akhir cerita. Namun saat ini, komitmen yang ia buat, hancur. Tidak ada lagi sebait kata cinta yang terurai. Semakin lama, justru aku semakin merasa tidak mengenalnya. Malam ini aku hanya bisa menatap bulan sabit yang melengkung, seolah menyuruhku untuk kembali tersenyum. Aku merindukannya. Sudah satu tahun aku tidak bertemu dengan Kian. Tahun kemarin ia datang menemuiku, itupun hanya beberapa hari dengan alasan ia sedang sibuk.
Saat jarum jam menunjukkan angka tepat jam 12, aku kembali berusaha menghubunginya. Kali ini telponku di jawab. Sebuah suara berat terdengar dari seberang.

Jumat, 15 April 2011

Elang

(Nominator LCR bulan maret)
Tidak banyak yang tahu siapa Elang sebenarnya. Elang adalah seorang teman satu sekolahku. Saat duduk di kelas satu dulu, ia pernah memenangkan berbagai lomba dan olimpiade. Tapi siapa sangka di balik kecemerlangannya itu, ia sudah berpuluh kali keluar masuk buku hitam, bahkan nyaris di keluarkan.
Aku kembali memperhatikannya, pagi ini ia kembali keluar dari ruang guru. Wajahnya sangat tidak memperlihatkan penyesalan sama sekali. Tentu saja, karena ini bukan kali pertama ia bermasalah dengan guru. Menurut gosip yang beredar, ia selalu bisa melontarkan alasan yang cerdas, sehingga guru selalu menyelamatkannya. Elang adalah sosok fenomenal menurutku dan menurut beberapa teman. Ia kerap menggumpalkan tangan dan mendaratkannya berkali-kali dengan kuat ke pipi lawannya. Namun, ia akan dengan santai mengerjakan soal fisika yang disajikan guru. Saat anak lain berkutat dengan kamus English-Indonesianya, Elang sudah berbicara dengan lancar di depan kelas.
“Kamu mengidolakan saya?” lamunanku buyar, ketika sebuah suara menegurku yang sedang asik membicarakan dirinya. Elang sudah duduk tepat di sampingku.
“Banyak manusia geer ya di dunia ini,” jawabku berusaha menutupi kebenaran ucapannya. Elang tersenyum. Sinis. “Sukma Indah,” mataku terbelalak. Dari mana ia mengenal namaku? Dari dulu kami tidak pernah satu kelas. Akupun bukan anak yang terkenal. “nice to meet you,” tutup Elang sambil meninggalkanku pergi. Aku berusaha menyadarkan apa yang baru saja ku alami. Aku baru saja berbicara dengan Elang! Tidak pernah ku melihat ia menegur seseorang, kecuali itu sangat penting. Bahkan baru kali ini aku mendengar suaranya. Ajaib!



Rabu, 19 Januari 2011

Rumah Siput


Rusmini memegang erat pergelangan tangan kiri anaknya. Anak lelaki berambut tipis itu terus mengikuti kemanapun Rusmini melangkah. Tak pernah ia mengeluh, atau bertanya hendak dibawa kemana ia dengan ibunya.
“ Ingat Satria, jangan sekali-kali melepaskan tangan ibu!” Peringat Rusmini untuk kesekian kalinya. Bocah 6 tahun itu hanya bisa mengangguk. Rusmini sangat tau, arti dari anggukan anaknya itu, “Ibu, hendak kemana lagi kita?”
Sudah satu jam mereka mengikuti alur troatoar di kota yang baru mereka datangi. Kota yang berbeda dari sebelumnya, bahkan kota ini lebih jauh dari kota sebelumnya, karena di pisahkan oleh hamparan lautan yang luas. Yah, Rusmini saat ini menginjakkan kakinya di Sumatra.
“Ini di mana ibu?” ucap Satria untuk pertama kali di kota barunya itu.
“Lampung.” Jawab Rusmini seadanya. Satria mengangguk-anggukan kepalanya lagi, “tadi kita naik kapal kan, Bu? Kenapa kita tidak pindah juga?”

Minggu, 22 Agustus 2010

Cerpen 'sederhana' Ramadhan ::: Annisa

Oleh : Thera Febrika NurFajri

Nama aku Annisa. Sebelumnya, aku bernama Christiani Laura. Mingkin sebagian orang bisa menebak, mengapa aku mengganti namaku menjadi Annisa. Namaku diberikan oleh Muhamad Al-Jazalli, mahasiswa asal kota Mexico yang juga kuliah di satu perguruan tinggi di sebuah negara tetangga, Belanda. Di kota kincir angin itu, aku menuntut ilmu selama lima tahun. Dua tahun terakhir, aku mendalami islam, dan tepat pada bulan Ramadhan tahun kemarin, aku menjadi seorang mualaf. Terdengar ganjil memang, aku mengenal islam justru ketika aku berada di negara yang tidak bermasyarakatkan mayoritas islam.
Akhirnya aku menginjakan kaki kembali di kota kelahiranku. Saat itu di depan Bandara Radin Inten, Lampung masih terlihat sepi. Berbeda dengan keadaan

Rabu, 31 Maret 2010

Bunga si Buaya

((Sedang di kirim ke Radar Lampung))
Hidup itu adalah bagaimana cara kita untuk menjalaninya. Warna yang akan kita temui adalah sebuah pilihan yang kita telah pilih. Begitu juga denganku. Aku memilih untuk hidup sendiri. Aku memiliki ayah, aku juga memiliki ibu, namun mereka sama seperti aku, hidup sendiri-sendiri. Selama pernikahan ayah dan ibu hanya memiliki satu anak. Setelah mereka memilih bercerai, mereka ribut memperebutkan aku. Pertengkaran semakin panjang dan rumit, keributan dimana-mana. Dirumah hingga di pengadilan agama. Aku sebagai orang yang diperebutkan tidak pernah ditanyakan, pada siapa aku ingin tinggal., maka dari itu, aku memilih untuk, pergi. Dengan bermodalkan uang 250ribu hasil tabunganku, ijazah SMP, akta kelahiran, foto copy kartu keluarga dan KTP, aku menyebrangi selat sunda. Yang memisahkan daerahku dengan tempat tinggalku sekarang. Tempat yang ku tau adalah ibu kota Indonesia. Yah, pengetahuanku yang saat itu yang baru saja lulus SMP adalah Jakarta. Dibenakku, Jakarta adalah kota yang banjir dengan pekerjaan dan kemewahan. Namun, impianku sirna ketika aku sampai di sebuah terminal bus tepat di kota Jakata. Bangunan pertama yang membuatku terpana adalah Monas!
Hidupku dimulai saat itu. Uangku habis tak bersisa untuk membayar uang untuk menyewa sebuah rumah yang sebenarnya bukan rumah.

Minggu, 24 Januari 2010

BPN ISMKI kembali mengadakan Lomba Jurnalistik



tema kali ini PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA

Jadwal kegiatan :
Pembukaan pendaftaran dan pengumpulan karya : 28 Desember 2009 s/d 21 februarii 2010
Penilaian karya oleh juri :21 Februari s/d 9 Maret 2010
Pengumuman pemenang : 11-12 Maret 2010

cp : Engga Demartha (FK UNAND) 081363333010

LOMBA :
essay, poster, puisi dan fotografi
Insert : Rp 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah)
di transfer ke :
BNI cabang UI Depok
0131623288
atas nama Selti Rosani

karya dikirim ke :
lombajurnalistik.bpnismki_2009@yahoo.co.id
dg menyertakan :
Nama:
FK :
Asal LPM :
Lembar bukti pembayaran (di scan)
dan nomor hape


Tema: Pandangan Mahasiswa terhadap penegakan Hukum di Indonesia
Sub tema:
1. Puisi
a. Hukum vs Keadilan

2. Poster
a. Pandangan mahasiswa terhadap penegak hukum di Indonesia

3. Essay
a. Sejauh mana hukum negeriku bertindak sbg pembela rakyat

4. Fotografi
a. Memoirs of Indonesian’s law 2009 (memoar law of indonesia in 2009)/ the law memoar of indonesia in 2009 (gak tau tulisan yg betul mana)


Insert peserta: 25rb

Persyaratan
Essay:
1. Setiap peserta diperbolehkan mengirim 2 (dua) artikel.
2. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan EYD yang benar, tidak vulgar, dan tidak mengandung SARA.
3. Panjang tulisan 5000-6000 karakter dengan ukuran kertas A4, diketik 1,5 spasi, font Times New Roman 12 pt, margin 4 cm batas kiri, 3 cm batas kanan, 3 cm batas atas, dan 3 cm batas bawah.
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Poster:
1. Peserta memilih 1 subtema yang disediakan
2. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 karya
3. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media (orisinil) dan belum pernah diperlombakan
4. Karya dikirim dalam format *.jpg
5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Puisi:
1. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim maksimal 2 karya
2. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media (orisinil) dan belum pernah diperlombakan
3. Karya dikirim dalam format *.doc
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Fotografi:
1. Masing-masing peserta dapat mengirim maksimal 2 karya
2. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media dan belum pernah diperlombakan
3. Bukan hasil editan aplikasi design graphic (Adobe Photoshop, Corel Photo-Paint,dll)
4. Karya dikirim dalam format *.jpg
5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Hadiah:
1. Essay:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
2. Poster:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat

3. Puisi:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat

4. Fotografi:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat

5. Total Hadiah :Rp 8.000.000.00

Ayo Berbisnis