Kamis, 06 Oktober 2011

Kala Senja


Segumpal rasa takut ini tidak bisa begitu saja retak dan hancur hanya dengan sebuah kata hiburan atau seuntai kata motivasi dari orang yang belum bear-benar memahami perasaan ini. Tentu saja mereka tidak akan dengan mudah merasakan apa yang ku rasa. Kala senja ini aku perlahan mulai merasa semakin kurang dapat melihat indahnya bunga, semerbaknya wangi bunga dan sedapnya rasa makanan.

Aku terigat pada Murni. Dia adalah wanita sempurna, yang masih ada utuh di relung hatiku. Aku megusap bingkai berisikan fotoku dengan Murni. Ia terlihat anggun di foto abu-abu yang sudah tergantug kurang lebih empat puluh tahun di kamarku. Setiap aku terjaga dari lelapku, aku akan menemukan wajah ayunya menyapaku dengan kehangatan yang dipancarkan hanya dengan senyuman manis fotonya. Cintaku padanya, abadi. Ini bukan rayuan gombal seperti pada saat aku dulu menggodaya pertama kali bertemu di sebuah jalan setapak yang meghubugkan kampungku dan kampungnya. Aku akan tersenyum mengingat semuanya.

“Murni, aku harap kau akan menungguku di sana,” bisikku pelan “apakah kau merindukanku, Murni?”

Murnilah yang selama ini menemaniku. Ia juga yang melahirkan dan mengasuh anak kami yang kini telah menjadi orang sukses dengan tulus.Anak kami bernama Duma, kini tentu saja ia sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin inilah karma, karena dulu Duma lebih banyak menghabiskan waktu bersama Murni, ibunya, bukan aku. Aku terlalu giat mencari nafkah, hingga aku hampir melupakan Duma. Tapi tidak apa-apa, aku tetap bersyukur sudah memiliki anak sepertinya.

Aku membuka sebuah kotak kayu kecil dengan pahatan sederhana yang membuatya menjadi cantik. Itu ku pahat sendiri dan ku berikan hanya untuk Murni. Saat itu Murni menggunakannya untuk menyimpan setumpuk surat-surat penting, termasuk di antaranya surat dariku. Murni memang wanita yang luar biasa. Ia bisa membuatku begitu memahami perwujudan cinta. Lama ku membuka lembar demi lembar surat-surat berkertas lusuh itu, hingga aku mendapatkan sebuah kertas yang sugguh sudah sangat rapuh. Tulisannya sudah menjadi coklat nyaris tidak dapat di baca.

Aku meraba kepalaku. Mencari kacamata yang biasanya ada di atas kepalaku. Tapi tidak ku temukan. Aku harus mencari kacamata itu. Aku sungguh ingin membaca surat ini. Tanpa kacamata, aku tidak akan bisa.

“Mukhlis,” mungkin ia tau. Mukhlis adalah seorang remaja yang dengan sabar menemaniku setelah jasad Murni tidak lagi kuat menunggangi berbagai peyakit. Ia di minta Duma untuk menemaniku. Mukhlis sudah ku aggap cucuku. Mungkin, anak sulung Duma kini sudah sebesar Mukhlis. Tapi sayang, Duma jarang mengantar anak sulungnya untuk menemuiku di sini. Mukhlis sangat cekatan dalam segala hal, ia seperti masa mudaku, bersemangat dalam segala hal, dan ia akan sangat cepat datang ketika aku memanggilnya “apa kau melihat kacamataku?”

“Kacamatanya sudah Mbah pakai, sebentar Mukhlis perbaiki.”

Aku tertegun. Ini yang ku takutkan. Karena bagaimanapun, aku akan ada pada masa di mana aku melupakan semua, aku akan melalaikan apa yang ku punya. Aku akan semakin renta hingga kemudian akan tumbang dengan sendirinya. Namun, itulah hidup.

“Terimakasih, Cu.”

“Apa perlu Mukhlis bacakan Mbah?” tayanya. Aku terdiam. Tulisan itu memang terlihat remang. Kertasnyapun bergetar karena tremor[1] di tanganku membuatku sulit membaca tulisan-tulisan itu. Aku mengangguk, setelah aku yakini aku membutuhkan semua.

“Ini adalah surat Mbah Kakung untuk almarhum Mbah Putri, jadi baca baik-baik, dengan perasaan.”

“Nona Manis di kampung sebrang...” Mukhlis mulai membaca tulisanku, “Ini ku berikan bersamaan dengan seberkas perasaan yang membuatku mampu menahan kantukku hanya untuk mengingatmu. Hai Nona, siapa gerangan dirimu? Nan bercahaya bagai lentera penghias hatiku.

Nona, adakah hatimu sudah termiliki? Masih adakah kesempatanku untuk memilikinya?”

Aku melihat besitan senyum dari mulut anak remaja di hadapanku. Tentu saja, masanya kini adalah masa seperti yang sedang ku alami saat menulis surat itu untuk Murni. Masa pengenalan cinta.

“Mbah, usia berapa Mbah menikah?” pertanyaan yang sama pernah ku lontarkan pada ayahku dulu saat aku ingin meminang Murni. Aku berusaha mengingatnya. Aku tidak bisa megingatnya lagi, kepala ini tidak akan menemukan jawaban segiat apapun ia berusaha mengingat.

“Mbah lupa, tapi Mbah dulu masih sangat tampan. Bahkan kau kalah denganku dulu.” Aku menjawab seadanya. Mukhlis terseyum. Duma memang anak baik, ia tidak salah orang untuk merawatku. Walaupun sebenarnya, aku sungguh merindukan Duma membawa serta cucu-cucuku untuk menemai masa senja, sebelum akhirnya malam tiba dan aku tidak ada lagi bersama mereka.

***

Duma adalah hadiah yang berharga, ia begitu membuatku dan Murni menangis bersyukur. Saat tangisnya pecah riuh terdengar. Hatiku tak henti mengucap syukur. Berbagai nama telah ku persiapkan dengan berjuta makna untuk bekal masa depannya. Kumandang adzan ku perdengarkan di telinga kanannya agar ia selalu mengingat Allah dan taat beribadah. Begitu pula saat ia tumbuh, aku dan Murni tidak akan melewati mengamati masa pertumbuhannya.

Aku melihat sebuah bingkai yang terpaku di dinding kamarku, aku beranjak bangun dari kursi beroda pemberian Duma. Tidak akan mampu ku raih foto itu bila aku tetap duduk. Tapi kakiku begitu lemas. Saat menopang tubuhku, aku merasakan ketidak berdayaan yang teramat. Akhirnya, aku tersungkur mencium lantai.

“Mukhlis, tolong,” aku berusaha bangkit, tapi usahaku tidak membuahkan hasil.

“Ya ampun Mbah. Mbah tidak apa-apa, toh? Ada yang bisa Mukhlis bantu?” Mukhlis terlihat begitu khawatir, ia membantuku kembali duduk di kursi rodaku.

Aku menggeleng. Aku mengendurkan niatku meraih bingkai foto itu. Sebuah bingkai berisikan foto Duma saat ia masih kecil. Seandainya di sini ada Duma. Aku akan memintanya membantuku untuk kembali dapat berjalan. Sejak aku terjatuh dan tidak bisa berjalan, ia nyaris tidak pernah menemuiku. Aku teringat, saat Duma baru mulai belajar berjalan, aku akan mentitahnya, dan ku ajak keliling kampung. Sebentar-bentar, akan ada tetangga yang dengan gemas mencubit pipinya yang tembam menggemaskan. Mungkinkah, suatu hari nanti ia datang untuk mengajariku berjalan kembali?

Tidak terasa aku meneteskan air mata. Tidak kuasaku menahan rasa rindu ini. Sudah lama punggung tangan ini tidak di cium. Terakhir, tiga bulan lalu, saat ia mengambil berkas-berkasnya yang tertiggal untuk mendaftarkan anak sulugnya ke SMA. Ia mencium tanganku untuk berpamitan pulang.

“Semoga kau dan keluargamu selalu dalam lindungannya, Nak.” Ketika aku mengucapkan sebuah doa, rasa rindu itu perlahan akan meluntur. Aku percaya, Tuhan akan senantiasa menjaganya dalam segala keadaan.

***

“Ayah bangun! Mengapa kencing di celana, sih! Seperti anak bayi saja!”

aku terbangun ketika ada bentakan keras. Suara Duma. Ya, Duma datang!

“Duma, kau datang, Nak?”

“Ganti celana dulu, Yah. Jangan menemui Prita dan Clara dalam keadaan seperti ini,” Duma menunjuk celanaku yang basah kuyup karena kencingku.

“Biar, Mukhlis bantu, Mbah.” Mukhlis yang mendengar mendekatiku. Sementara Duma keluar dari kamarku dengan menutup hidungnya dengan sapu tangan, ia terlihat sangat jijik dengan perbuatan memalukan yang tidak ku sadari itu.

Nak, sehina itukah aku? Dulu, aku yang membersihkan kotoranmu. Aku yang mencucinya. Bantu aku, Nak. Mengapa harus Mukhlis? Salahkah aku mendidikmu?” ucapku dalam hati. Aku berusaha menahan kekecewaanku. Mungkin Duma sedang sensitif karena pekerjaannya yang menumpuk.

“Duma,” panggilku setelah aku merasa sudah layak bertemu dengannya. Duma yang sedang menerima telepon tidak menggubris panggilanku. Yang datang haya Clara, anak bungsunya yang baru mulai bisa berjalan menghampiriku. Aku memeluknya, erat sekali. Ini kali pertama aku memeluk erat cucuku. Cucu sulungkupun tidak pernah ku dekap. Duma selalu melarangnya datang menemuiku, karena alasan kesehatannya tidak baik, sehingga tidak boleh berjalan jauh. Alasan klise yang tidak masuk di akal. Seandainya, mereka sejenak saja ada di dekatku. Aku ingin saat itu juga mati, aku igin pergi di tengah kehangatan keluargaku.

“Prita, bawa Clara masuk ke mobil. Kita akan pulang.” Duma memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celananya dan meminta istrinya untuk bergegas pergi. Mimpi indah ini akan segera berakhir. Begitu cepat. Aku masih ingin memeluk Clara, aku masih ingin bercerita banyak dengan Duma.

“Bermalam di sini saja. Kasihan Clara...” aku berusaha menahan Duma.

“Kami masih banyak pekerjaan. Jangan manja, Yah. Kami haya mampir sebentar untuk memberi Mukhlis gaji dan uang bulanan untuk Ayah.” Jawaban Duma membuat dadaku nyeri. Hanya untuk itu? Apakah kau tidak merindukanku, Nak? “Duma...” Tidak mungkin lagi aku berkata-kata tegas untuk memarahinya. Ia sudah dewasa untuk memahami semua. Ia juga kini sudah menjadi ayah dan harus mejalani kewajibannya.

“Ayah, aku pamit pulang. Mukhlis, jaga Ayah baik-baik. Kalau uang untuk keperluannya habis segera hubungi saya.”

Aku tau, Duma sebenarnya anak yang baik. Ia masih memikirkanku. Walaupun tidak secara langsung, aku tau ia mengkhawatirkanku.

“Hati-hati, Nak.” Ucapku pelan karena Duma sudah terlanjur masuk ke mobilnya dan kembali pergi. Hari ini aku kembali sendiri. Mukhlis menghapus air mataku. Aku tertegun.

***

Malam sudah sangat larut. Tiba-tiba, tenggorokanku terasa sangat kering. Badanku sulit ku gerakkan. Dadaku sesak dan sangat sakit, kepalaku berat. Inginku berteriak memanggil Mukhlis. Tapi, aku tak mampu. Berulang kali ku coba. Tapi gagal. Dadaku seperti terbakar, panas sekali. Mungkin, ini adalah saat di mana mentari senjaku akan terbenam dan berganti dengan malam yang semoga akan menenangkan. Semakin lama, dadaku semakin sakit, nafasku sesak terhimpit. Semua tidak lama, aku merasa tubuhku begitu ringan setelah itu.

“Murni, sebentar lagi aku akan bersamamu... Kekal abadi, selamanya, meninggalkan semua kepenatan yang ku temui di penghujung hidupku....” Dengan senyuman aku pergi, aku merasakan ketenangan yang tidak ku temukan di kala senjaku.

Selesai


[1] Tremor adalah getaran tidak terkotrol. Bisa pada tangan atau anggota tubuh lain.

Selasa, 26 Juli 2011

Buku-Kumpulan Cerpen Writing Revolution


Deskripsi:

Antologi “Wajah Wajah Kayu Bapak” adalah kumpulan 30 nominator Lomba Cerpen Remaja 2011 yang diadakan oleh Writing Revolution. Dalam antologi ini, total berjumlah 32 cerpen, 30 cerpen nominator dan 2 cerpen dari dewan juri. Cerpen-cerpen dalam buku ini mengusung tema remaja dengan berbagai aspek permasalahan yang dihadapinya. Juga ada beberapa cerpen yang mengangkat tema lokalitas, isu masyarakat urban, pencarian jati diri, dan cinta.

Topik yang diangkat sangat menarik dan relevan dengan kondisi di lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam buku ini, disuguhkan banyak aspek dari kehidupan dunia remaja. Yang bagaimanapun ternyata sangat kompleks. Hal ini sangat terkait dengan fase pertumbuhan mereka yang sedang mencari jatidiri. Poin menariknya, sebagian besar cerpen ini ditulis oleh penulis yang masih terbilang remaja. Sehingga mereka bisa mendefenisikan dengan baik gejolak remaja yang sedang mereka alami. Tentu hal ini semakin menguatkan posisi tawar cerpen ini dan layak untuk dibaca

Cerpen-cerpen keren para Nominator Lomba Cerpen Remaja WR dalam buku ini:

1) Kun Sila Ananda (WR 01)
2) Fatih Faith (WR 04)
3) Zee Zahrotusti'anah (WR 01)
4) Addien Sjafar Qurnia (WR 04)
5) Sri Wahyuti (WR 02)
6) Mega Anindyawati (WR 02)
7) Él Éyrà (WR 06)
8) Yulina Trihaningsih (WR 06)
9) Ir-one Sandza (WR 02)
10) Muhammad Arif Budiman (WR 04)
11) Tiya Maulida 'khaylila' Radam (WR 02)
12) Najma Amania (Cucun Naizari) (WR 02)
13) Agrifina Helga (WR 05)
14) Rik Sjp (WR 01)
15) Mardiana Yunianto (WR 03)
16) Puan Murhijriatul (WR 02)
17) Thera Febrika Nur Fajri (WR 04)
18) Azalea Putri (WR 01)
19) Sugeng Sentoso (KMC Pekanbaru)
20) Prima Sagita (WR 01)
21) Andri Surya (WR 01)
22) Riri Maretta (WR 02)
23) Yazmin Aisyah (WR 02)
24) Kinoy Raomi (WR 02)
25) Bella Octaviana (WR 01)
26) Kartika Hidayati (WR 02)
27) Yelfi Rahmi (KMC Pekanbaru)
28) Phoenix Wibowo (WR 01)
29) Loli Febriyeni (KMC Pekanbaru)
30) Annisa Rizky Andina) (WR 04)


Keterangan Buku:
Judul : Wajah Wajah Kayu Bapak, Antologi Pemenangan Lomba Cerpen Remaja Nasional Writing Revolution, 2011
Penulis: Silananda, dkk
Terbit: Juli 2011
Tebal: 198 halaman
Penerbit: Leutikaprio
Harga: Rp. 42.000,00
ISBN: 978-602-225-040-1
Ongkos Kirim: Rp 10.000,- (Pulau Jawa) dan Rp 15.000 (luar Pulau Jawa)

Cara Pembelian:
Transfer uang pembelian termasuk ongkir: Rp 52.000 (Pulau Jawa) atau Rp 57.000,- (Luar Pulau Jawa) ke rekening LeutikaPrio:
*Bank BNI: 0211238297, an. ROCHMAWATI, SE
*Bank Central Asia (BCA): 8610169041, an. ROCHMAWATI
*Bank Mandiri: 1370007536226, an. ROCHMAWATI
*BANK SYARIAH MANDIRI (BSM): 0947033820, an. ROCHMAWATI

Kemudian SMS data pembelian buku kamu ke nomor 0821 38 388 988 atau bisa kirim ke PESAN Facebook Leutika Prio (tulis judul "PESAN BUKU") yang berisi:

Jumlah transfer # ke rekening Leutikaprio yang mana (BCA/MANDIRI/BNI/BSM) # tanggal transfer # Judul Buku yang Dipesan # Nama Lengkap # Alamat Lengkap (sampai pos/Tiki) # nomor HP/telpon.
(*mohon data ini diisi dengan lengkap supaya selamat sampai alamat.


(Kalau ada yang berminat tapi ada kendala, bisa melalui Thera, nanti di bantu)
Bisa menghubungi Thera di nomor HP (085769600223) atau PIN BB 277E52A1

Selasa, 12 Juli 2011

Siapa Aku

Aku bersembunyi di sela benderang
Aku menangis di tengah hujan
Aku tertawa di antara kegelapan
Bias pilu menggelitik ketenangan

Siapa aku?
Makhluk berselimutkan dusta
Meniti sebuah langkah berdebu
Tanpa tahu di mana aku berlabu

Terhempas jiwa nan menawan
Bukan, itu bukan aku
Terbias senyum meniti
Bukan, itu juga bukan aku

Lalu, siapa aku?

Senin, 04 Juli 2011

LMCR-2011 ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD 2011 Total Hadiah Rp 95 Juta!!!!

Lomba Menulis Fiksi Paling Bergengsi

LMCR

KEMBALI MENGUNDANG ANDA UNTUK BERPRESTASI

Raih Hadiah Total Rp 95 Juta

Syarat-Syarat Lomba

Lomba ini terbuka untuk pelajar SLTP (Kategori A), SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia atau mereka yang sedang studi/bertugas di luar negeri

Lomba dibuka 21 April 2011 dan ditutup 21 September 2011 (stempel pos)

Tema Cerita: Dunia remaja dan segala aspek serta aneka rona kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, kekecewaan, harapan, kegagalan, cita-cita, persahabatan, pengalaman unik, petulangan maupun perjuangan hidup)

Judul bebas, tetapi mengacu pada tema Butir 3

Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul. Judul boleh menggunakan bahasa asing

Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar dan indah (literer). Bahasa daerah, bahasa prokem, bahasa gaul dan bahasa asing boleh digunakan untuk dialog (bukan narasi)

Naskah yang dilombakan harus asli, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan

Ketentuan naskah:

Ditulis di atas kertas ukuran kuarto atau A-4, ditik berjarak spasi 1,5 spasi, huruf 12 font Times New Roman, margin kiri-kanan rata maksimal 3Cm

Panjang naskah 6 (enam) – 10 (sepuluh) halaman, diprint 3 (tiga) rangkap (copy) disertai file dalam CD

Naskah disertai sinopsis, biodata singkat pengarang dan foto dalam pose bebas ukuran postcard. Lampiran lainnya: Fotocopy KTP/SIM atau Kartu Pelajar/Mahasiswa dan Kartu Keluarga (pilih salah satu)

Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri 1 (satu) kemasan LIP ICE jenis atau saja atau segel SELSUN jenis apa saja

Naskah yang dilombakan beserta lampirannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup, cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2011 sesuai dengan kategorinya pada bagian kanan atas amplop

Naskah dan persyaratan (Butir e) dikirim ke alamat:

Panitia LMCR-2011 ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD

Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City

Bogor 16810 – Jawa Barat

Hasil lomba diumumkan 15 Oktober 2011 melalui website: www.rayakultura.net danwww.rohto.co.id

Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat

Naskah yang masuk ke Kotak Pos Panitia LMCR-2011 menjadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya

Informasi lebih lanjut silakan e-mail ke: lmcr.kelima@gmail.com

Hasil Lomba dan Hadiah Untuk Para Pemenang

Pajak hadiah para pemenang ditanggung PT ROHTO Laboratories Indonesia

Kategori A (Pelajar SLTP)

Pemenang I – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD

Pemenang II – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

Pemenang III – Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

5 (lima) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

15 (lima belas) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1 (satu) Unit TV

Kategori B (Pelajar SLTA)

Pemenang I – Uang Tunai Rp 5.000.000,- + ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD

Pemenang II – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

Pemenang III – Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

5 (lima) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

15 (lima belas) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dari PT ROHTO + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

50 (lima puluh) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

Sekolah Pemenang I, II dan III berhak mendapat 1(satu) Unit TV

Kategori C (Mahasiswa/Guru/Umum)

Pemenang I – Uang Tunai Rp 7.000.000,- + ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD

Pemenang II – Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

Pemenang III – Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

20 (dua puluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Bingkisan dariPT ROHTO + Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

200 (dua ratus) Pemenang Karya Favorit masing-masing mendapat Piagam ROHTO-MENTHOLATUM

Seluruh pemenang mendapat Antologi LMCR-2011 dan Buku TELAGA INSPIRASI MENULIS FIKSI karya Naning Pranoto

Media Yang Menerima Karya

A. MAJALAH


1. Alia

Karindra Plaza Blok B – 1 No.6, Jl. Karang TengaH Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan

Telepon : ( 021 ) 750 5886

Faks : ( 021 ) 750 6004

Email : majalah_alia@yahoo.com

* Majalah dewasa/ keluarga Islami

* Menerima Kiriman cerpen


2. Aneka Yess

Jl.Salemba Tengah No.58, Jakarta Pusat 10440

Telepon : ( 021 ) 230 6188

Email : aneka@indosat.net.id

Web : www.anekayaess-online.com

* Menerima Kiriman cerpen remaja. Panjang cerpen maksimal 7 halaman folio, ketik 2 spasi.


3. Bobo

Gedung Gramedia Majalah Lt.4, Jl.Panjang No.8A, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530

Telepon : ( 021 ) 533 0150/533 0170

Email : bobonet@gramedia-majalah.com

* Majalah anak anak ( usia SD )

* Menerima kiriman majalah cerpen dan dongeng


4. Femina

Jl. H.R Rasuna Said Blok B Kav. 32 – 33, Jakarta Selatan 12910

Telepon : ( 021 ) 525 3816

Email : redaksi@feminagroup.com

Web : www.femina-online.com

* Majalah wanita dewasa

* Menerima cerpen, 6 – 8 halaman kuarto, ketik 2 spasi


5. Gadis

Jl. HR Rasuna Said Blok B Kav 32 – 33, Jakarta 12910

Telepon : ( 021 ) 525 3816 / 520 9370

Faks : ( 021 ) 520 9366

Email : info@gadis-online.com

* Menerima cerpen remaja, 6 – 7 halaman folio, ketik 2 spasi

* Rubrik percikan/cerpen mini, 2 halaman folio, 2 spasi


6. Girliezone

Jl. Apel II No.30, Jajar Laweya, Surakarta

Telepon/Faks : ( 021 ) 710 812

Web : www.majalah-girliezone.com

* Untuk mengirimkan naskah cerpen dapat langsung di-upload aja di www.majalah-girliezone.com


7. Kartini

Jl. Garuda No.80A, Kemayoran, Jakarta Pusat 10620

Telepon : ( 021 ) 4280-1905

Email : redaksi_kartini@yahoo.com

Web : www.kartinionline.com

* Majalah wanita

* Menerima kiriman cerpen dan cerber


8. Kawanku

Gedung Gramedia Majalah Lt.3, Jl. Panjang No.8A, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11530

Telepon : ( 021 ) 533 0150

Email : cerpenkawanku@gmail.com

kawanku-mag@gramedia-majalah.com

* Menerima kiriman cerpen remaja, 6 – 8 halaman folio, ketik 2 spasi


9. Orbit

Gedung The Habibie Center, Jl. Kemang Selatan No. 98, Jakarta 12560

* Majalah Iptek anak

* Menerima kiriman cerpen

10. Story

Jl. Raya Kedoya Duri No.36, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11520

( PO BOX 6148 JKB 66 )

Telepon : ( 021 ) 5835 9108/ 5835 9112

Faks : ( 021 ) 5835 9094

Email : story_magazine@yahoo.com

* Majalah cerita remaja

* Menerima kiriman untuk :

* Cerpen = 8 – 10 halaman

* Cerber atau cerbung = 20 – 30 halaman

* Kissing / Kisah Singkat = sekitar 1 – 3 halaman ( khusus untuk penulis yang sedang belajar menulis )

* Novelett = 23 – 25 halaman

* Serial = Harus mengirimkan minimal 5 judul, sekitar 8 – 10 halaman

* Pusi = Khusus untuk murid sekolah

* Cerpen Berbahasa Inggris = sekitar 4 halaman, juga ada edisi untuk mentranslatenya

* Semua cerita harus bertema remaja dengan genre bebas ( horror, science fiction, romantis, komedi )

Kirimkan naskah melalui pos atau email.


11. Ummi

Jl. Mede No. 42A Utan Kayu, Kakarta Timur 13120

Telepon : ( 021v) 819 3242

Email : kru_ummi@yahoo.com

* Majalah dewasa/ keluarga islami

* Menerima kiriman cerpen. 8 folio, 2 spasi

* Menerima tulisan nonfiksi ringan untuk rubric Dunia Wanita dan Nuansa Kehidupan.


B. SURAT KABAR

1. Kompas

Jl. Palmerah Selatan 26 – 28, Jakarta 10270

Telepon : ( 021 ) 530 2200/ 534 7720

Email : kompas@kompas.com

Web : www.kompas.com

opini@kompas.com

* Menerima kiriman cerpen dan artikel


2. Media Indonesia

Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A – D Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat

Telepon : ( 021 ) 581 2088

Email : redaksi@mediaindonesia.com

Web : www.mediaindonesia.com

* Menerima kiriman cerpen dan artikel


3. Republika

Jl. Warung Buncit Raya No.37, Jakarta Selatan

Telepon : ( 021 ) 780 3747

Email : redaksionline@republika.co.id

Web : www.republika.co.id

* Menerima kiriman cerpen dan artikel


4. Seputar Indonesia

Menara Kebon Sirih Lt.22, Jl. Kebon Sirih Raya No. 17 – 19, Jakata 10340

Telepon : ( 021 ) 392 6955

Email : redaksi@seputar-indonesia.com

* Menerima kiriman artikel dan cerpen


C.TABLOID

1. Gaul

Jl.Kedoya Duri Raya No.36, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11520

Telepon : ( 021 )5835 9109

Email : tabloidgaul@yahoo.com

* Menerima kiriman cerpen teenlit. Maksimal 8 halaman folio dan 1,5 spasi


2. Keren Beken

Jl. Salemba Tengah No.58, Jakarta Pusat 10440

Telepon : ( 021 ) 230 6188

Email : aneka@indosat.net.id

Web : www.anekayess-online.com

* Menerima kiriman cerpen remaja. Panjang cerpen maksimal 7 halaman folio, 2 spasi


3. Teen

Jl. Guru Mughni No.2, Karet Kuningan, Jakarta Selatan 12940

Telepon : ( 021 ) 527 6325

* Menerima kiriman cerpen teenlit, maksimal 6 halaman

Sewaktu mengirimkan cerpen atau artikel anada jangan lupa mencantumkan identitas diri.

Semoga, bisa membantu ya…………

Salam Sukses

http://nuepoel.wordpress.com/2010/05/04/daftar-nama-majalah-surat-kabar-dan-tabloid/


Minggu, 08 Mei 2011

Sebuah Penantian

(Peringkat ke III cerpen Mini yang diadakan oleh Kak Hylla/WR04)
Ketika sebuah perasaan terlahir di dalam diri sebuah insan, akan terlahir pula banyak perasaan yang serupa namun sungguh tidak sama. Begitu yang ku rasakan. Enam tahun yang lalu aku menerima sebuah pernyataan cinta seorang lelaki yang kini menjadi pemilik tahta baris ke tiga di hatiku. Tentu saja, kedudukannya setelah Sang Pencipta, kedua orang tuaku dan keluargaku. Saat itu, aku berkenalan dengannya, ia dua tahun di atasku. Ia begitu baik dan terlihat amat penyayang. Membuatku tidak ragu menerimanya. Ia bernama Kian. Kisahku dengan Kian sudah tercipta sejak tahun pertamaku bersekolah berseragamkan putih abu-abu. Ia menyatakan cintanya padaku. Ia adalah lelaki pertama yang menyatakan cintanya padaku. Selama menjalin hubungan, Kian adalah lelaki yang nyaris sempurna. Perhatiannya, keistimewaan yang tiada tara tak segan ia berikan kepadaku.
“Saya suka tempe ini, dan juga suka kamu” Itulah kata-kata yang sempat membuat aliran darahku lebih cepat terpompa. Pernyataan cinta yang unik, namun begitu istimewa terucap di pojok kantin sekolah. Banyak kisah yang tercipta selama aku dekat dengannya. Namun di tahun pertama hubunganku dan Kian, Kian pindah bersama keluarganya ke luar kota. Sebuah kota yang terpisahkan pulau dari tempat tinggalku. Seketika hatiku ragu, mampukah aku mempertahankan perasaan ini.
***
“Bagaimana mungkin kamu lupa dengan hari jadi kita? Ini sudah tahun ke enam!” ucapku kecewa. Telpon genggam ku eratkan ke telingaku. Tanganku gemetar menanti jawabannya. Ia tidak terlalu menanggapi ucapanku.
“Jawab, Kian!”
“Sudahlah, pengganggu!” Kian mematikan saluran telponku. Aku kembali menghubunginya, tapi saluran itu selalu sibuk.
Ini adalah Kian yang sekarang. Aku tidak terlalu mengerti sesibuk apa ia. Aku merasakan hal yang aneh. Saat aku sudah benar-benar mencintainya, ia seakan menjauh. Ada sebuah komitmen yang ia katakan sebelum ia pergi. Kini ia telah sibuk dan melupakan semua komitmen yang ia ucapkan sendiri. Sebuah komitmen untuk tetap menjaga hubungan ini walaupun terpisah jarak yang jauh.
“Sudahlah, cari saja laki-laki lain. Kamu masih muda. Calon arsitek lagi,” itulah kalimat yang selalu di ucapkan oleh mama Rika, sahabatku. Memang sangat mudah berbicara seperti itu. Tapi semuanya sudah terlambat, perasaan ini sudah amat mendalam. Perasaan ini sudah terlanjur ku serahkan seutuhnya pada Kian yang kini tidak seperti dulu.
“Hari jadi kalian saja tak ia ingat. Apalagi komitmen kalian.” Sambung Rika. Aku membenarkan semua perkataannya. Sudah berulang kali aku membuka hati untuk lelaki lain, namun sungguh aku tidak bisa aku begitu saja menyerahkan hati dan perasaan ini untuk lelaki lain.
Aku menekan keypad telpon genggamku.
“Kian, jawab pertanyaanku. Apa kau masih ingat dengan perkataanmu dulu?” sebuah sms terkirim. Hanya kecanggihan teknologi ini yang menjadi temanku. Teknologi ini yang membuatku tetap mencintai Kian. Lama aku menunggu balasan itu, tak kunjung tiba. Namun saat aku sudah hampir melupakannya, dua getaran yang menunjukan sebuah pesan masuk terdengar. Aku membukanya dengan hati yang berdebar.
“Yang mana? Nanti ya sayang, lagi sibuk. Nanti malem saya telf ya. Miss You.”
Bukan jawaban yang ku harapkan. Namun aku berharap saat malam datang aku bisa mengungkapkan kegundahanku padanya. Aku terus menunggu handphoneku berdering. Tidak kunjung terdengar. Hingga malam semakin larut. Aku memutuskan untuk menelponnya. Namun hanya nada sambung yang terdengar, lama dan kemudian di akhiri dengan suara operator yang mengatakan saluran sedang sibuk.
“Apa kau lupa?” aku memilih untuk meng-smsnya kembali. Tidak ada jawaban. Ini bukan kali pertama ia melupakan janji yang ia buat.
Aku menyesali ini. Aku sungguh menyesali perasaan ini. Tangis yang panjang ini tidak akan ia anggap. Salahkah aku benar-benar mencintainya, Tuhan? Selama ini aku bersabar menunggunya menjemputku dengan kebahagiaan di akhir cerita. Namun saat ini, komitmen yang ia buat, hancur. Tidak ada lagi sebait kata cinta yang terurai. Semakin lama, justru aku semakin merasa tidak mengenalnya. Malam ini aku hanya bisa menatap bulan sabit yang melengkung, seolah menyuruhku untuk kembali tersenyum. Aku merindukannya. Sudah satu tahun aku tidak bertemu dengan Kian. Tahun kemarin ia datang menemuiku, itupun hanya beberapa hari dengan alasan ia sedang sibuk.
Saat jarum jam menunjukkan angka tepat jam 12, aku kembali berusaha menghubunginya. Kali ini telponku di jawab. Sebuah suara berat terdengar dari seberang.

Jumat, 15 April 2011

Elang

(Nominator LCR bulan maret)
Tidak banyak yang tahu siapa Elang sebenarnya. Elang adalah seorang teman satu sekolahku. Saat duduk di kelas satu dulu, ia pernah memenangkan berbagai lomba dan olimpiade. Tapi siapa sangka di balik kecemerlangannya itu, ia sudah berpuluh kali keluar masuk buku hitam, bahkan nyaris di keluarkan.
Aku kembali memperhatikannya, pagi ini ia kembali keluar dari ruang guru. Wajahnya sangat tidak memperlihatkan penyesalan sama sekali. Tentu saja, karena ini bukan kali pertama ia bermasalah dengan guru. Menurut gosip yang beredar, ia selalu bisa melontarkan alasan yang cerdas, sehingga guru selalu menyelamatkannya. Elang adalah sosok fenomenal menurutku dan menurut beberapa teman. Ia kerap menggumpalkan tangan dan mendaratkannya berkali-kali dengan kuat ke pipi lawannya. Namun, ia akan dengan santai mengerjakan soal fisika yang disajikan guru. Saat anak lain berkutat dengan kamus English-Indonesianya, Elang sudah berbicara dengan lancar di depan kelas.
“Kamu mengidolakan saya?” lamunanku buyar, ketika sebuah suara menegurku yang sedang asik membicarakan dirinya. Elang sudah duduk tepat di sampingku.
“Banyak manusia geer ya di dunia ini,” jawabku berusaha menutupi kebenaran ucapannya. Elang tersenyum. Sinis. “Sukma Indah,” mataku terbelalak. Dari mana ia mengenal namaku? Dari dulu kami tidak pernah satu kelas. Akupun bukan anak yang terkenal. “nice to meet you,” tutup Elang sambil meninggalkanku pergi. Aku berusaha menyadarkan apa yang baru saja ku alami. Aku baru saja berbicara dengan Elang! Tidak pernah ku melihat ia menegur seseorang, kecuali itu sangat penting. Bahkan baru kali ini aku mendengar suaranya. Ajaib!



Ayo Berbisnis