((Sedang di kirim ke Radar Lampung))
Hidup itu adalah bagaimana cara kita untuk menjalaninya. Warna yang akan kita temui adalah sebuah pilihan yang kita telah pilih. Begitu juga denganku. Aku memilih untuk hidup sendiri. Aku memiliki ayah, aku juga memiliki ibu, namun mereka sama seperti aku, hidup sendiri-sendiri. Selama pernikahan ayah dan ibu hanya memiliki satu anak. Setelah mereka memilih bercerai, mereka ribut memperebutkan aku. Pertengkaran semakin panjang dan rumit, keributan dimana-mana. Dirumah hingga di pengadilan agama. Aku sebagai orang yang diperebutkan tidak pernah ditanyakan, pada siapa aku ingin tinggal., maka dari itu, aku memilih untuk, pergi. Dengan bermodalkan uang 250ribu hasil tabunganku, ijazah SMP, akta kelahiran, foto copy kartu keluarga dan KTP, aku menyebrangi selat sunda. Yang memisahkan daerahku dengan tempat tinggalku sekarang. Tempat yang ku tau adalah ibu kota Indonesia. Yah, pengetahuanku yang saat itu yang baru saja lulus SMP adalah Jakarta. Dibenakku, Jakarta adalah kota yang banjir dengan pekerjaan dan kemewahan. Namun, impianku sirna ketika aku sampai di sebuah terminal bus tepat di kota Jakata. Bangunan pertama yang membuatku terpana adalah Monas!
Hidupku dimulai saat itu. Uangku habis tak bersisa untuk membayar uang untuk menyewa sebuah rumah yang sebenarnya bukan rumah.
skip to main |
skip to sidebar

tema kali ini PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA
Jadwal kegiatan :
Pembukaan pendaftaran dan pengumpulan karya : 28 Desember 2009 s/d 21 februarii 2010
Penilaian karya oleh juri :21 Februari s/d 9 Maret 2010
Pengumuman pemenang : 11-12 Maret 2010
cp : Engga Demartha (FK UNAND) 081363333010
LOMBA :
essay, poster, puisi dan fotografi
Insert : Rp 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah)
di transfer ke :
BNI cabang UI Depok
0131623288
atas nama Selti Rosani
karya dikirim ke :
lombajurnalistik.bpnismki_2009@yahoo.co.id
dg menyertakan :
Nama:
FK :
Asal LPM :
Lembar bukti pembayaran (di scan)
dan nomor hape
Tema: Pandangan Mahasiswa terhadap penegakan Hukum di Indonesia
Sub tema:
1. Puisi
a. Hukum vs Keadilan
2. Poster
a. Pandangan mahasiswa terhadap penegak hukum di Indonesia
3. Essay
a. Sejauh mana hukum negeriku bertindak sbg pembela rakyat
4. Fotografi
a. Memoirs of Indonesian’s law 2009 (memoar law of indonesia in 2009)/ the law memoar of indonesia in 2009 (gak tau tulisan yg betul mana)
Insert peserta: 25rb
Persyaratan
Essay:
1. Setiap peserta diperbolehkan mengirim 2 (dua) artikel.
2. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan EYD yang benar, tidak vulgar, dan tidak mengandung SARA.
3. Panjang tulisan 5000-6000 karakter dengan ukuran kertas A4, diketik 1,5 spasi, font Times New Roman 12 pt, margin 4 cm batas kiri, 3 cm batas kanan, 3 cm batas atas, dan 3 cm batas bawah.
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Poster:
1. Peserta memilih 1 subtema yang disediakan
2. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 karya
3. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media (orisinil) dan belum pernah diperlombakan
4. Karya dikirim dalam format *.jpg
5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Puisi:
1. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim maksimal 2 karya
2. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media (orisinil) dan belum pernah diperlombakan
3. Karya dikirim dalam format *.doc
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Fotografi:
1. Masing-masing peserta dapat mengirim maksimal 2 karya
2. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media dan belum pernah diperlombakan
3. Bukan hasil editan aplikasi design graphic (Adobe Photoshop, Corel Photo-Paint,dll)
4. Karya dikirim dalam format *.jpg
5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Hadiah:
1. Essay:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
2. Poster:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
3. Puisi:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
4. Fotografi:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
5. Total Hadiah :Rp 8.000.000.00

Aku berdoa, agar aku bisa mengikutinya.. Sebuah kegiatan yang hanya diikuti oleh orang2 terpilih... LKMM Nas 2009 di unpad jatinangor 3-9 Agustus 2009 kemarin... Aku sadar, aku bukanlah orang pilihan apalagi orang terbaik di institusiku. Tapi aku yakin, apabila Allah mengizinkanku, berarti Allah langsunglah yang telah memilihku... Dan, dengan syukur yang besar, aku terpilih.. tanggal 1 aku berangkat ke Jawa Barat dengan perasaan campur aduk, bahagia dan takut. Bahagia karena ini adalah event terbesar yang pernah aku ikuti, dan takut karena aku yakin dengan mengikutinya akan mendapatkan tanggunbg jawab, yaitu mengharumkan nama institusi...
tanggal 3 aku mulai datang dan beraktifitas. Aku tercengang, aku berkenalan dengan mahaswa/mahasiswi terbaik yang di balut dengan warna-warni almamter. Universitas besarpun ada. aku merasa sangat kecil brada diantara mereka. Lambat laun, aku mulai bisa menempatkan diri, aku begitu merasakan suasana kekeluargaan yang hangat di tengah mereka. Mereka memberiku motivasi dn semangat saat aku mulai putus asa. Kami belajar bersama.
Para peserta LKMM Nas 2009 membentuk persatuan yaitu Peuyeum 2009 yang merupakan singkatan dari Pemimpin Unggul yang Enggan Untuk Menyerah.
Tanggal 9 kami berpisah, berpisah untuk sementara, karena kami semua meyakini, ini adalah sebuah permulaan, awal langkah yang akan mengawali langkah cemerlang kami... Hidup Peuyem, hidup ISMKI, hidup Mahasiswa!!!!!!!!!
special thx to Peuyeum 2009 We are the best!
...Sebuah cerita dari seorang yang tidak sempurna ....
Rabu, 31 Maret 2010
Minggu, 24 Januari 2010
BPN ISMKI kembali mengadakan Lomba Jurnalistik

tema kali ini PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA
Jadwal kegiatan :
Pembukaan pendaftaran dan pengumpulan karya : 28 Desember 2009 s/d 21 februarii 2010
Penilaian karya oleh juri :21 Februari s/d 9 Maret 2010
Pengumuman pemenang : 11-12 Maret 2010
cp : Engga Demartha (FK UNAND) 081363333010
LOMBA :
essay, poster, puisi dan fotografi
Insert : Rp 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah)
di transfer ke :
BNI cabang UI Depok
0131623288
atas nama Selti Rosani
karya dikirim ke :
lombajurnalistik.bpnismki_2009@yahoo.co.id
dg menyertakan :
Nama:
FK :
Asal LPM :
Lembar bukti pembayaran (di scan)
dan nomor hape
Tema: Pandangan Mahasiswa terhadap penegakan Hukum di Indonesia
Sub tema:
1. Puisi
a. Hukum vs Keadilan
2. Poster
a. Pandangan mahasiswa terhadap penegak hukum di Indonesia
3. Essay
a. Sejauh mana hukum negeriku bertindak sbg pembela rakyat
4. Fotografi
a. Memoirs of Indonesian’s law 2009 (memoar law of indonesia in 2009)/ the law memoar of indonesia in 2009 (gak tau tulisan yg betul mana)
Insert peserta: 25rb
Persyaratan
Essay:
1. Setiap peserta diperbolehkan mengirim 2 (dua) artikel.
2. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan EYD yang benar, tidak vulgar, dan tidak mengandung SARA.
3. Panjang tulisan 5000-6000 karakter dengan ukuran kertas A4, diketik 1,5 spasi, font Times New Roman 12 pt, margin 4 cm batas kiri, 3 cm batas kanan, 3 cm batas atas, dan 3 cm batas bawah.
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Poster:
1. Peserta memilih 1 subtema yang disediakan
2. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 karya
3. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media (orisinil) dan belum pernah diperlombakan
4. Karya dikirim dalam format *.jpg
5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Puisi:
1. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim maksimal 2 karya
2. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media (orisinil) dan belum pernah diperlombakan
3. Karya dikirim dalam format *.doc
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Fotografi:
1. Masing-masing peserta dapat mengirim maksimal 2 karya
2. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media dan belum pernah diperlombakan
3. Bukan hasil editan aplikasi design graphic (Adobe Photoshop, Corel Photo-Paint,dll)
4. Karya dikirim dalam format *.jpg
5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Hadiah:
1. Essay:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
2. Poster:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
3. Puisi:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
4. Fotografi:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
5. Total Hadiah :Rp 8.000.000.00
Rabu, 14 Oktober 2009
Mana Ayahku
oleh: Thera Febrika NF
Ibu ingin menikah lagi? Apa-apaan ini? Baru kemarin ibu diceraikan oleh suami ketiganya, kini ia berkata bahwa ia baru saja menemukan bakal calon ayah baru untukku? Tidak ada masalah bagiku ibu mau menikah dengan siapa saja ataupun berapa saja, namun sampai sekarang, aku sendiri belum jelas siapa ayahku sebenarnya. Konon ibu pernah bercerita, ayahku adalah lelaki pertama yang ia ‘kawini’ bukan ‘nikahi’. Aku adalah anak dari lelaki tidak sah ibu. Ibu pernah bercerita sedikit tentang ayah dan mengapa ayah lebih memilih pergi ketimbang menikahi ibuku yang saat itu sedang mengandung aku. Kata ibu, ayah adalah seorang pekerja keras, pekerjaannya tidak tetap, ia selalu berpindah-pindah, dari tempat satu ke tempat lain. Itulah mengapa ayah tidak siap menjadikan kami satu keluarga. Ibu menceritakan itu semua dengan mimik muka yang sangat datar. Tidak ada goresan rasa sedih atau kekecewaan saat menceritakannya. Akupun tidak tahu kenapa bisa seperti itu.
“Apa ibu bersedih saat ayah tidak ingin menikahi ibu?” bagi sebagian orang pertanyaanku ini adalah pertanyaan yang sudah pasti jawabnya apabila dilontarkan pada seorang wanita yang tidak dipertanggung jawabkan kehamilannya seperti ibu. Namun, masih sembari mengoleskan lipstick merah mudanya, ia menggeleng singkat dan menjawab, “itu sudah pilihan ayahmu untuk tidak memilih ibu. Ibu akan menderita apabila semua itu di paksakan.”
Aku sadar, reputasi ibu sudah jelek di mata masyarakat. Semua orang yang berpendapat, ibu adalah perempuan murahan yang suka bergonta ganti suami. Namun, bukankah cara seperti itu lebih halal dibandingkan ibu harus kumpul kebo dengan para lelakinya? Yah, semua itu kembali lagi kepada siapa yang memikirkannya.
“Lalu, siapa yang akan menjadi ayahku lagi, Bu?” tanyaku pelan.
“Lanang,” sapa ibu pelan. Lanang adalah bahasa jawa untuk laki-laki, sapaan yang sering ibu lontarkan padaku, “siapapun ayah barumu nanti, itu pasti yang tebaik buatmu.” Bisik lembut ibu. Malam ini ibu begitu cantik. Ibu selalu berdandan sangat cantik setiap malam sabtu. Yah, hanya malam sabtu. Pekerjaan ibu adalah tukang salon keliling, itupun pekerjaan siang hari. Kata ibu, setiap malam sabtu ada langganannya yang mengharapkan ia datang.
“Lanang, jangan lupa kunci pintu. Belajarnya jangan hingga larut, nanti kamu sakit.” Pesan umum yang tidak pernah ibu lupakan.
***
Namaku Ali, Satrio Ali. Aku anak pertama dari lelaki pertama ibuku. Lelaki pertama tapi bukan suami pertama ibuku tepatnya. Aku menerima suratan hidupku dengan ikhlas, walaupun aku agak bingung bagaimana alur sesungguhnya kehidupanku. Aku memiliki ibu dan banyak ayah. Karena ibuku sudah berkali-kali menikah, tapi bukan dengan ayahku. Sejak kecil aku dirawat dan dibesarkan oleh seorang wanita yang hingga tua kini masih memiliki paras yang amat cantik, bernama Laksmi Arumdani. Ia sosok wanita sederhana dan sangat pendiam. Perkataan dan perbuatannya sangat sulit di tebak, mungkin itulah mengapa banyak keturunan Adam mengejar-ngejarnya. Ibuku sudah tiga kali menikah, alasannya cukup sederhana mengapa ia memilih hidup bergonta ganti pasangan, “lebih baik ibu lepaskan, daripada ibu harus menyakiti.” Yah, begitulah ibu.
Pagi ini ibu kembali berangkat berkerja dengan tas lusuh yang berisi peralatan salon kelilingnya.
“Lanang, apa hari ini kamu tidak sekolah?” Tanya ibu mendapatiku masih berpakaian biasa pagi ini.
“Hari ini dan besok, ada rapat guru, Bu.” Jawabku singkat.
“Oh begitu. Ibu berangkat dulu ya lanang, doakan ibu mendapat banyak pelanggan hari ini, agar nanti malam, ibu bisa mentraktirmu pecel bebek di tempat Mang Adang.” Aku mengangguk.
Ibu sangat memanjakanku. Ibu bilang, aku tidak boleh tumbuh menjadi anak lelaki yang liar. Ibu sangat ingin aku menjadi lelaki yang sukses dan tentu saja berprilaku baik. Pernah aku merasa bosan menghadapi semua, di usia remajaku, aku tak berani menentang perintah ibu untuk langsung pulang setelah sekolah. Aku langsung teringat ibu, kebaikan dan kerja keras ibu selalu terbayang saat ada niat untuk melanggar perintahnya. Biarlah aku seperti ini, ibu bahagia, itu sudah lebih dari cukup.
“Ali,”
“Astaghfirullah,” aku terbelalak kaget saat mendapati seseorang di dapur rumahku.
“Siapa kamu?! Jangan macam-macam di rumahku!” bentakku. Seorang lelaki, putih bersih dan sangat wangi tiba-tiba ada di dapur rumahku pagi itu.
“Jangan takut, aku adalah teman ibumu. Ia menyuruhku menungguimu selama ia bekerja.” Jawabnya lembut. Ibu? Tidak pernah ibu bercerita sebelumnya kepadaku. “perkenalkan, namaku L-O-I-S-E,” ia mengeja namanya. “dibaca, Luis”
Aku mengangguk. Hidungnya mancung, matanya sedikit coklat. Wajahnya lelaki, namun aku menangkap aura kelembutan pada dirinya. Bicaranyapun sangat lembut. Apa mungkin dia banci teman salon ibu? “Yah, mungkin saja.”
“siapa nama lengkapmu, Nak?” Tanya Loise yang setelah memperkenalkan diri, kembali duduk membelakangiku.
“Ali, hm, Satrio Ali.” Jawabku
“Sekolah?” tanyanya lagi.
“Dua SMK, jurusan mesin.”
“Pernah mendapatkan juara?”
“Dari SD aku selalu mendapatkan beasiswa.”
“Kau sangat pintar, aku yakin, ayahmupun pintar.”
Ayah? Apa ibu tidak pernah bercerita kalau aku tidak memliki ayah? “Tidak, ayahku sungguh manusia yang ama bodoh dan berfikiran sempit.”
“Mengapa?”
“Karena ia lebih memilih kepentingan dirinya dibandingkan tanggung jawabnya. Sudahlah, lebih baik, kita berbicara yang lain. Aku tidak ingin membicarakan hal cengeng seperti ini.”
Dari perkataanku yang terakhir, ia diam, tidak lagi bertanya ataupun berkata hingga ia menghilang sebelum ibu pulang. Ibu tidak bertanya apapun tentang orang kirimannya tersebut. Akupun malas membahasnya. Pasti hanya membuang waktu saja.
“Lanang, apa kau sudah tau nama calon ayah barumu?” Tanya ibu di sela diamnya. Aku menggeleng tanpa mengalihkan mataku dari buku yang sejak satu jam yang lalu ku baca.
“Dia sangat baik.” Sambung ibu. Ibu, mana mungkin dia memperkenalkan nama calon suaminya kepadaku.
“Ibu, ayahku, ayah kandungku, seperti apa dia?” tanyaku. Ibu terdiam, dan tersenyum. Memang ini pertanyaan yang selalu ku tanyakan setiap kali ibu memutuskan untuk kembali menikah,
“Ia seseorang yang amat sangat baik” jawab ibu pelan dan tenang. Mengapa ibu selalu memvonis semua orang baik, termasuk ayahku yang nyata-nyatanya meninggalkan ia dan aku yang saat itu masih ibu kandung. “Ibu sangat mencintainya,” sambung ibu. Kali ini aku dapat melihat suatu yang sebelumnya tak pernah ku lihat dari ibu, sebuah pancaran ketulusan.
“Apa ayah masih hidup, Bu?” aku kembali bertanya. Pertanyaan ini tak pernah ku tanyakan sebelumnya. Ibu terlihat kaget dengan pertanyaanku,
“Iya lanang, ia masih hidup. Saat ini ia sedang sangat merindukanmu.” Ibu menjawab sambil mengelus perlahan rambutku.
***
“Kamu lagi?” aku sedikit kaget mendapati Loise yang sedang asik membersihkan meja makan yang di atasnya sudah tersaji sepiring masi goreng dan segelas susu coklat. Menu pagi kesukaanku yang biasanya ibu yang menyiapkan.
“Maaf, sudah membuatmu kaget. Makanlah, aku sudah memasakanmu ini. Ini makanan kesukaanku, semoga kamu juga suka.” Ucap Loise. Aku duduk dan memakan semua tanpa memperdulikan Loise. Makanan kesukaannya sama persis seperti makanan kesukaanku yang setiap pagi ibu hidangkan sebelum aku berangkat sekolah. Selama aku melahap semua makanan, mata Loise tak lepas dari aktivitasku, membuatku sedikit risih, namun itu semua tak ku perdulikan. Nasi goreng yang sedang ku lahap ini sangat enak.
“Mengapa kau tidak sekolah?” tanyanya saat suapan terakhir telahku lahap bersih.
“Ada rapat guru, jadi diliburkan.” Jawabku singkat. “Siapa kamu sebenarnya?” tanyaku penasaran, sambil terus melahap sesendok penuh nasi goreng yang ia sajikan. Loise tidak langsung menjawab, ia terdiam.
“Menurutmu?” Loise balik bertanya. Aku mengangkat kedua bahuku, ”kalau aku bertanya, berarti aku tidak tau”
“Aku Loise, aku orang baik dimata ibumu,” jawabnya. Aku melirik ke arahnya, ia tersenyum lembut.
“Ibu selalu mengatakan seseorang baik. Banyak sekali orang baik di sekeliling ibu.”
“Kalau begitu, aku adalah orang yang kau anggap bodoh, dan berfikiran sempit.” Loise berkata, sambil berjalan meninggalkanku.
“Tidak, ayahku sungguh manusia yang ama bodoh dan berfikiran sempit.” Aku tiba-tiba teringat kata-kataku kemarin kepadanya. Berarti, “Hei, tunggu!!!!” panggilku. Aku mengejarnya keluar. Apa benar, ia ayahku? Yah, benarkah? Aku terlambat, ia sudah tidak terlihat lagi. Ayah?
“Lanang, sedang apa kau?” Tanya seseorang dari arah belakang. “Kau menangis?” Tanyanya.
“Ibu, baru saja ayah datang.” Ucapku bergetar. Ibu memelukku erat. Tak kuasa ku menahan tangis, aku sangat merindukan ayah. Aku sangat berharap bisa bertemunya lagi. Walaupun aku sangat membencinya.
“Lanang, kau sudah saatnya tahu yang sesungguhnya.” Ibu berkata pelan dan menggiringku masuk rumah.
“Namanya Loise Serfentoo. Ia lelaki keturunan Belanda yang memiliki warna rambut dan bola mata seperti orang Indonesia. Ia teman ibu dulu. Kita sama-sama membuka usaha salon. Ia sangat baik,” Ibu menghentikan ceritanya sejenak, menarik nafas, lalu meneruskannnya kembali, “Suatu hari, ia menyatakan cintanya pada ibu. Namun itu semua karena ia mencintai Doni, pria yang ibu sayangi.”
Aku terdiam. Berusaha menyaring cerita ibu, “Yah, Loise sadar memiliki kelainan. Ia suka sesamanya. Loise tidak bisa menerima kenyataan itu. Ia marah pada dirinya, ia sangat ingin menentang semua itu, lalu, ia meniduri ibu. Berharap ia dapat membuktikan bahwa ia adalah lelaki normal. Saat itu, ibu sangat kecewa, bersedih karena Doni mengetahui hal itu, dan seketika memutuskan cinta kami. “
“Ibu hamil, Loise bingung. Begitu juga Ibu. ‘Laksmi, aku ingin memperbaiki hidupku dulu. Kelak aku akan kembali untuk mempertanggung jawabkan bayi kita. Aku berjanji. Aku mencintaimu, karena kau mengandung anakku, anak hasil pembuktianku, bahwa aku adalah lelaki normal. Maafkan aku.’ Setelah itu ayahmu pergi meninggalkan ibu dan kau,”
Aku bergetar mendengarnya. Aku perlahan mulai mengerti cerita ibu. Aku mengerti, kenapa ibu menyembunyikan ini semua dariku. Aku ternyata lahir karena emosional ayah terhadap dirinya sendiri.
“Ibu selalu menikah dan memutuskan untuk mengakhirinya, karena ibu masih sangat mengharapkan tanggung jawab dari ayahmu. Ibu mencintai semua suami ibu, namun ibu sesungguhnya merindukan ayahmu. Selama ini, ia selalu mengirimkan ibu uang untuk membiayai hidupmu, menyekolahkanmu. Ia sangat sayang padamu, lanang. Nama Satrio Ali pun ia yang memberikannya, karena ia berharap kau menjadi kesatria bagi ibu, yang bisa melindungi ibu...”
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku bingung bagaimana aku harus menentukan sikapku.
“Lalu, siapa lelaki yang akan menjadi ayah baruku?” tanyaku.
“Dia Loise Serfentoo,” jawaban ibu membuat air mataku tak kuasa ku bendung. Tak bisa ku luapkan perasaanku kini, aku sangat bahagia karena sebentar lagi, aku akan berkumpul lagi bersama ayah. Aku yakin, ayah sudah bisa memperbaiki hidupnya, karena ia sudah kembali. Ayah, aku merindukanmu….
Ibu ingin menikah lagi? Apa-apaan ini? Baru kemarin ibu diceraikan oleh suami ketiganya, kini ia berkata bahwa ia baru saja menemukan bakal calon ayah baru untukku? Tidak ada masalah bagiku ibu mau menikah dengan siapa saja ataupun berapa saja, namun sampai sekarang, aku sendiri belum jelas siapa ayahku sebenarnya. Konon ibu pernah bercerita, ayahku adalah lelaki pertama yang ia ‘kawini’ bukan ‘nikahi’. Aku adalah anak dari lelaki tidak sah ibu. Ibu pernah bercerita sedikit tentang ayah dan mengapa ayah lebih memilih pergi ketimbang menikahi ibuku yang saat itu sedang mengandung aku. Kata ibu, ayah adalah seorang pekerja keras, pekerjaannya tidak tetap, ia selalu berpindah-pindah, dari tempat satu ke tempat lain. Itulah mengapa ayah tidak siap menjadikan kami satu keluarga. Ibu menceritakan itu semua dengan mimik muka yang sangat datar. Tidak ada goresan rasa sedih atau kekecewaan saat menceritakannya. Akupun tidak tahu kenapa bisa seperti itu.
“Apa ibu bersedih saat ayah tidak ingin menikahi ibu?” bagi sebagian orang pertanyaanku ini adalah pertanyaan yang sudah pasti jawabnya apabila dilontarkan pada seorang wanita yang tidak dipertanggung jawabkan kehamilannya seperti ibu. Namun, masih sembari mengoleskan lipstick merah mudanya, ia menggeleng singkat dan menjawab, “itu sudah pilihan ayahmu untuk tidak memilih ibu. Ibu akan menderita apabila semua itu di paksakan.”
Aku sadar, reputasi ibu sudah jelek di mata masyarakat. Semua orang yang berpendapat, ibu adalah perempuan murahan yang suka bergonta ganti suami. Namun, bukankah cara seperti itu lebih halal dibandingkan ibu harus kumpul kebo dengan para lelakinya? Yah, semua itu kembali lagi kepada siapa yang memikirkannya.
“Lalu, siapa yang akan menjadi ayahku lagi, Bu?” tanyaku pelan.
“Lanang,” sapa ibu pelan. Lanang adalah bahasa jawa untuk laki-laki, sapaan yang sering ibu lontarkan padaku, “siapapun ayah barumu nanti, itu pasti yang tebaik buatmu.” Bisik lembut ibu. Malam ini ibu begitu cantik. Ibu selalu berdandan sangat cantik setiap malam sabtu. Yah, hanya malam sabtu. Pekerjaan ibu adalah tukang salon keliling, itupun pekerjaan siang hari. Kata ibu, setiap malam sabtu ada langganannya yang mengharapkan ia datang.
“Lanang, jangan lupa kunci pintu. Belajarnya jangan hingga larut, nanti kamu sakit.” Pesan umum yang tidak pernah ibu lupakan.
***
Namaku Ali, Satrio Ali. Aku anak pertama dari lelaki pertama ibuku. Lelaki pertama tapi bukan suami pertama ibuku tepatnya. Aku menerima suratan hidupku dengan ikhlas, walaupun aku agak bingung bagaimana alur sesungguhnya kehidupanku. Aku memiliki ibu dan banyak ayah. Karena ibuku sudah berkali-kali menikah, tapi bukan dengan ayahku. Sejak kecil aku dirawat dan dibesarkan oleh seorang wanita yang hingga tua kini masih memiliki paras yang amat cantik, bernama Laksmi Arumdani. Ia sosok wanita sederhana dan sangat pendiam. Perkataan dan perbuatannya sangat sulit di tebak, mungkin itulah mengapa banyak keturunan Adam mengejar-ngejarnya. Ibuku sudah tiga kali menikah, alasannya cukup sederhana mengapa ia memilih hidup bergonta ganti pasangan, “lebih baik ibu lepaskan, daripada ibu harus menyakiti.” Yah, begitulah ibu.
Pagi ini ibu kembali berangkat berkerja dengan tas lusuh yang berisi peralatan salon kelilingnya.
“Lanang, apa hari ini kamu tidak sekolah?” Tanya ibu mendapatiku masih berpakaian biasa pagi ini.
“Hari ini dan besok, ada rapat guru, Bu.” Jawabku singkat.
“Oh begitu. Ibu berangkat dulu ya lanang, doakan ibu mendapat banyak pelanggan hari ini, agar nanti malam, ibu bisa mentraktirmu pecel bebek di tempat Mang Adang.” Aku mengangguk.
Ibu sangat memanjakanku. Ibu bilang, aku tidak boleh tumbuh menjadi anak lelaki yang liar. Ibu sangat ingin aku menjadi lelaki yang sukses dan tentu saja berprilaku baik. Pernah aku merasa bosan menghadapi semua, di usia remajaku, aku tak berani menentang perintah ibu untuk langsung pulang setelah sekolah. Aku langsung teringat ibu, kebaikan dan kerja keras ibu selalu terbayang saat ada niat untuk melanggar perintahnya. Biarlah aku seperti ini, ibu bahagia, itu sudah lebih dari cukup.
“Ali,”
“Astaghfirullah,” aku terbelalak kaget saat mendapati seseorang di dapur rumahku.
“Siapa kamu?! Jangan macam-macam di rumahku!” bentakku. Seorang lelaki, putih bersih dan sangat wangi tiba-tiba ada di dapur rumahku pagi itu.
“Jangan takut, aku adalah teman ibumu. Ia menyuruhku menungguimu selama ia bekerja.” Jawabnya lembut. Ibu? Tidak pernah ibu bercerita sebelumnya kepadaku. “perkenalkan, namaku L-O-I-S-E,” ia mengeja namanya. “dibaca, Luis”
Aku mengangguk. Hidungnya mancung, matanya sedikit coklat. Wajahnya lelaki, namun aku menangkap aura kelembutan pada dirinya. Bicaranyapun sangat lembut. Apa mungkin dia banci teman salon ibu? “Yah, mungkin saja.”
“siapa nama lengkapmu, Nak?” Tanya Loise yang setelah memperkenalkan diri, kembali duduk membelakangiku.
“Ali, hm, Satrio Ali.” Jawabku
“Sekolah?” tanyanya lagi.
“Dua SMK, jurusan mesin.”
“Pernah mendapatkan juara?”
“Dari SD aku selalu mendapatkan beasiswa.”
“Kau sangat pintar, aku yakin, ayahmupun pintar.”
Ayah? Apa ibu tidak pernah bercerita kalau aku tidak memliki ayah? “Tidak, ayahku sungguh manusia yang ama bodoh dan berfikiran sempit.”
“Mengapa?”
“Karena ia lebih memilih kepentingan dirinya dibandingkan tanggung jawabnya. Sudahlah, lebih baik, kita berbicara yang lain. Aku tidak ingin membicarakan hal cengeng seperti ini.”
Dari perkataanku yang terakhir, ia diam, tidak lagi bertanya ataupun berkata hingga ia menghilang sebelum ibu pulang. Ibu tidak bertanya apapun tentang orang kirimannya tersebut. Akupun malas membahasnya. Pasti hanya membuang waktu saja.
“Lanang, apa kau sudah tau nama calon ayah barumu?” Tanya ibu di sela diamnya. Aku menggeleng tanpa mengalihkan mataku dari buku yang sejak satu jam yang lalu ku baca.
“Dia sangat baik.” Sambung ibu. Ibu, mana mungkin dia memperkenalkan nama calon suaminya kepadaku.
“Ibu, ayahku, ayah kandungku, seperti apa dia?” tanyaku. Ibu terdiam, dan tersenyum. Memang ini pertanyaan yang selalu ku tanyakan setiap kali ibu memutuskan untuk kembali menikah,
“Ia seseorang yang amat sangat baik” jawab ibu pelan dan tenang. Mengapa ibu selalu memvonis semua orang baik, termasuk ayahku yang nyata-nyatanya meninggalkan ia dan aku yang saat itu masih ibu kandung. “Ibu sangat mencintainya,” sambung ibu. Kali ini aku dapat melihat suatu yang sebelumnya tak pernah ku lihat dari ibu, sebuah pancaran ketulusan.
“Apa ayah masih hidup, Bu?” aku kembali bertanya. Pertanyaan ini tak pernah ku tanyakan sebelumnya. Ibu terlihat kaget dengan pertanyaanku,
“Iya lanang, ia masih hidup. Saat ini ia sedang sangat merindukanmu.” Ibu menjawab sambil mengelus perlahan rambutku.
***
“Kamu lagi?” aku sedikit kaget mendapati Loise yang sedang asik membersihkan meja makan yang di atasnya sudah tersaji sepiring masi goreng dan segelas susu coklat. Menu pagi kesukaanku yang biasanya ibu yang menyiapkan.
“Maaf, sudah membuatmu kaget. Makanlah, aku sudah memasakanmu ini. Ini makanan kesukaanku, semoga kamu juga suka.” Ucap Loise. Aku duduk dan memakan semua tanpa memperdulikan Loise. Makanan kesukaannya sama persis seperti makanan kesukaanku yang setiap pagi ibu hidangkan sebelum aku berangkat sekolah. Selama aku melahap semua makanan, mata Loise tak lepas dari aktivitasku, membuatku sedikit risih, namun itu semua tak ku perdulikan. Nasi goreng yang sedang ku lahap ini sangat enak.
“Mengapa kau tidak sekolah?” tanyanya saat suapan terakhir telahku lahap bersih.
“Ada rapat guru, jadi diliburkan.” Jawabku singkat. “Siapa kamu sebenarnya?” tanyaku penasaran, sambil terus melahap sesendok penuh nasi goreng yang ia sajikan. Loise tidak langsung menjawab, ia terdiam.
“Menurutmu?” Loise balik bertanya. Aku mengangkat kedua bahuku, ”kalau aku bertanya, berarti aku tidak tau”
“Aku Loise, aku orang baik dimata ibumu,” jawabnya. Aku melirik ke arahnya, ia tersenyum lembut.
“Ibu selalu mengatakan seseorang baik. Banyak sekali orang baik di sekeliling ibu.”
“Kalau begitu, aku adalah orang yang kau anggap bodoh, dan berfikiran sempit.” Loise berkata, sambil berjalan meninggalkanku.
“Tidak, ayahku sungguh manusia yang ama bodoh dan berfikiran sempit.” Aku tiba-tiba teringat kata-kataku kemarin kepadanya. Berarti, “Hei, tunggu!!!!” panggilku. Aku mengejarnya keluar. Apa benar, ia ayahku? Yah, benarkah? Aku terlambat, ia sudah tidak terlihat lagi. Ayah?
“Lanang, sedang apa kau?” Tanya seseorang dari arah belakang. “Kau menangis?” Tanyanya.
“Ibu, baru saja ayah datang.” Ucapku bergetar. Ibu memelukku erat. Tak kuasa ku menahan tangis, aku sangat merindukan ayah. Aku sangat berharap bisa bertemunya lagi. Walaupun aku sangat membencinya.
“Lanang, kau sudah saatnya tahu yang sesungguhnya.” Ibu berkata pelan dan menggiringku masuk rumah.
“Namanya Loise Serfentoo. Ia lelaki keturunan Belanda yang memiliki warna rambut dan bola mata seperti orang Indonesia. Ia teman ibu dulu. Kita sama-sama membuka usaha salon. Ia sangat baik,” Ibu menghentikan ceritanya sejenak, menarik nafas, lalu meneruskannnya kembali, “Suatu hari, ia menyatakan cintanya pada ibu. Namun itu semua karena ia mencintai Doni, pria yang ibu sayangi.”
Aku terdiam. Berusaha menyaring cerita ibu, “Yah, Loise sadar memiliki kelainan. Ia suka sesamanya. Loise tidak bisa menerima kenyataan itu. Ia marah pada dirinya, ia sangat ingin menentang semua itu, lalu, ia meniduri ibu. Berharap ia dapat membuktikan bahwa ia adalah lelaki normal. Saat itu, ibu sangat kecewa, bersedih karena Doni mengetahui hal itu, dan seketika memutuskan cinta kami. “
“Ibu hamil, Loise bingung. Begitu juga Ibu. ‘Laksmi, aku ingin memperbaiki hidupku dulu. Kelak aku akan kembali untuk mempertanggung jawabkan bayi kita. Aku berjanji. Aku mencintaimu, karena kau mengandung anakku, anak hasil pembuktianku, bahwa aku adalah lelaki normal. Maafkan aku.’ Setelah itu ayahmu pergi meninggalkan ibu dan kau,”
Aku bergetar mendengarnya. Aku perlahan mulai mengerti cerita ibu. Aku mengerti, kenapa ibu menyembunyikan ini semua dariku. Aku ternyata lahir karena emosional ayah terhadap dirinya sendiri.
“Ibu selalu menikah dan memutuskan untuk mengakhirinya, karena ibu masih sangat mengharapkan tanggung jawab dari ayahmu. Ibu mencintai semua suami ibu, namun ibu sesungguhnya merindukan ayahmu. Selama ini, ia selalu mengirimkan ibu uang untuk membiayai hidupmu, menyekolahkanmu. Ia sangat sayang padamu, lanang. Nama Satrio Ali pun ia yang memberikannya, karena ia berharap kau menjadi kesatria bagi ibu, yang bisa melindungi ibu...”
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku bingung bagaimana aku harus menentukan sikapku.
“Lalu, siapa lelaki yang akan menjadi ayah baruku?” tanyaku.
“Dia Loise Serfentoo,” jawaban ibu membuat air mataku tak kuasa ku bendung. Tak bisa ku luapkan perasaanku kini, aku sangat bahagia karena sebentar lagi, aku akan berkumpul lagi bersama ayah. Aku yakin, ayah sudah bisa memperbaiki hidupnya, karena ia sudah kembali. Ayah, aku merindukanmu….
Minggu, 11 Oktober 2009
Siapa Dia
oleh: Thera Febrika NF
Namanya Dia, Diazanka Pufitrasriu, sebuah nama kepanjangan yang susah diingat. Dia adalah murid baru, katanya dia pindah dari pulau Sumatera. Dari pertama kali masuk Dia tidak pernah berbicara, kecuali bila guru bertanya padanya. Teman-teman yang bertanya sesuatu padanyapun tak Dia jawab. Itu membuatnya tidak disukai. Tak ada yang tau penyebabnya mengapa sikap Dia sangat dingin seperti itu. Dan dasar nasib apes sedang berpihak padaku, Bu Tatin wali kelasku menyuruh Dia duduk sebangku denganku. Karena kebetulan Galih teman satu bangkuku baru saja pindah sekolah.
“Hai, aku Diaza Putria, cukup panggil aku Diaz. Nama kita hampir mirip ya?” Sapaku. Dia tetap diam. Aku sudah siap menelan pil pahit saat menegur manusia ciptaan Tuhan yang sangat pendiam satu ini.
“Eh, Dia, denger-denger di Sumatera lebih panas dibandingin di Jakarta ya?” tanyaku lagi. Dia masih terus diam, matanyapun tak sedikitpun menatapku.
“Dia, kok kayaknya aku pernah ngeliat kamu ya? Kamu pernah masuk tv ya?”tanyaku yang kesekian kali. Sudah ku putuskan, kalau pertanyaanku satu ini tidak ia jawab, aku akan menjerit dan bilang “Kamu tuli ya?!”
“Memang benar kita pernah ketemu” Jawabnya datar. Aku terdiam. Bertemu?
“Maksud kamu?”
Dia tidak menjawab lagi. Hufh.. mulai lagi nih anak diem. Low bat kali ya. Gerutuku dalam hati. Begitu seterusnya Dia hanya diam, tak menjawab kalau tidak benar-benar membuatnya ingin menjawab. Walaupun di kalangan teman-teman, ia termasuk anak yang sombong, tapi Dia sangat disukai guru. Karena kecerdasannya. Tak pernah ia tak bisa menjawab semua pertanyaan dari guru. Kalau dimintai pendapatpun, ia selalu memberi pendapat yang simple namun jelas dan tepat.
Ada satu hal lagi yang aneh sejak kehadirannya. Tiga malam ini, aku selalu bermimpi tentang Dia. Dia datang ke mimpiku dengan wajah yang sama, datar. Namun di mimpiku, ia berkata perkataan yang selalu sama setiap malam, “Maaf, seharusnya aku melindungimu” Setelah Dia berkata seperti itu, Dia lalu berlalu pergi. Awalnya aku menganggap itu hanya mimpi biasa, tapi lama kelamaan aku mulai penasaran, apa maksud dari mimpi itu.
Pagi itu, aku melihat Dia datang masih dengan wajahnya yang datar. Aku melihatnya dari jauh. Aku tidak tahu perasaan apa ini, mengapa aku merasa begitu dekat dengannya. Dengan seseorang yang baru pertama kali aku temui.
“Diaz,” panggil seseorang. Aku terbelalak kaget saat yang menyapaku pagi itu adalah Dia. “Tolong pagi ini kamu jangan ikut upacara” Dia berkata sedikit ragu-ragu
“Jangan? Mengapa?” tanyaku bingung. Dia tidak menjawab, ia berlalu begitu saja. Dasar sinting! Batinku. Aku tak menghiraukan kata-kata Dia. Pagi ini aku akan tetap ikut upacara. Karena pagi ini yang menjadi pemipin upacara adalah kakak kelas pujaanku. Bisa terlewat dapat pemandangan indah kalau aku lewatkan. Lagian, atas dasar apa ia melarangku?
Upacara dimulai, hari ini cuaca sangat terik. Upacarapun seperti berlangsung sangat lama. Keringat sudah sangat banyak memandikan tubuhku. Mataku berkunang-kunang, pusing. Mengapa tiba-tiba gelap? Dan …
Kepalaku sangat berat, sangat sakit. Mataku sangat sulit untuk di buka. Aku berusaha, dan akhirnya aku bisa membuka mata. Remang-remang aku mendapati seseorang di sampingku, sedang duduk sambil menunduk, siapa?
“Dia” Ucapku pelan. Setengah tak percaya kalau orang yang menungguiku adalah Dia.
“Sudah ku bilang, jangan ikut upacara” Dia berkata sambil memalingkan wajahnya
“Tau darimanakalau aku akan pingsan?”
“Aku tidak berkata kau akan pingsan,” jawab Dia santai.
***
“Ampun, Pa. Ampun,”
“Sudah saya bilang, jangan bicara aneh-aneh kamu!” bentak pria itu sambil terus menyabetkan seutas ikat pinggang ke badan anak kecil yang sedang tengkurap diatas kasur.
“Ampun Pa, ampun” lirih anak itu lagi
“Jangan panggil aku Papa! Dasar anak sialan!” bentak lelaki itu tanpa belas kasihan. Anak kecil itu merintih kesakitan.
“Papa, berhenti. Jangan pukulin kak Dia lagi Pa,” tiba-tiba seorang anak perempuan berkepang dua memeluk lelaki itu. Lelaki itu melemah, dan menghentikan sabetannya.
“Dia sudah menghancurkan hidup Papa, Nak. Hidup kita. Kebahagiaan kita terampas karena anak sial ini.” Jelas lelaki itu. Anak lelaki itu berusaha beranjak dari tempat penyiksaannya itu. Ia berjalan terseok menjauhi lelaki dan anak perempuan yang amat ia sayanginya itu. Anak lelaki itu duduk disamping seorang ibu yang juga badannya penuh luka.
Aku terbangun. Mimpi bermimpi. Mimpi yang aneh, begitu jelas terekam. Siapa mereka sebenarnya. Aku melihat jam yang menempel di dinding kamarku, masih menunjukan angka dua malam. Aku beranjak bangun dan keluar untuk mengambi segelas air putih.
“Di.. Diaz” panggil seseorang saat aku baru saja satu tegukan air. Aku menoleh.
“Papa, belum tidur?” jelasku. Aku hanya tinggal berdua dengan Papa. Papaku saat ini cacat karena kecelaan yang menimpanya, aku dan mama saat usiaku tujuh tahun. Papa selamat dengan keadaan yang sangat kritis. Ia kehilangan kedua kakinya, serta kemampuannya untuk berbicarapun tak selancar dulu lagi. Sepeninggalan mama, aku hidup betiga dengan tante Ratih, adik Papa. Namun karena tante Ratih sudah menikah dan saat itu akupun sudah dewasa, tante Ratih pergi ikut suaminya pergi ke Bali dan mempercayakan aku. Tinggallah aku berdua dengan Papa. Aku mengurus segala sesuatu keperluan papa. Untuk menghidupi aku dan Papa, aku bekerja sepulang sekolah. Semua itu aku jalani dengan hati yang ikhlas, sehingga aku bisa bahagia menghadapinya.
“Sudah malam, Pa. Sekarang Papa tidur dulu. Supaya besok segar lagi.” Aku mendorong kursi roda papa dan memopoh papa kke tempat tidur. Aku menyelimutinya.
“Diaz sayang Papa” Ucapku seraya mencium kening Papaku sebelum meninggalkannya keluar kamar,
“Di..Diaz ma..aaf…” Papa berkata pelan. Papa selalu berkata seperti itu setelah aku melakukan sesuatu untuknya.
“Papa tidak pernah buat salah. Jadi tidak perlu minta maaf begitu.” Jawabku lembut. Lampu kamar papa ku matikan, dan akupun kembali tidur.
***
“Pagi Dia,” sapaku pada Dia yang selalu datang lebih awal daripada aku. Seperti biasa Dia tidak menjawab sapaanku. Aku mulai bisa menerima sifat anehnya itu.
“Ini,” aku menyodorkan sebuah buku catatanku padanya. “Ini buku catatanku. Nanti sepulang sekolah aku tidak bisa kumpul kelompok untuk mengerjakan tugas, jadi aku sudah rangkum semalam.”
“Dasar anak kecil, pasti kamu akan pergi main.” Ujar Dia ketus. Aku tersenyum, ”aku bukan mau main, tapi setiap hari sepulang sekolah aku bekerja. Teman-teman yang lain sudah banyak yang tau kalau aku selalu bekerja sepulang sekolah. Dan sekarang, aku yang memberi tahumu.” Jelasku Aku melihat reaksinya, alisnya menyatu tapi tatapannya tetap ditujukannya ke depan. Seperti seseorang yang tidak mengerti.
“Papa aku sedang sakit, jadi aku yang harus berusaha sendiri untuk meneruskan sekolah.” Aku kembali menjelaskan. Tapi tiba-tiba, Dia meneteskan air mata tanpa sedikitpun menatapku. Tatapannya terus kosong menatap kedepan.
“Maaf, seharusnya aku melindungimu.” Ucapnya bergetar. Ucapannya kali ini sama persis seperti apa yang ia sampaikan dalam mimpiku. Belum sempat aku bertanya, Dia sudah beranjak pergi. Aku tidak mungkin menanyakan mimpi itu padanya. Karena aku yakin ia tidak akan percaya. Satu lagi yang ingin aku tanyakan, mengapa ia tiba-tiba menangis saat mendengar penjelasanku tadi?
“Apa mungkin semua ini ada artinya? Mimpi-mimpi itu seperti bukan sebuah mimpi.” Aku sangat ingin tahu, apa maksud semua ini. Apa aku harus mencari tau semuanya? Tapi bagaimana caranya? Apa aku harus memberanikan diri bertanya pada Dia? Yah, sepertinya itu jalan satu-satunya. Aku keluar kelas mencari Dia. Kemana anak itu? Aku berjalan mencainya keliling sekolah. Pelajaran sebentar lagi akan dimulai, tapi ia tidak ku temukan. Akhirnya ku putuskan tidak meneruskan mencarinya karena pasti akan memakan waktu lama. Ternyata benar, Dia tidak masuk hari ini. Tasnya ia tinggal di atas mejanya. Aku akan mencari tau ini semua sendiri.
***
“Assalamualaikum, Pa. Diaz pulang.” Aku menggantungkan tas sekolahku, lalu berjalan masuk kamar papaku. Biasanya sore-sore begini papa selalu duduk di depan jendela kamarnya.
“Papa,” panggilku berulang kali saat tidak ku dapatkan papa di depan jendela kamarnya.
Papa ke taman. Berjalan – jalan sore
Sebuah kertas bertuliskan tulisan tangan papa ku temukan diatas meja. Papa ternyata ke taman. Kegiatannya kalau sudah benar-benar suntuk. Aku melihat kasur papa, sangat bernatakan tempat tidur itu. Akhirnya ku putuskan untuk membersihkannya dulu.
“Apa ini?” Aku menemukan sebuah foto yang sudah usang di bawah bantal Papa. Ada empat orang. Seorang lelaki dan seorang wanita menggendong dua orang bayi. Yang lelaki sangat mirip dengan papa, sedangkan yang wanita juga mirip dengan foto mama. Lalu,berarti bayi yang di gendong mama dan papa itu aku, aku dan… siapa bayi yang satu lagi?
***
“Melamun pagi-pagi itu tidak ada gunanya.” Suara itu kembali menyapaku. Aku masih memikirkan apa yang telah ku temukan kemarin, foto papa dan mama yang menggendong dua orang bayi. Aku juga memikirkan mimpiku tadi malam yang tak kunjung berubah, Dia dengan kalimat, “maaf, seharusnya aku melindungimu,” dan di selingi dengan seorang anak yang di pukuli seorang lelaki.
“Maafkan aku, seharusnya aku melindungimu.” Dia berkata pelan.
“Siapa kamu sebenarnya? Perkataan itu, mimpi itu, apa maksudnya?”
“Dulu, aku memiliki sebuah keluarga,” Dia memulai ceritanya. “Namun semua hancur karena kemampuanku. Namaku Diazanka, dan aku memiliki adik kembar yang lahir selisih satu jam denganku, bernama Diaza.”
“Apa?! Aku tak mengerti maksudmu, Di?” aku bertambah bingung. Apa-apaan semua ini?
“Aku dilahirkan berbeda seperti manusia biasa. Namun aku memiliki kemampuan bisa melihat kejadian yang akan datang. Aku juga bisa mendatangi alam mimpi dan bayang seseorang. Tapi, semua ini justru menghancurkan keluargaku. Papa sangat membenciku, karena aku dianggap pembawa sial. Sehari sebelum Papa bangkrut, aku sudah memberitahunya, namun Papa tidak percaya. Saat hari itu tiba, dan ternyata perkataanku benar, Papa marah besar. Dia memakiku, memukulku, menyiksaku, bahkan aku tidak dianggapnya anak karena dianggap kalau perkataankulah penyebab semua ini. Aku si pembawa sial. Aku dihukum tidak boleh berbicara apapun kepada Papa atau Mamaku, bahkan dengan adikku, kalau aku langgar, papa akan kembali memukuliku” Dia menarik nafas sejenak, menghembuskannya, lalu meneruskan ceritanya, “adikku yang selalu melindungiku dari Papa, setiap Papa marah, hanya dialah yang dapat membuat Papa tenang dan tidak memarahiku. Hingga akhirnya, Mama, Papa, dan kau, Diaz, berencana pergi keluar kota untuk mengunjungi rekan Papa, namun aku melihat bahwa akan terjadi suatu hal yang sangat buruk yang akan menimpan perjalanan kalian. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku sangat menyesal, seharusnya saat itu aku berani berbicara! Aku sangat menyesal! Kalian pergi, sedangkan aku tidak diizinkan ikut. Aku membisikan sesuatu ketelingamu sebelum pergi, ‘melompatlah saat mobil papa mulai goyah’ dan kamu mengangguk. Ternyata benar, mobil Papa terbalik, Mama meninggal, Papa terluka parah, sedangkan kamu, kepalamu terbentur dan membuatmu kehilang ingatan. Saat memulihkan ingatanmu, Papa tak pernah memperkenalkanku padamu, karena aku selama ini hanya dititipkan pada adik bungsu Mama, di Lampung. Aku tidak dianggap anak lagi. Hingga saat ini, aku kesini, hanya ingin mengucapkan, maafkan aku adikku.” Dia mengakhiri ceitanya. Aku terpaku, antara percaya dan tidak. Namun aku memang pernah kehilangan ingatan saat usiaku delapan tuhun.
***
“Papa,” Aku menghampiri papa yang sedang melamun di depan jendela kamarnya. Aku membalikan kursi rodanya kearah pintu yang tadinya ia belakangi.
“Si... Siapa di..dia?” Tanya papa
“Di…Diazanka Pufit..rasriu,”papa berbisik tertahan, air matanya tergenang,
“Papa!” Dia berlari memeluk papa. Berlutut, meletakkan kepalanya diatas kedua kaki papa yang terduduk diatas kursi roda. Papa memeluk Dia, seperti tak ingin dilepaskan.
“Maaf… Ma..afkan, Ppa..Pppa, Nak.”
“Tidak Pa, Dia yang bersalah. Dia yang telah membuat Papa seperti ini, Dia tetap anak sial, Pa.. Maafkan Dia…”
“Ssseharusnya Ppapa per..caya kam..u”
Akhirnya semua kebohongan ini terungkap. Semua pertanyaanku terjawab. Dia sengaja masuk kealam mimpiku untuk memberi tahu semua ini. Dan semua ucapan maaf papa itu karena hal ini, karena papa memisahkan aku dengan Dia.
_SELESAI_
Namanya Dia, Diazanka Pufitrasriu, sebuah nama kepanjangan yang susah diingat. Dia adalah murid baru, katanya dia pindah dari pulau Sumatera. Dari pertama kali masuk Dia tidak pernah berbicara, kecuali bila guru bertanya padanya. Teman-teman yang bertanya sesuatu padanyapun tak Dia jawab. Itu membuatnya tidak disukai. Tak ada yang tau penyebabnya mengapa sikap Dia sangat dingin seperti itu. Dan dasar nasib apes sedang berpihak padaku, Bu Tatin wali kelasku menyuruh Dia duduk sebangku denganku. Karena kebetulan Galih teman satu bangkuku baru saja pindah sekolah.
“Hai, aku Diaza Putria, cukup panggil aku Diaz. Nama kita hampir mirip ya?” Sapaku. Dia tetap diam. Aku sudah siap menelan pil pahit saat menegur manusia ciptaan Tuhan yang sangat pendiam satu ini.
“Eh, Dia, denger-denger di Sumatera lebih panas dibandingin di Jakarta ya?” tanyaku lagi. Dia masih terus diam, matanyapun tak sedikitpun menatapku.
“Dia, kok kayaknya aku pernah ngeliat kamu ya? Kamu pernah masuk tv ya?”tanyaku yang kesekian kali. Sudah ku putuskan, kalau pertanyaanku satu ini tidak ia jawab, aku akan menjerit dan bilang “Kamu tuli ya?!”
“Memang benar kita pernah ketemu” Jawabnya datar. Aku terdiam. Bertemu?
“Maksud kamu?”
Dia tidak menjawab lagi. Hufh.. mulai lagi nih anak diem. Low bat kali ya. Gerutuku dalam hati. Begitu seterusnya Dia hanya diam, tak menjawab kalau tidak benar-benar membuatnya ingin menjawab. Walaupun di kalangan teman-teman, ia termasuk anak yang sombong, tapi Dia sangat disukai guru. Karena kecerdasannya. Tak pernah ia tak bisa menjawab semua pertanyaan dari guru. Kalau dimintai pendapatpun, ia selalu memberi pendapat yang simple namun jelas dan tepat.
Ada satu hal lagi yang aneh sejak kehadirannya. Tiga malam ini, aku selalu bermimpi tentang Dia. Dia datang ke mimpiku dengan wajah yang sama, datar. Namun di mimpiku, ia berkata perkataan yang selalu sama setiap malam, “Maaf, seharusnya aku melindungimu” Setelah Dia berkata seperti itu, Dia lalu berlalu pergi. Awalnya aku menganggap itu hanya mimpi biasa, tapi lama kelamaan aku mulai penasaran, apa maksud dari mimpi itu.
Pagi itu, aku melihat Dia datang masih dengan wajahnya yang datar. Aku melihatnya dari jauh. Aku tidak tahu perasaan apa ini, mengapa aku merasa begitu dekat dengannya. Dengan seseorang yang baru pertama kali aku temui.
“Diaz,” panggil seseorang. Aku terbelalak kaget saat yang menyapaku pagi itu adalah Dia. “Tolong pagi ini kamu jangan ikut upacara” Dia berkata sedikit ragu-ragu
“Jangan? Mengapa?” tanyaku bingung. Dia tidak menjawab, ia berlalu begitu saja. Dasar sinting! Batinku. Aku tak menghiraukan kata-kata Dia. Pagi ini aku akan tetap ikut upacara. Karena pagi ini yang menjadi pemipin upacara adalah kakak kelas pujaanku. Bisa terlewat dapat pemandangan indah kalau aku lewatkan. Lagian, atas dasar apa ia melarangku?
Upacara dimulai, hari ini cuaca sangat terik. Upacarapun seperti berlangsung sangat lama. Keringat sudah sangat banyak memandikan tubuhku. Mataku berkunang-kunang, pusing. Mengapa tiba-tiba gelap? Dan …
Kepalaku sangat berat, sangat sakit. Mataku sangat sulit untuk di buka. Aku berusaha, dan akhirnya aku bisa membuka mata. Remang-remang aku mendapati seseorang di sampingku, sedang duduk sambil menunduk, siapa?
“Dia” Ucapku pelan. Setengah tak percaya kalau orang yang menungguiku adalah Dia.
“Sudah ku bilang, jangan ikut upacara” Dia berkata sambil memalingkan wajahnya
“Tau darimanakalau aku akan pingsan?”
“Aku tidak berkata kau akan pingsan,” jawab Dia santai.
***
“Ampun, Pa. Ampun,”
“Sudah saya bilang, jangan bicara aneh-aneh kamu!” bentak pria itu sambil terus menyabetkan seutas ikat pinggang ke badan anak kecil yang sedang tengkurap diatas kasur.
“Ampun Pa, ampun” lirih anak itu lagi
“Jangan panggil aku Papa! Dasar anak sialan!” bentak lelaki itu tanpa belas kasihan. Anak kecil itu merintih kesakitan.
“Papa, berhenti. Jangan pukulin kak Dia lagi Pa,” tiba-tiba seorang anak perempuan berkepang dua memeluk lelaki itu. Lelaki itu melemah, dan menghentikan sabetannya.
“Dia sudah menghancurkan hidup Papa, Nak. Hidup kita. Kebahagiaan kita terampas karena anak sial ini.” Jelas lelaki itu. Anak lelaki itu berusaha beranjak dari tempat penyiksaannya itu. Ia berjalan terseok menjauhi lelaki dan anak perempuan yang amat ia sayanginya itu. Anak lelaki itu duduk disamping seorang ibu yang juga badannya penuh luka.
Aku terbangun. Mimpi bermimpi. Mimpi yang aneh, begitu jelas terekam. Siapa mereka sebenarnya. Aku melihat jam yang menempel di dinding kamarku, masih menunjukan angka dua malam. Aku beranjak bangun dan keluar untuk mengambi segelas air putih.
“Di.. Diaz” panggil seseorang saat aku baru saja satu tegukan air. Aku menoleh.
“Papa, belum tidur?” jelasku. Aku hanya tinggal berdua dengan Papa. Papaku saat ini cacat karena kecelaan yang menimpanya, aku dan mama saat usiaku tujuh tahun. Papa selamat dengan keadaan yang sangat kritis. Ia kehilangan kedua kakinya, serta kemampuannya untuk berbicarapun tak selancar dulu lagi. Sepeninggalan mama, aku hidup betiga dengan tante Ratih, adik Papa. Namun karena tante Ratih sudah menikah dan saat itu akupun sudah dewasa, tante Ratih pergi ikut suaminya pergi ke Bali dan mempercayakan aku. Tinggallah aku berdua dengan Papa. Aku mengurus segala sesuatu keperluan papa. Untuk menghidupi aku dan Papa, aku bekerja sepulang sekolah. Semua itu aku jalani dengan hati yang ikhlas, sehingga aku bisa bahagia menghadapinya.
“Sudah malam, Pa. Sekarang Papa tidur dulu. Supaya besok segar lagi.” Aku mendorong kursi roda papa dan memopoh papa kke tempat tidur. Aku menyelimutinya.
“Diaz sayang Papa” Ucapku seraya mencium kening Papaku sebelum meninggalkannya keluar kamar,
“Di..Diaz ma..aaf…” Papa berkata pelan. Papa selalu berkata seperti itu setelah aku melakukan sesuatu untuknya.
“Papa tidak pernah buat salah. Jadi tidak perlu minta maaf begitu.” Jawabku lembut. Lampu kamar papa ku matikan, dan akupun kembali tidur.
***
“Pagi Dia,” sapaku pada Dia yang selalu datang lebih awal daripada aku. Seperti biasa Dia tidak menjawab sapaanku. Aku mulai bisa menerima sifat anehnya itu.
“Ini,” aku menyodorkan sebuah buku catatanku padanya. “Ini buku catatanku. Nanti sepulang sekolah aku tidak bisa kumpul kelompok untuk mengerjakan tugas, jadi aku sudah rangkum semalam.”
“Dasar anak kecil, pasti kamu akan pergi main.” Ujar Dia ketus. Aku tersenyum, ”aku bukan mau main, tapi setiap hari sepulang sekolah aku bekerja. Teman-teman yang lain sudah banyak yang tau kalau aku selalu bekerja sepulang sekolah. Dan sekarang, aku yang memberi tahumu.” Jelasku Aku melihat reaksinya, alisnya menyatu tapi tatapannya tetap ditujukannya ke depan. Seperti seseorang yang tidak mengerti.
“Papa aku sedang sakit, jadi aku yang harus berusaha sendiri untuk meneruskan sekolah.” Aku kembali menjelaskan. Tapi tiba-tiba, Dia meneteskan air mata tanpa sedikitpun menatapku. Tatapannya terus kosong menatap kedepan.
“Maaf, seharusnya aku melindungimu.” Ucapnya bergetar. Ucapannya kali ini sama persis seperti apa yang ia sampaikan dalam mimpiku. Belum sempat aku bertanya, Dia sudah beranjak pergi. Aku tidak mungkin menanyakan mimpi itu padanya. Karena aku yakin ia tidak akan percaya. Satu lagi yang ingin aku tanyakan, mengapa ia tiba-tiba menangis saat mendengar penjelasanku tadi?
“Apa mungkin semua ini ada artinya? Mimpi-mimpi itu seperti bukan sebuah mimpi.” Aku sangat ingin tahu, apa maksud semua ini. Apa aku harus mencari tau semuanya? Tapi bagaimana caranya? Apa aku harus memberanikan diri bertanya pada Dia? Yah, sepertinya itu jalan satu-satunya. Aku keluar kelas mencari Dia. Kemana anak itu? Aku berjalan mencainya keliling sekolah. Pelajaran sebentar lagi akan dimulai, tapi ia tidak ku temukan. Akhirnya ku putuskan tidak meneruskan mencarinya karena pasti akan memakan waktu lama. Ternyata benar, Dia tidak masuk hari ini. Tasnya ia tinggal di atas mejanya. Aku akan mencari tau ini semua sendiri.
***
“Assalamualaikum, Pa. Diaz pulang.” Aku menggantungkan tas sekolahku, lalu berjalan masuk kamar papaku. Biasanya sore-sore begini papa selalu duduk di depan jendela kamarnya.
“Papa,” panggilku berulang kali saat tidak ku dapatkan papa di depan jendela kamarnya.
Papa ke taman. Berjalan – jalan sore
Sebuah kertas bertuliskan tulisan tangan papa ku temukan diatas meja. Papa ternyata ke taman. Kegiatannya kalau sudah benar-benar suntuk. Aku melihat kasur papa, sangat bernatakan tempat tidur itu. Akhirnya ku putuskan untuk membersihkannya dulu.
“Apa ini?” Aku menemukan sebuah foto yang sudah usang di bawah bantal Papa. Ada empat orang. Seorang lelaki dan seorang wanita menggendong dua orang bayi. Yang lelaki sangat mirip dengan papa, sedangkan yang wanita juga mirip dengan foto mama. Lalu,berarti bayi yang di gendong mama dan papa itu aku, aku dan… siapa bayi yang satu lagi?
***
“Melamun pagi-pagi itu tidak ada gunanya.” Suara itu kembali menyapaku. Aku masih memikirkan apa yang telah ku temukan kemarin, foto papa dan mama yang menggendong dua orang bayi. Aku juga memikirkan mimpiku tadi malam yang tak kunjung berubah, Dia dengan kalimat, “maaf, seharusnya aku melindungimu,” dan di selingi dengan seorang anak yang di pukuli seorang lelaki.
“Maafkan aku, seharusnya aku melindungimu.” Dia berkata pelan.
“Siapa kamu sebenarnya? Perkataan itu, mimpi itu, apa maksudnya?”
“Dulu, aku memiliki sebuah keluarga,” Dia memulai ceritanya. “Namun semua hancur karena kemampuanku. Namaku Diazanka, dan aku memiliki adik kembar yang lahir selisih satu jam denganku, bernama Diaza.”
“Apa?! Aku tak mengerti maksudmu, Di?” aku bertambah bingung. Apa-apaan semua ini?
“Aku dilahirkan berbeda seperti manusia biasa. Namun aku memiliki kemampuan bisa melihat kejadian yang akan datang. Aku juga bisa mendatangi alam mimpi dan bayang seseorang. Tapi, semua ini justru menghancurkan keluargaku. Papa sangat membenciku, karena aku dianggap pembawa sial. Sehari sebelum Papa bangkrut, aku sudah memberitahunya, namun Papa tidak percaya. Saat hari itu tiba, dan ternyata perkataanku benar, Papa marah besar. Dia memakiku, memukulku, menyiksaku, bahkan aku tidak dianggapnya anak karena dianggap kalau perkataankulah penyebab semua ini. Aku si pembawa sial. Aku dihukum tidak boleh berbicara apapun kepada Papa atau Mamaku, bahkan dengan adikku, kalau aku langgar, papa akan kembali memukuliku” Dia menarik nafas sejenak, menghembuskannya, lalu meneruskan ceritanya, “adikku yang selalu melindungiku dari Papa, setiap Papa marah, hanya dialah yang dapat membuat Papa tenang dan tidak memarahiku. Hingga akhirnya, Mama, Papa, dan kau, Diaz, berencana pergi keluar kota untuk mengunjungi rekan Papa, namun aku melihat bahwa akan terjadi suatu hal yang sangat buruk yang akan menimpan perjalanan kalian. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku sangat menyesal, seharusnya saat itu aku berani berbicara! Aku sangat menyesal! Kalian pergi, sedangkan aku tidak diizinkan ikut. Aku membisikan sesuatu ketelingamu sebelum pergi, ‘melompatlah saat mobil papa mulai goyah’ dan kamu mengangguk. Ternyata benar, mobil Papa terbalik, Mama meninggal, Papa terluka parah, sedangkan kamu, kepalamu terbentur dan membuatmu kehilang ingatan. Saat memulihkan ingatanmu, Papa tak pernah memperkenalkanku padamu, karena aku selama ini hanya dititipkan pada adik bungsu Mama, di Lampung. Aku tidak dianggap anak lagi. Hingga saat ini, aku kesini, hanya ingin mengucapkan, maafkan aku adikku.” Dia mengakhiri ceitanya. Aku terpaku, antara percaya dan tidak. Namun aku memang pernah kehilangan ingatan saat usiaku delapan tuhun.
***
“Papa,” Aku menghampiri papa yang sedang melamun di depan jendela kamarnya. Aku membalikan kursi rodanya kearah pintu yang tadinya ia belakangi.
“Si... Siapa di..dia?” Tanya papa
“Di…Diazanka Pufit..rasriu,”papa berbisik tertahan, air matanya tergenang,
“Papa!” Dia berlari memeluk papa. Berlutut, meletakkan kepalanya diatas kedua kaki papa yang terduduk diatas kursi roda. Papa memeluk Dia, seperti tak ingin dilepaskan.
“Maaf… Ma..afkan, Ppa..Pppa, Nak.”
“Tidak Pa, Dia yang bersalah. Dia yang telah membuat Papa seperti ini, Dia tetap anak sial, Pa.. Maafkan Dia…”
“Ssseharusnya Ppapa per..caya kam..u”
Akhirnya semua kebohongan ini terungkap. Semua pertanyaanku terjawab. Dia sengaja masuk kealam mimpiku untuk memberi tahu semua ini. Dan semua ucapan maaf papa itu karena hal ini, karena papa memisahkan aku dengan Dia.
_SELESAI_
Senin, 24 Agustus 2009
Doa plus bonus...

Aku berdoa, agar aku bisa mengikutinya.. Sebuah kegiatan yang hanya diikuti oleh orang2 terpilih... LKMM Nas 2009 di unpad jatinangor 3-9 Agustus 2009 kemarin... Aku sadar, aku bukanlah orang pilihan apalagi orang terbaik di institusiku. Tapi aku yakin, apabila Allah mengizinkanku, berarti Allah langsunglah yang telah memilihku... Dan, dengan syukur yang besar, aku terpilih.. tanggal 1 aku berangkat ke Jawa Barat dengan perasaan campur aduk, bahagia dan takut. Bahagia karena ini adalah event terbesar yang pernah aku ikuti, dan takut karena aku yakin dengan mengikutinya akan mendapatkan tanggunbg jawab, yaitu mengharumkan nama institusi...
tanggal 3 aku mulai datang dan beraktifitas. Aku tercengang, aku berkenalan dengan mahaswa/mahasiswi terbaik yang di balut dengan warna-warni almamter. Universitas besarpun ada. aku merasa sangat kecil brada diantara mereka. Lambat laun, aku mulai bisa menempatkan diri, aku begitu merasakan suasana kekeluargaan yang hangat di tengah mereka. Mereka memberiku motivasi dn semangat saat aku mulai putus asa. Kami belajar bersama.
Para peserta LKMM Nas 2009 membentuk persatuan yaitu Peuyeum 2009 yang merupakan singkatan dari Pemimpin Unggul yang Enggan Untuk Menyerah.
Tanggal 9 kami berpisah, berpisah untuk sementara, karena kami semua meyakini, ini adalah sebuah permulaan, awal langkah yang akan mengawali langkah cemerlang kami... Hidup Peuyem, hidup ISMKI, hidup Mahasiswa!!!!!!!!!
special thx to Peuyeum 2009 We are the best!
Selasa, 02 Juni 2009
Kilal Anugrah
cerpen oleh : Thera febrika Nur Fajri
Dari dalam kamarku, tampak sepetak kumpulan tempat tinggal yang ku belum menyangka, bahwa itu tempat tinggal manusia. Makhluk yang sama-sama terlahir dari rahim seorang wanita, yang juga manusia. Sepertiku. Pagi, saat mataku terbuka. Siang diantara kesibukanku, dan malam ketika lelah menyergapku, jendela kamarku yang berada di lantai dua rumah hasil kerja kerasku sengaja takku beri tirai, karena aku ingin selalu menatap lukisan Tuhan yang terus berubah. Malam, gelap. Siang, benderang.
***
Aku menjalarkan kakiku pada kursi malas kesayanganku. Kursi itu ku hadapkan tepat di depan jendela, sehingga aku bisa menikmati sebuah drama yang Tuhan anugrahkan. Sebuah kesempurnaan. Aku ingin beristirahat, sebelum lelah menderaku. Aneh memang, namun itulah pemikiranku. Mataku tertuju pada sebuah tempat tinggal. Dindingnya terbuat dari papan tipis, atapnya beratapkan anyaman ilalang yang dikeringkan. Hujan pagi ini membuatku ikut menggigil membayangkan, seberapa menderitanya mereka yang berpenghuni di sana. Begitu miskin dan menderita sepertinya. Aku tidak ingin melulu meyalahkan presiden dan dedengkotnya, karena rakyatnya miskin sepertin apa yang sedang aku lihat. Karena tidak sepenuhnya mereka tukang sedot hak orang, atau bahasa kerennya korupsi. Bapakku dulu juga miskin. Lebih miskin dari mereka. Bapak, mamak dan bapaknya bapak dulu tak memiliki tempat tinggal malah. Namun, siapa duga, sekarang kakek sudah menjadi pengusaha besar? Bukankah semua itu kembali ke usaha masing-masing dan kehendak Yang Kuasa? Namun, aku tak juga membela bapak pemimpin dan dedengkot-dedengkotnya, karena mereka gagal menangani kesusahan rakyatnya. Bisa dibakar masa nanti aku, kalau aku tidak membela Pak Presiden dan wakil rakyat. Mungkin mereka sudah usaha, namun tak rata dan tak ada pemikiran jangka panjang untuk itu semua. Itulah mengapa, aku tak ingin terlalu ikut memperdebatkan sebenarnya siapakah yang salah, pemerintah dengan negara, ataukah manusia dan usaha? Karena menurutku itu suatu kebodohan besar. Tanggung. Lalu, mereka kemanakan kehendak Tuhan? Harusnya mereka menambahkan siasat dintara siasat mereka, ”bagaimana cara berdoa yang baik agar Tuhan memberikan jalan terbaik?” Diantara perdebatan opini dalam lamunku, mataku menangkap sebuah sosok keluar dari tempat tinggal yang selalu ku perhatikan jarang ada manusia di dalamnya. Anak kecil. Usang, sepertinya dia sangat bau. Yeak. Ia keluar tergopoh-gopoh memegangi perutnya. Menuju beranda rumahnya, lalu duduk. Dari kejauhan tampak ia sedang tak berbahagia. Aku merenung. Mataku tetep tertuju pada manusia kecil berkepala botak itu. Sesekali ia menyeka pipinya dengan lengan kanannya. Begitu seterusnya
***
”Terimakadsih, dok” ucap kedua pasang suami istri itu dengan wajah berseri.
Aku tersenyum. Menjadi orangtua seperti mereka adalah impianku. Menggendong atau menggandeng seorang makhluk mungil yang ku cinta. Namun itu sudah menjadi sebuah mimpi. Pendamping hidupku meninggalkanku karena aku tak bisa mewujudkan mimpiku, keinginannku, yang juga keinginannya, menjadi orang tua yang melahirkan seorang bayi dari rahimku. Rahimku sudah tak berfungsi lagi. Seberapa banyakpun sperma yang membuahi sel telurku, percuma. Aku mandul.
”Mang, jangan lupa di kunci ya ruangan saya,”
”Baik, dok” Aku tersenyum sambil mengangguk ke arah Mang Ndong, penjaga tempat praktikku. Arlojiku sudah menunjukan angka sembilan malam, malam ini banyak sekali wanita yang akan menjadi seorang wanita yang sempurna. Aneh memang, aku membantu mereka, pasangan yang datang penuh harap dan pulang dengan kebahagiaan, sedangkan aku sendiri tak bisa seperti mereka. Mengandung bayi. Terkadang aku iri. Namun aku tak tahu, pada siapa aku salahkan ini semua. Malam ini begitu dingin, mungkinn karena baru saja selesai hujan. Aku membuka pintu mobil yang ku parkir tepat di depan tempat praktikku. Saat aku hendak masuk ke mobil, aku berhenti. Telingaku mendengar gigilan seseorang. Aku membaikan badan. Aku dapati seorang anak kecil, hanya berbalut kulit di malam sedingin ini. Ia memeluk kedua lututnya yang dilipat. Meringkuk seperti trenggiling. Aku menghampirinya. Ia terlihat kaget, hampir saja ia lari. “Tunggu sebentar,” cegahku. Wajahnya pucat. Giginya beradu, menggigil.
“Ibumu mana?” tanyaku. Ia menggeleng. Apa dia anaknya Mang Ndong? Tapi, setahuku, Mang Ndong tak punya keluarga di sini. Aku berfikir sejenak, apa yang harus saya lakukan untuknya, tak perduli siapa dia.
“Tunggu sebentar.” Aku sedikit berlari menuju mobilku, mengambil baju hangat yang selalu aku sediakan kala dinginn menderaku. Aku menyelimutinya.
“Dok, siapa anak ini?” Mang Ndong terlihat kaget saat menemukanku bersama anak kecil ini..
“Mang, tolong buatkan teh manis hangat,ya” aku tak menjawab pertanyaan Mang Ndong. Percuma saja, akupun tak tahu dia siapa. Aku mengangkat tubuh bekunya, lalu ku tidurkan di dalam mobilku yang berada tepat di samping kami. Aku mengusap perlahan keningnya, “tega sekali ibunya, meninggalkan anak sekecil ini sendiri.” Bathinku. Mang Ndong datang dengan segelas teh hangat di tangannya. Aku langsung meminumkannya ke anak itu.
“Pelan, masih panas.” Ucapku. Anak itu mengangguk. Ia meniupnya dulu sebelum meminumnya. Anak yang pintar. “Ya Tuhan, mengapa aku merasa sangat menyayaginya? Begitu mendadaknya aku merasakan ini. Siapa anak ini? Apakah ia penjawab doa-doaku?” Tanyaku konyol.
***
Namanya Kilal. Saat ku temukan ia sedang pergi mencari ibunya. Kilal anak yang cerdas, tak ada pertanyaanku yang tak dijawab olehnya. Jawaban yang sedikit liar, jawaban yang tak di miliki oleh anak-anak seusianya.
”Kilal ingin mencari ibu. Katanya, Ibu pergi membeli gula. Tapi sampai malam, malam, malam lagi ibu tidak pulang. Padahal, Kilal lapar” celotehnya. Aku mendengarkan celotehannya. Ekspresinya sangat menggelikan, setiap ia berbicara, tangangnya tak bisa diam. Layaknya Pak Susilo yang sedang pidato.
“Nama mbak siapa?”tanyanya padaku. Aku tersenyum, ”panggil saja aku Mama.” Ucapku sambil membelai kepalanya. Ia mengangguk-angguk. Banyak kejadian lucu selama dua hari aku bersamanya, misalnya saat itu Kilal memanggilku dengan sebutan, “ Mbak mama“.
Tidak tahu kenapa, tak pernah terbesit dalam pikiranku untuk mengembalikannya pulang, atau menanyakan dari mana asalnya. Aku terlanjur menyayaginya. Dua hari Kilal menghipnotisku dengan keceriaannya. Aku tahu, anak seusianya sedang mendambakan seorang ibu. Dan akupun tahu, bahwa aku sangat mendambakan seorang anak. Begitu kebetulan yang sangat membahagiakan bagiku.
“Mama, apa Mama tau, berapa umur Kilal?“ tanyanya.
“Hmmm, kira-kira umur Kilal, lima tahun.” Terkaku.
“O” jawabnya singkat, lalu terdiam. Kilal terdiam, lama sekali. Dua bola matanya kosong, menerawang, jauh sekali.
”Ada apa, Kilal?” tanyaku sambil membelai kepala botak yang baru sedikit di tumbuhi rambut. Kilal tidak menjawab, ia terus terdiam. ”Kilal lapar? Mama buatkan makanan ya?” tanyaku. Kilal pun tak menjawab.
”Kilal takut bapak.” Ucapnya lirih. Aku tak berkomentar apa-apa. Aku tak mengerti maksud ucapannya barusan.
”Setiap hari, Kilal dipukul pakai rotan untuk ibu memukul jemuran kasur yang Kilal pipisin. Tapi Kilal tetap sayang Bapak. Kata Ibu, Bapak marah juga karena bapak sayang Kilal.”
” Mengapa hanya Bapak? Kilal tidak kangen dengan ibu Kilal?”
” Ibu sudah dikubur. Kata bapak, Ibu nggak boleh Kilal kangenin lagi, karena dia
nanti bisa nangis kalau Kilal kangen. Padahal, Kilal kangen banget...” semakin lama, ucapannya semakin lirih. Tangisnya pecah saat ku dekap. Dalam dekapanku, Kilal berbisik, ”Kilal, kangen Bapak... Ibu juga.” Aku peluk ia hingga tertidur. Aku dapat merasakan apa yang anak ini rasakan. Rasa kesepian yang dideranya saman saja dengan rasa kesepian yang menderaku.
***
”Mama!!!! Berentiiiiiii...” pekiknya saat aku akan melewati sebuah gang kecil tak jauh dari rumahku. Aku berniat mencarikan alamat Kilal, namun belum sempat aku menekan pedel gas mobilku, Kilal sudah menyuruhku untuk berhenti.
”Kenapa?” Tanyaku bingung.
”Itu!”
Aku mengerutkan alis. Apa maksud anak ini. Apa rumahnya masuk kedalam gang yang tepat di samping rumahku ini?
”Ma, buka pintunya.” Pinta Kilal. Aku menurutinya. Kilal langsung keluar, namun aku bingung, apa yang harusnya aku lakukan.
”Ayo, Ma! Rumah Kilal, masuk situ!” Kilal menunjuk gang tikus itu. Aku turun dari mobil. Menutup pintu. Belum sempat aku mengunci pitu mobilku, tanganku sudah di tarik oleh Kilal. Kilal menarikku, memasuki gang kecil, sumpek dan bau itu. Dinding sebelah kiriku adalah pagar rumahku. Kilal terus menarik tanganku sambil sedikit berlari. Wajahnya terlihat girang sekali. Kakinya berhenti tiba-tiba, nafasnya terengah-engah, seraya berkata, “ini rumah Kilal, Mama!“ pekiknya. Mataku terbelalak tak percaya. Aku berbalik kebelakang. Ternyata Kilal adalah anak itu. Anak yang saat itu menangis. Anak yang saat itu ku bayangkan, betapa bau dia.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam. “Kilal....“ aku langsung menyusul Kilal ke dalam rumahnya. Mataku terbelalak manakala melihat Kilal memeluk tubuh kaku dengan mulut berlumuran cairan putih.
”Bapak... Ini Kilal. Bapak kenapa?” Kilal menangsi sambil tak juga mengendurkan rengkuhannya.Aku menghampiri Kilal. Mememriksa denyut nadi bapaknya. Nihil. Kilal sudah tak punya siapa-siapa lagi kini.
”Ya ampun, Pak Rahman!” terdengar suara seseorang dari depan pintu.
“Kilal, Bapakmu kenapa?” tanya orang itu. Kilal menggeleng sambil sesekali menyeka tetesan air matanya.
Bapak itu menjulurkan tangannya ke hidung bapaknya Kilal. ”Innalillahi wa’innailahi roji’un...” Ucapnya seraya.
”Maaf, ibu ini siapa?” tanya orang itu kepadaku.
”Dia Mama Kilal, Pakde” Orang itu mengerutkan alisnya tanda tak mengerti.
”Kilal saya temukan di depan tempat bekerja saya, Pak.” Jawabku. Sepertinya pria itu cukup mengerti maksudku.
”Kasihan anak ini. Bu. Dia tak memiliki siapa-siapa lagi kini. Semalam, Bapaknya pulang dalam keadaan mabuk. Dari Kilal di kandung, hingga ia lahir dan beranjak besar sekalipun ia tak pernah mengakui Kilal sebagai anaknya. Karena Kilal dianggap anak haram ibunya dengan orang lain. Namun semalam, dalam keadaan mabuk, Bapaknya selalu menjerit dan memanggil-manggil nama Kilal.”
Pria itu mengelus kepala Kilal. ”Tolong rawat dia, Bu.” ucap pria itu liri.
Aku dan istriku belum mampu menyandang biaya hidupnya.
”Bapak tenang saja, saya sangat mencintai Kilal. Saya tidak akan menyia-nyiakan dia.
”Terimakasih, Bu. Anak secerdas Kilal memang pantas mendapatkan yang terbaik.”
Aku dan Pria itu membujuk Kilal untuk pergi meninggalkan bapaknya. Kilal bersih keras tidak mau melepaskan bapaknya yang sudah tidak bernyawa lagi itu. Namun akhirnaya Kilal bersedia setelah aku dan pria itu menjelaskan bahwa bapaknya tidak akan
kembali lagi. Kilal mencium kening bapaknya, air matanya tak henti mengalir.
”Kilal sayang bapak.” ucapnya untuk terakhir kali di te;inga kanan bapaknya.
***
”Hati-hati ya sayang. Jangan lupa pakai baju hangat yang Mama kirimkan. O iya, Mama kirimkan juga bubuk wedang jahe kesukaan kamu. Belajar yang rajin, jangan lupa beribadah, jangan kecewakan Mama.” Ucapku kepada Kilal.
”Iya Mamaku,” jawab Kilal dari sebrang.
”Ich liebe dich, Mama” ucap Kilal sebelum mematikan telponnya. Sekarang Kilal yang dulu ku temukan dan yang kini telah menjadi anakku, menuntut ilmu di negeri sebrang. Jerman menjadi pilihannya.
“Kilal pingin menjadi dokter yang hebat seperti mama“ Itu yang mendorong ia pergi ke sana. Di belakang namanya, ku tambahkan sebuah nama. Kilal Anugrah. Karena, Kilal adalah Anugrah yang Tuhan titipkan untukku
Dari dalam kamarku, tampak sepetak kumpulan tempat tinggal yang ku belum menyangka, bahwa itu tempat tinggal manusia. Makhluk yang sama-sama terlahir dari rahim seorang wanita, yang juga manusia. Sepertiku. Pagi, saat mataku terbuka. Siang diantara kesibukanku, dan malam ketika lelah menyergapku, jendela kamarku yang berada di lantai dua rumah hasil kerja kerasku sengaja takku beri tirai, karena aku ingin selalu menatap lukisan Tuhan yang terus berubah. Malam, gelap. Siang, benderang.
***
Aku menjalarkan kakiku pada kursi malas kesayanganku. Kursi itu ku hadapkan tepat di depan jendela, sehingga aku bisa menikmati sebuah drama yang Tuhan anugrahkan. Sebuah kesempurnaan. Aku ingin beristirahat, sebelum lelah menderaku. Aneh memang, namun itulah pemikiranku. Mataku tertuju pada sebuah tempat tinggal. Dindingnya terbuat dari papan tipis, atapnya beratapkan anyaman ilalang yang dikeringkan. Hujan pagi ini membuatku ikut menggigil membayangkan, seberapa menderitanya mereka yang berpenghuni di sana. Begitu miskin dan menderita sepertinya. Aku tidak ingin melulu meyalahkan presiden dan dedengkotnya, karena rakyatnya miskin sepertin apa yang sedang aku lihat. Karena tidak sepenuhnya mereka tukang sedot hak orang, atau bahasa kerennya korupsi. Bapakku dulu juga miskin. Lebih miskin dari mereka. Bapak, mamak dan bapaknya bapak dulu tak memiliki tempat tinggal malah. Namun, siapa duga, sekarang kakek sudah menjadi pengusaha besar? Bukankah semua itu kembali ke usaha masing-masing dan kehendak Yang Kuasa? Namun, aku tak juga membela bapak pemimpin dan dedengkot-dedengkotnya, karena mereka gagal menangani kesusahan rakyatnya. Bisa dibakar masa nanti aku, kalau aku tidak membela Pak Presiden dan wakil rakyat. Mungkin mereka sudah usaha, namun tak rata dan tak ada pemikiran jangka panjang untuk itu semua. Itulah mengapa, aku tak ingin terlalu ikut memperdebatkan sebenarnya siapakah yang salah, pemerintah dengan negara, ataukah manusia dan usaha? Karena menurutku itu suatu kebodohan besar. Tanggung. Lalu, mereka kemanakan kehendak Tuhan? Harusnya mereka menambahkan siasat dintara siasat mereka, ”bagaimana cara berdoa yang baik agar Tuhan memberikan jalan terbaik?” Diantara perdebatan opini dalam lamunku, mataku menangkap sebuah sosok keluar dari tempat tinggal yang selalu ku perhatikan jarang ada manusia di dalamnya. Anak kecil. Usang, sepertinya dia sangat bau. Yeak. Ia keluar tergopoh-gopoh memegangi perutnya. Menuju beranda rumahnya, lalu duduk. Dari kejauhan tampak ia sedang tak berbahagia. Aku merenung. Mataku tetep tertuju pada manusia kecil berkepala botak itu. Sesekali ia menyeka pipinya dengan lengan kanannya. Begitu seterusnya
***
”Terimakadsih, dok” ucap kedua pasang suami istri itu dengan wajah berseri.
Aku tersenyum. Menjadi orangtua seperti mereka adalah impianku. Menggendong atau menggandeng seorang makhluk mungil yang ku cinta. Namun itu sudah menjadi sebuah mimpi. Pendamping hidupku meninggalkanku karena aku tak bisa mewujudkan mimpiku, keinginannku, yang juga keinginannya, menjadi orang tua yang melahirkan seorang bayi dari rahimku. Rahimku sudah tak berfungsi lagi. Seberapa banyakpun sperma yang membuahi sel telurku, percuma. Aku mandul.
”Mang, jangan lupa di kunci ya ruangan saya,”
”Baik, dok” Aku tersenyum sambil mengangguk ke arah Mang Ndong, penjaga tempat praktikku. Arlojiku sudah menunjukan angka sembilan malam, malam ini banyak sekali wanita yang akan menjadi seorang wanita yang sempurna. Aneh memang, aku membantu mereka, pasangan yang datang penuh harap dan pulang dengan kebahagiaan, sedangkan aku sendiri tak bisa seperti mereka. Mengandung bayi. Terkadang aku iri. Namun aku tak tahu, pada siapa aku salahkan ini semua. Malam ini begitu dingin, mungkinn karena baru saja selesai hujan. Aku membuka pintu mobil yang ku parkir tepat di depan tempat praktikku. Saat aku hendak masuk ke mobil, aku berhenti. Telingaku mendengar gigilan seseorang. Aku membaikan badan. Aku dapati seorang anak kecil, hanya berbalut kulit di malam sedingin ini. Ia memeluk kedua lututnya yang dilipat. Meringkuk seperti trenggiling. Aku menghampirinya. Ia terlihat kaget, hampir saja ia lari. “Tunggu sebentar,” cegahku. Wajahnya pucat. Giginya beradu, menggigil.
“Ibumu mana?” tanyaku. Ia menggeleng. Apa dia anaknya Mang Ndong? Tapi, setahuku, Mang Ndong tak punya keluarga di sini. Aku berfikir sejenak, apa yang harus saya lakukan untuknya, tak perduli siapa dia.
“Tunggu sebentar.” Aku sedikit berlari menuju mobilku, mengambil baju hangat yang selalu aku sediakan kala dinginn menderaku. Aku menyelimutinya.
“Dok, siapa anak ini?” Mang Ndong terlihat kaget saat menemukanku bersama anak kecil ini..
“Mang, tolong buatkan teh manis hangat,ya” aku tak menjawab pertanyaan Mang Ndong. Percuma saja, akupun tak tahu dia siapa. Aku mengangkat tubuh bekunya, lalu ku tidurkan di dalam mobilku yang berada tepat di samping kami. Aku mengusap perlahan keningnya, “tega sekali ibunya, meninggalkan anak sekecil ini sendiri.” Bathinku. Mang Ndong datang dengan segelas teh hangat di tangannya. Aku langsung meminumkannya ke anak itu.
“Pelan, masih panas.” Ucapku. Anak itu mengangguk. Ia meniupnya dulu sebelum meminumnya. Anak yang pintar. “Ya Tuhan, mengapa aku merasa sangat menyayaginya? Begitu mendadaknya aku merasakan ini. Siapa anak ini? Apakah ia penjawab doa-doaku?” Tanyaku konyol.
***
Namanya Kilal. Saat ku temukan ia sedang pergi mencari ibunya. Kilal anak yang cerdas, tak ada pertanyaanku yang tak dijawab olehnya. Jawaban yang sedikit liar, jawaban yang tak di miliki oleh anak-anak seusianya.
”Kilal ingin mencari ibu. Katanya, Ibu pergi membeli gula. Tapi sampai malam, malam, malam lagi ibu tidak pulang. Padahal, Kilal lapar” celotehnya. Aku mendengarkan celotehannya. Ekspresinya sangat menggelikan, setiap ia berbicara, tangangnya tak bisa diam. Layaknya Pak Susilo yang sedang pidato.
“Nama mbak siapa?”tanyanya padaku. Aku tersenyum, ”panggil saja aku Mama.” Ucapku sambil membelai kepalanya. Ia mengangguk-angguk. Banyak kejadian lucu selama dua hari aku bersamanya, misalnya saat itu Kilal memanggilku dengan sebutan, “ Mbak mama“.
Tidak tahu kenapa, tak pernah terbesit dalam pikiranku untuk mengembalikannya pulang, atau menanyakan dari mana asalnya. Aku terlanjur menyayaginya. Dua hari Kilal menghipnotisku dengan keceriaannya. Aku tahu, anak seusianya sedang mendambakan seorang ibu. Dan akupun tahu, bahwa aku sangat mendambakan seorang anak. Begitu kebetulan yang sangat membahagiakan bagiku.
“Mama, apa Mama tau, berapa umur Kilal?“ tanyanya.
“Hmmm, kira-kira umur Kilal, lima tahun.” Terkaku.
“O” jawabnya singkat, lalu terdiam. Kilal terdiam, lama sekali. Dua bola matanya kosong, menerawang, jauh sekali.
”Ada apa, Kilal?” tanyaku sambil membelai kepala botak yang baru sedikit di tumbuhi rambut. Kilal tidak menjawab, ia terus terdiam. ”Kilal lapar? Mama buatkan makanan ya?” tanyaku. Kilal pun tak menjawab.
”Kilal takut bapak.” Ucapnya lirih. Aku tak berkomentar apa-apa. Aku tak mengerti maksud ucapannya barusan.
”Setiap hari, Kilal dipukul pakai rotan untuk ibu memukul jemuran kasur yang Kilal pipisin. Tapi Kilal tetap sayang Bapak. Kata Ibu, Bapak marah juga karena bapak sayang Kilal.”
” Mengapa hanya Bapak? Kilal tidak kangen dengan ibu Kilal?”
” Ibu sudah dikubur. Kata bapak, Ibu nggak boleh Kilal kangenin lagi, karena dia
nanti bisa nangis kalau Kilal kangen. Padahal, Kilal kangen banget...” semakin lama, ucapannya semakin lirih. Tangisnya pecah saat ku dekap. Dalam dekapanku, Kilal berbisik, ”Kilal, kangen Bapak... Ibu juga.” Aku peluk ia hingga tertidur. Aku dapat merasakan apa yang anak ini rasakan. Rasa kesepian yang dideranya saman saja dengan rasa kesepian yang menderaku.
***
”Mama!!!! Berentiiiiiii...” pekiknya saat aku akan melewati sebuah gang kecil tak jauh dari rumahku. Aku berniat mencarikan alamat Kilal, namun belum sempat aku menekan pedel gas mobilku, Kilal sudah menyuruhku untuk berhenti.
”Kenapa?” Tanyaku bingung.
”Itu!”
Aku mengerutkan alis. Apa maksud anak ini. Apa rumahnya masuk kedalam gang yang tepat di samping rumahku ini?
”Ma, buka pintunya.” Pinta Kilal. Aku menurutinya. Kilal langsung keluar, namun aku bingung, apa yang harusnya aku lakukan.
”Ayo, Ma! Rumah Kilal, masuk situ!” Kilal menunjuk gang tikus itu. Aku turun dari mobil. Menutup pintu. Belum sempat aku mengunci pitu mobilku, tanganku sudah di tarik oleh Kilal. Kilal menarikku, memasuki gang kecil, sumpek dan bau itu. Dinding sebelah kiriku adalah pagar rumahku. Kilal terus menarik tanganku sambil sedikit berlari. Wajahnya terlihat girang sekali. Kakinya berhenti tiba-tiba, nafasnya terengah-engah, seraya berkata, “ini rumah Kilal, Mama!“ pekiknya. Mataku terbelalak tak percaya. Aku berbalik kebelakang. Ternyata Kilal adalah anak itu. Anak yang saat itu menangis. Anak yang saat itu ku bayangkan, betapa bau dia.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam. “Kilal....“ aku langsung menyusul Kilal ke dalam rumahnya. Mataku terbelalak manakala melihat Kilal memeluk tubuh kaku dengan mulut berlumuran cairan putih.
”Bapak... Ini Kilal. Bapak kenapa?” Kilal menangsi sambil tak juga mengendurkan rengkuhannya.Aku menghampiri Kilal. Mememriksa denyut nadi bapaknya. Nihil. Kilal sudah tak punya siapa-siapa lagi kini.
”Ya ampun, Pak Rahman!” terdengar suara seseorang dari depan pintu.
“Kilal, Bapakmu kenapa?” tanya orang itu. Kilal menggeleng sambil sesekali menyeka tetesan air matanya.
Bapak itu menjulurkan tangannya ke hidung bapaknya Kilal. ”Innalillahi wa’innailahi roji’un...” Ucapnya seraya.
”Maaf, ibu ini siapa?” tanya orang itu kepadaku.
”Dia Mama Kilal, Pakde” Orang itu mengerutkan alisnya tanda tak mengerti.
”Kilal saya temukan di depan tempat bekerja saya, Pak.” Jawabku. Sepertinya pria itu cukup mengerti maksudku.
”Kasihan anak ini. Bu. Dia tak memiliki siapa-siapa lagi kini. Semalam, Bapaknya pulang dalam keadaan mabuk. Dari Kilal di kandung, hingga ia lahir dan beranjak besar sekalipun ia tak pernah mengakui Kilal sebagai anaknya. Karena Kilal dianggap anak haram ibunya dengan orang lain. Namun semalam, dalam keadaan mabuk, Bapaknya selalu menjerit dan memanggil-manggil nama Kilal.”
Pria itu mengelus kepala Kilal. ”Tolong rawat dia, Bu.” ucap pria itu liri.
Aku dan istriku belum mampu menyandang biaya hidupnya.
”Bapak tenang saja, saya sangat mencintai Kilal. Saya tidak akan menyia-nyiakan dia.
”Terimakasih, Bu. Anak secerdas Kilal memang pantas mendapatkan yang terbaik.”
Aku dan Pria itu membujuk Kilal untuk pergi meninggalkan bapaknya. Kilal bersih keras tidak mau melepaskan bapaknya yang sudah tidak bernyawa lagi itu. Namun akhirnaya Kilal bersedia setelah aku dan pria itu menjelaskan bahwa bapaknya tidak akan
kembali lagi. Kilal mencium kening bapaknya, air matanya tak henti mengalir.
”Kilal sayang bapak.” ucapnya untuk terakhir kali di te;inga kanan bapaknya.
***
”Hati-hati ya sayang. Jangan lupa pakai baju hangat yang Mama kirimkan. O iya, Mama kirimkan juga bubuk wedang jahe kesukaan kamu. Belajar yang rajin, jangan lupa beribadah, jangan kecewakan Mama.” Ucapku kepada Kilal.
”Iya Mamaku,” jawab Kilal dari sebrang.
”Ich liebe dich, Mama” ucap Kilal sebelum mematikan telponnya. Sekarang Kilal yang dulu ku temukan dan yang kini telah menjadi anakku, menuntut ilmu di negeri sebrang. Jerman menjadi pilihannya.
“Kilal pingin menjadi dokter yang hebat seperti mama“ Itu yang mendorong ia pergi ke sana. Di belakang namanya, ku tambahkan sebuah nama. Kilal Anugrah. Karena, Kilal adalah Anugrah yang Tuhan titipkan untukku
Gumintang
cepen oleh: Thera Febrika Nur Fajri
Gumintang berjalan terengah-engah sambil memegangi perutnya. Mulutnya berlumuran cairan merah pekat yang terus mengalir. Ini semua diluar rencananya. Ia tidak tahu, bagian mana yang ia lewati hingga ia bisa tertangkap saat tangannya mencongkel perlahan jendela rumah Pak Kosim, si kaya itu. ”Sial!” batinnya. Tidak dapat harta malah dapat siksa. Gumintang mengerutkan alisnya, dan menggigit bibir bawahnya menahan perih yang tak terkira akibat pukulan warga. Tidak tahu berapa buah kayu yang mereka daratkan ke tubuhnya. Gumintang berfikir keras, bagaimana caranya agar rencana keduanya akan berhasil. Pak Kosim. Selain memiliki harta yang melimpah, Pak Kosim juga memiliki seorang anak gadis yang amat rupawan. Setiap lelaki pasti akan mengeras melihatnya, termasuk Gumintang, pria setengah abad yang sebentar lagi akan mati, yang sudah sepuluh tahun sendiri. Setelah membersihkan semua rasa perih dan nyeri hebat itu, ia duduk dipinggiran tempat tidur tak beralas, lalu kembali memutar otaknya. Gumintang tak tahu lagi harus bagaimana agar manusia-manusia itu tak mengetahui renacana bejatnya, bisa mati ia bila kembali tertangkap. Pasti manusia-manusia itu sudah mengincarnya, sudah menjaga ketat rumah Pak Kosim. Seandainya di desa ini bukan hanya Pak Kosim yang kaya raya dan memiliki anak gadis yang tupawan, pasti Gumintang tidak akan gentar mendilik rumah pak Kosim. Di desa ini, hanya Pak Kosimlah yang kaya raya. Ia adalah juragan singkong. Ditengah rincunya fikirannya, tiba-tiba Gumintang merasa ada susuatu hal bodoh yang selama ini tak pernah ia rasakan. Yaitu rasa kesepian yang teramat. Sepuluh tahun lalu, ia masih memiliki anak gadis berusia tujuh belas tahun yang amat lucu, Ratna namnaya. Kepang duanya sangat cantik, secantik senyumannya. Persis seperti ibunya. Cantik. Ah, tapi itu dulu. Sekarang Ratna dan ibunya tak tahu kemana. Mereka pergi karena melihat Gumintang, pekerjaan dan hidunya. Gumintang sudah tiga kali masuk penjara, namun sudah tiga kali pula ia melarikan diri. Hidupnya kini sudah tidak tenang. Namun impiannya untuk kaya tak bisa ia kendalikan. Iapun bingung, kelak bila ia sudah kaya, hendak kemana ia pergi untuk menkmati kekayaannya..
”Kriuk,” sebuah suara tidak mengenakan terdengar numpang lewat, mengalaarmkan bahwa perutnya tidak sanggup lagi menahan rasa lapar yang tak kunjung di sembuhkan. Gumintang menoleh kekiri kanan, mencari-cari apa yang bisa ia makan. Tidak ada apa-apa. Disini hanya ada satu dipan untuk tidur, satu kursi dan satu meja kayu rapuh. Gumintang mendapatkan ini semuapun adalah suatu keberuntungan. Tak ada yang tahu, bahwa penunggu sepetak rumah ini adalah seorang Gumintang, yang pencariannya hampir sama dengan pencarian teroris. Gumintang berusaha melupakan semuanya, keluarganya dan laparnya. Gumintang harus bersabar hingga malam tiba, karena ia akan mendapatkan uang banyak nanti malam. Ia yakin.
Gumintang merogoh kantong celananya. Ada sebuah logam kecil. Limaratus, hanya itu yang ia temukan. Uang ini pasti uang pemilik asli celana ini. Saat Gumintang memalingnya dari jemuran, ia tidak sempat merogoh kantongnya dulu. ”Lumayan, kebetulan saya lapar”
Gumintang mengenakan topi bau yang ia temukan di got, rambut gondrongnya ia gulung dan dimasukan kedalam topi itu. Ia menunduk sambil menatap lurus ke tanah. Semoga tidak ada manusia yang menyireninya. Gumintang mengendap keluar rumah, menuju sebuah warung yang tak jauh dari rumahnya. Tidak ada siapa-siapa, hanya ada dua ibu-ibu, satu penjual, dan satu lagi pembeli. Mereka terlihat akrab tertawa seperti tidak memikirkan suami mereka yang mungkin saja sedang membanting peluh untuk menghidupi keluarga. Gumintang mengambil sebuah roti kecil, merogoh kantongnya, lalu...
”...katanya sih namanya Gum...Gum... ah, saya lupa siapa namanya,”tiba-tiba ibu pembeli meneruskan pembicaraannya. Gumintang tersadar bahwa yang sedang mereka bicarakan adalah dirinya. Gumintang berhenti merogoh kantongnya, ia ingin mendengarkan apa saja yang ibu-ibu itu tahu tentang dirinya. Seberapa jauhkah ia terkenal?
”sudah tiga kali bolak-balik keluar masuk penjara belum jera juga! Terbuat apa hatinya itu...” si penjual ikut berpartisipasi, sekarang giliran si pembli mengangguk-angguk.
”Maaf bu, seperti apa Gumintang itu?” Ucap Gumintang. Ia ingin tahu, apa manusia-manusia yang membencinya itu tahu bahwa manusia dihadapan mereka itulah Gumintang, si maling yang melebihi seorang selebritis.
”Hm, katanya dia itu hitam, bungkuk dan...” ibu pembeli menjawab dengan santai, ”salah.”bathin Gumintang bersorak.
”Dia memiliki bekas baretan besar dikepalanya, dan rambutnya panjang.”
”benar! Untung saja aku mengenakan topi. Bisa pingsan kalian kalau aku melepaskan topiku.” bathin Gumintang lagi. Ia seperti seorang presenter kuis di televisi. Gumintang meletakkan uang lima ratusan untuk membeli roti yang ada di tangannya, lalu pergi begitusaja. Terlihat kekecewaan yang teramat dari kedua wajah ibu penjual dan pembeli itu, karena Gumintang tidak mengucapkan terimakasih atas informasi yang telah ia lontarkan atau hanya sebuah kata permisi untuk mengakhiri pertemuan. Dasar manusia-manusia Indonesia, sangat sopan.
Gumintang berjalan sambil melahap roti itu, sekali habis. Hanya bisa mengisi secuil bagian perutnya yang saat itu sedang sangat lapar. ”Sabar, apabila aku sudah kaya, akan ku isi kau dengan makanan-makanan yang enak” ucapnya sambil meraba perut keroncongannya.
Sebelum masuk rumahnya, Gumintang mendapatkan keramaian. Katanya Bu Siti, tetangganya tiba-tiba saja jatuh pingsan, lalu mati. Ia seorang diri, anaknya tidak ada, apalagi suaminya yang telah mati lama. Bi Siti tinggal sendiri sepertinya.Tidak ada yang mau menguburkan Bu Siti, karena Bu Siti dikabarkan mati tidak wajar, kena santet atau apalah itu. Gumintang mendekatkan diri pada mayat Bu Siti yuang mati meringkuk. Gumintang mengangkat tubuh Bu Siti, menugaskan sebagian ibu-ibu untuk membersihkan tubuh Bu Siti, sementara ia menggali lubang kubur. Gumintang tidak ingin nasib ibunya dulu mendera bu Siti. Ibu Gumintang adalah seorang jahat seperti dirinya, ia adalah seorang perempuan liar yang mau pada siapa saja, asal orang itu ada uang, orang-orang sangat membenci ibu Gumintang, namun ibu Gumintang sangat baik pada dirinya dan pada saat itu masih terlalu kecil untuk Gumintang mengerti mengapa manusia yang lain sangat membenci ibunya. Hingga akhirnya ibu Gumintang ditemukan mati diantara pohon-pohon singkong, telanjang bulat. Tak ada orang yang menaruh kasihan padanya. Mayatnya dibiarkan tiga hari disana, Gumintang menangis, sambil memeluk ibunya, hingga bau menyergap ibunya, ia bergerak. Gumintang memanggil semua orang, siapa saja dia, asal bisa menguburkan ibu. Akhirnya ada seorang bapak yang luluh, kasihan pada Gumintang kecil. Akhirnya, hiduplah Gumintang seorang diri, hidup liar dan tidak terkendali setelah obunya dikuburkan. Tidak ada yang mau merawatnya, karena keadaan ekonomi keluarga desanya tidak baik.
Gumintang menepuk-nepuk kedua telapak tangannya membersihkan tanah-tanah yang mengotorinya. Bu Siti telah ia semayamkan, beres sudah. Untung saja, ia selalu bekerja pada malam hari, jadi hingga kini, tak ada sorangpun yang mengenalinya.
Gumintang berjalan pulang, tak ada seorangpun yang mengucapkan terimakasih padanya, karena memang tidak ada yang perduli. Ternyata aku masih memiliki hati. Bathin Gumintang sambil berjalan masuk kerumahnya, lalu tertidur hingga malam tiba.
***
Akhirnya saat yang dinantipun tiba. Hari sudah gelap, sudah menunjukan angka 2malam. Tepat sekali, susana mendung akan membantunya. Saat seperti ini pasti manusia akan terlelap tidur.
Gumintang memanjat dinding tinggi yang berada dibelakang rumah Pak Kosim, tinggi, namun itu perkara mudah bagi Gumintang. Setelah itu Gumintang mencongkel pintu belakang rumah Pak Kosim dengan perlahan, perlahan sekali hingga... terbuka. ”kali ini tidak boleh gagal” pekik Gumintang dalam hati.
Gumintang sudah memasuki bagian belakang rumah besar ini, ia mendapati sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka, ”ah, pasti itu kamar pembantunya” bisik Gumintang. Gumintang berfikir sejenak. Dia sangat menginginkan tubuh anak gadis si kaya ini, tapi tak ada rotan, akarpun jadi. Dia mengeluarkan obat bius andalannya untuk membius. Gunibtang memilih pembantu Pak Kosim untuk ia nikmati. Sudah lama kebutun biologisnya tidak terpenuhi, dan inilah saatnya. Tak mendapati anak Pak Kosim, pembantunya pun sudah cukup Gumintang masuk perlahan.
”Wanita muda yang malang dan cantik” ucap Gumintang lembut. Gumintang menyemprotkan cairan pembius itu sedikit, lalu mendekap mulut wanita itu. Sempat terdengar sedikit pekikan, namun itu tak lama. Gumintang mulai bermain, hingga puas.
Gumintang turun dan merapikan kembali pakaiannya setelah selesai, ia tidak boleh berlama-lama, karena sebentar lagi pagi dan ia harus melancarkan rencana selanjutnya lagi. Saat membereskan pakaian, seketika Gumintang tersentak kaget, kakinya lemas. Meja samping tempat tidur wanita itu ada sebuah foto. Foto itu sangan ia kenal. Foto seorang wanita dan pria yang sedang menggandeng anak gadis kecil berkepang dua. Wanita itu adalah Asih, istrinya, berarti.... ini ..... Ratna....
Gumintang gemetar. Dia sudah menghancurkan hidup anaknya sendiri. Ternyata anaknya bekerja sebagai pembantu dirumah pak Kosim selama ini. Gumintang lemas, keluar dengan lunglai dan menangis. Semua rencana ia urungkan. Tega sekali ia telah menodai anak gadisnya sendiri.
***
”Masuk!” Bentak seorang pria berseragam polisi menendang Gumintang. Ini adalah pilihan Gumintang. Mimpinya untuk menjadi kaya telah sirna. Impiannya saat ini adalah ingin menebus kesalahannya pada Ratna, anak tersayangnya.
”Maafkan Bapak, Nak.” ucap Gumintang lirih dan tertunduk.
Gumintang berjalan terengah-engah sambil memegangi perutnya. Mulutnya berlumuran cairan merah pekat yang terus mengalir. Ini semua diluar rencananya. Ia tidak tahu, bagian mana yang ia lewati hingga ia bisa tertangkap saat tangannya mencongkel perlahan jendela rumah Pak Kosim, si kaya itu. ”Sial!” batinnya. Tidak dapat harta malah dapat siksa. Gumintang mengerutkan alisnya, dan menggigit bibir bawahnya menahan perih yang tak terkira akibat pukulan warga. Tidak tahu berapa buah kayu yang mereka daratkan ke tubuhnya. Gumintang berfikir keras, bagaimana caranya agar rencana keduanya akan berhasil. Pak Kosim. Selain memiliki harta yang melimpah, Pak Kosim juga memiliki seorang anak gadis yang amat rupawan. Setiap lelaki pasti akan mengeras melihatnya, termasuk Gumintang, pria setengah abad yang sebentar lagi akan mati, yang sudah sepuluh tahun sendiri. Setelah membersihkan semua rasa perih dan nyeri hebat itu, ia duduk dipinggiran tempat tidur tak beralas, lalu kembali memutar otaknya. Gumintang tak tahu lagi harus bagaimana agar manusia-manusia itu tak mengetahui renacana bejatnya, bisa mati ia bila kembali tertangkap. Pasti manusia-manusia itu sudah mengincarnya, sudah menjaga ketat rumah Pak Kosim. Seandainya di desa ini bukan hanya Pak Kosim yang kaya raya dan memiliki anak gadis yang tupawan, pasti Gumintang tidak akan gentar mendilik rumah pak Kosim. Di desa ini, hanya Pak Kosimlah yang kaya raya. Ia adalah juragan singkong. Ditengah rincunya fikirannya, tiba-tiba Gumintang merasa ada susuatu hal bodoh yang selama ini tak pernah ia rasakan. Yaitu rasa kesepian yang teramat. Sepuluh tahun lalu, ia masih memiliki anak gadis berusia tujuh belas tahun yang amat lucu, Ratna namnaya. Kepang duanya sangat cantik, secantik senyumannya. Persis seperti ibunya. Cantik. Ah, tapi itu dulu. Sekarang Ratna dan ibunya tak tahu kemana. Mereka pergi karena melihat Gumintang, pekerjaan dan hidunya. Gumintang sudah tiga kali masuk penjara, namun sudah tiga kali pula ia melarikan diri. Hidupnya kini sudah tidak tenang. Namun impiannya untuk kaya tak bisa ia kendalikan. Iapun bingung, kelak bila ia sudah kaya, hendak kemana ia pergi untuk menkmati kekayaannya..
”Kriuk,” sebuah suara tidak mengenakan terdengar numpang lewat, mengalaarmkan bahwa perutnya tidak sanggup lagi menahan rasa lapar yang tak kunjung di sembuhkan. Gumintang menoleh kekiri kanan, mencari-cari apa yang bisa ia makan. Tidak ada apa-apa. Disini hanya ada satu dipan untuk tidur, satu kursi dan satu meja kayu rapuh. Gumintang mendapatkan ini semuapun adalah suatu keberuntungan. Tak ada yang tahu, bahwa penunggu sepetak rumah ini adalah seorang Gumintang, yang pencariannya hampir sama dengan pencarian teroris. Gumintang berusaha melupakan semuanya, keluarganya dan laparnya. Gumintang harus bersabar hingga malam tiba, karena ia akan mendapatkan uang banyak nanti malam. Ia yakin.
Gumintang merogoh kantong celananya. Ada sebuah logam kecil. Limaratus, hanya itu yang ia temukan. Uang ini pasti uang pemilik asli celana ini. Saat Gumintang memalingnya dari jemuran, ia tidak sempat merogoh kantongnya dulu. ”Lumayan, kebetulan saya lapar”
Gumintang mengenakan topi bau yang ia temukan di got, rambut gondrongnya ia gulung dan dimasukan kedalam topi itu. Ia menunduk sambil menatap lurus ke tanah. Semoga tidak ada manusia yang menyireninya. Gumintang mengendap keluar rumah, menuju sebuah warung yang tak jauh dari rumahnya. Tidak ada siapa-siapa, hanya ada dua ibu-ibu, satu penjual, dan satu lagi pembeli. Mereka terlihat akrab tertawa seperti tidak memikirkan suami mereka yang mungkin saja sedang membanting peluh untuk menghidupi keluarga. Gumintang mengambil sebuah roti kecil, merogoh kantongnya, lalu...
”...katanya sih namanya Gum...Gum... ah, saya lupa siapa namanya,”tiba-tiba ibu pembeli meneruskan pembicaraannya. Gumintang tersadar bahwa yang sedang mereka bicarakan adalah dirinya. Gumintang berhenti merogoh kantongnya, ia ingin mendengarkan apa saja yang ibu-ibu itu tahu tentang dirinya. Seberapa jauhkah ia terkenal?
”sudah tiga kali bolak-balik keluar masuk penjara belum jera juga! Terbuat apa hatinya itu...” si penjual ikut berpartisipasi, sekarang giliran si pembli mengangguk-angguk.
”Maaf bu, seperti apa Gumintang itu?” Ucap Gumintang. Ia ingin tahu, apa manusia-manusia yang membencinya itu tahu bahwa manusia dihadapan mereka itulah Gumintang, si maling yang melebihi seorang selebritis.
”Hm, katanya dia itu hitam, bungkuk dan...” ibu pembeli menjawab dengan santai, ”salah.”bathin Gumintang bersorak.
”Dia memiliki bekas baretan besar dikepalanya, dan rambutnya panjang.”
”benar! Untung saja aku mengenakan topi. Bisa pingsan kalian kalau aku melepaskan topiku.” bathin Gumintang lagi. Ia seperti seorang presenter kuis di televisi. Gumintang meletakkan uang lima ratusan untuk membeli roti yang ada di tangannya, lalu pergi begitusaja. Terlihat kekecewaan yang teramat dari kedua wajah ibu penjual dan pembeli itu, karena Gumintang tidak mengucapkan terimakasih atas informasi yang telah ia lontarkan atau hanya sebuah kata permisi untuk mengakhiri pertemuan. Dasar manusia-manusia Indonesia, sangat sopan.
Gumintang berjalan sambil melahap roti itu, sekali habis. Hanya bisa mengisi secuil bagian perutnya yang saat itu sedang sangat lapar. ”Sabar, apabila aku sudah kaya, akan ku isi kau dengan makanan-makanan yang enak” ucapnya sambil meraba perut keroncongannya.
Sebelum masuk rumahnya, Gumintang mendapatkan keramaian. Katanya Bu Siti, tetangganya tiba-tiba saja jatuh pingsan, lalu mati. Ia seorang diri, anaknya tidak ada, apalagi suaminya yang telah mati lama. Bi Siti tinggal sendiri sepertinya.Tidak ada yang mau menguburkan Bu Siti, karena Bu Siti dikabarkan mati tidak wajar, kena santet atau apalah itu. Gumintang mendekatkan diri pada mayat Bu Siti yuang mati meringkuk. Gumintang mengangkat tubuh Bu Siti, menugaskan sebagian ibu-ibu untuk membersihkan tubuh Bu Siti, sementara ia menggali lubang kubur. Gumintang tidak ingin nasib ibunya dulu mendera bu Siti. Ibu Gumintang adalah seorang jahat seperti dirinya, ia adalah seorang perempuan liar yang mau pada siapa saja, asal orang itu ada uang, orang-orang sangat membenci ibu Gumintang, namun ibu Gumintang sangat baik pada dirinya dan pada saat itu masih terlalu kecil untuk Gumintang mengerti mengapa manusia yang lain sangat membenci ibunya. Hingga akhirnya ibu Gumintang ditemukan mati diantara pohon-pohon singkong, telanjang bulat. Tak ada orang yang menaruh kasihan padanya. Mayatnya dibiarkan tiga hari disana, Gumintang menangis, sambil memeluk ibunya, hingga bau menyergap ibunya, ia bergerak. Gumintang memanggil semua orang, siapa saja dia, asal bisa menguburkan ibu. Akhirnya ada seorang bapak yang luluh, kasihan pada Gumintang kecil. Akhirnya, hiduplah Gumintang seorang diri, hidup liar dan tidak terkendali setelah obunya dikuburkan. Tidak ada yang mau merawatnya, karena keadaan ekonomi keluarga desanya tidak baik.
Gumintang menepuk-nepuk kedua telapak tangannya membersihkan tanah-tanah yang mengotorinya. Bu Siti telah ia semayamkan, beres sudah. Untung saja, ia selalu bekerja pada malam hari, jadi hingga kini, tak ada sorangpun yang mengenalinya.
Gumintang berjalan pulang, tak ada seorangpun yang mengucapkan terimakasih padanya, karena memang tidak ada yang perduli. Ternyata aku masih memiliki hati. Bathin Gumintang sambil berjalan masuk kerumahnya, lalu tertidur hingga malam tiba.
***
Akhirnya saat yang dinantipun tiba. Hari sudah gelap, sudah menunjukan angka 2malam. Tepat sekali, susana mendung akan membantunya. Saat seperti ini pasti manusia akan terlelap tidur.
Gumintang memanjat dinding tinggi yang berada dibelakang rumah Pak Kosim, tinggi, namun itu perkara mudah bagi Gumintang. Setelah itu Gumintang mencongkel pintu belakang rumah Pak Kosim dengan perlahan, perlahan sekali hingga... terbuka. ”kali ini tidak boleh gagal” pekik Gumintang dalam hati.
Gumintang sudah memasuki bagian belakang rumah besar ini, ia mendapati sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka, ”ah, pasti itu kamar pembantunya” bisik Gumintang. Gumintang berfikir sejenak. Dia sangat menginginkan tubuh anak gadis si kaya ini, tapi tak ada rotan, akarpun jadi. Dia mengeluarkan obat bius andalannya untuk membius. Gunibtang memilih pembantu Pak Kosim untuk ia nikmati. Sudah lama kebutun biologisnya tidak terpenuhi, dan inilah saatnya. Tak mendapati anak Pak Kosim, pembantunya pun sudah cukup Gumintang masuk perlahan.
”Wanita muda yang malang dan cantik” ucap Gumintang lembut. Gumintang menyemprotkan cairan pembius itu sedikit, lalu mendekap mulut wanita itu. Sempat terdengar sedikit pekikan, namun itu tak lama. Gumintang mulai bermain, hingga puas.
Gumintang turun dan merapikan kembali pakaiannya setelah selesai, ia tidak boleh berlama-lama, karena sebentar lagi pagi dan ia harus melancarkan rencana selanjutnya lagi. Saat membereskan pakaian, seketika Gumintang tersentak kaget, kakinya lemas. Meja samping tempat tidur wanita itu ada sebuah foto. Foto itu sangan ia kenal. Foto seorang wanita dan pria yang sedang menggandeng anak gadis kecil berkepang dua. Wanita itu adalah Asih, istrinya, berarti.... ini ..... Ratna....
Gumintang gemetar. Dia sudah menghancurkan hidup anaknya sendiri. Ternyata anaknya bekerja sebagai pembantu dirumah pak Kosim selama ini. Gumintang lemas, keluar dengan lunglai dan menangis. Semua rencana ia urungkan. Tega sekali ia telah menodai anak gadisnya sendiri.
***
”Masuk!” Bentak seorang pria berseragam polisi menendang Gumintang. Ini adalah pilihan Gumintang. Mimpinya untuk menjadi kaya telah sirna. Impiannya saat ini adalah ingin menebus kesalahannya pada Ratna, anak tersayangnya.
”Maafkan Bapak, Nak.” ucap Gumintang lirih dan tertunduk.
Ayo Berbisnis
Yang mampiiir :)
Thera Chibonk
- Thera
- Thera Febrika Nurfajri.. Mahasiswa fakultas kedokteran Universitas malahayati Lampung. Imajinasi adalah sahabatnya saat bersedih dan saat bahagia. Berharap, pembaca dapat ikut serta ke dunia cerita yang Thera suguhkan special untuk anda pembaca yang luar biasa:)
Blog Archive
Recent Posts
Recent comments
Yang habis mampir...
Pengunjung Blog Ini:
Kasih Comment Ya
Berbisnis Yuk:
Penilaian Anda tentang BLOG Ini?
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Cari aja di sini:
Copyright (c) 2010 Kumpulan Cerpen. Design by WPThemes Expert
Blogger Templates, Grocery Coupons and Daily Fantasy Sports.
