Minggu, 08 Mei 2011

Sebuah Penantian

(Peringkat ke III cerpen Mini yang diadakan oleh Kak Hylla/WR04)
Ketika sebuah perasaan terlahir di dalam diri sebuah insan, akan terlahir pula banyak perasaan yang serupa namun sungguh tidak sama. Begitu yang ku rasakan. Enam tahun yang lalu aku menerima sebuah pernyataan cinta seorang lelaki yang kini menjadi pemilik tahta baris ke tiga di hatiku. Tentu saja, kedudukannya setelah Sang Pencipta, kedua orang tuaku dan keluargaku. Saat itu, aku berkenalan dengannya, ia dua tahun di atasku. Ia begitu baik dan terlihat amat penyayang. Membuatku tidak ragu menerimanya. Ia bernama Kian. Kisahku dengan Kian sudah tercipta sejak tahun pertamaku bersekolah berseragamkan putih abu-abu. Ia menyatakan cintanya padaku. Ia adalah lelaki pertama yang menyatakan cintanya padaku. Selama menjalin hubungan, Kian adalah lelaki yang nyaris sempurna. Perhatiannya, keistimewaan yang tiada tara tak segan ia berikan kepadaku.
“Saya suka tempe ini, dan juga suka kamu” Itulah kata-kata yang sempat membuat aliran darahku lebih cepat terpompa. Pernyataan cinta yang unik, namun begitu istimewa terucap di pojok kantin sekolah. Banyak kisah yang tercipta selama aku dekat dengannya. Namun di tahun pertama hubunganku dan Kian, Kian pindah bersama keluarganya ke luar kota. Sebuah kota yang terpisahkan pulau dari tempat tinggalku. Seketika hatiku ragu, mampukah aku mempertahankan perasaan ini.
***
“Bagaimana mungkin kamu lupa dengan hari jadi kita? Ini sudah tahun ke enam!” ucapku kecewa. Telpon genggam ku eratkan ke telingaku. Tanganku gemetar menanti jawabannya. Ia tidak terlalu menanggapi ucapanku.
“Jawab, Kian!”
“Sudahlah, pengganggu!” Kian mematikan saluran telponku. Aku kembali menghubunginya, tapi saluran itu selalu sibuk.
Ini adalah Kian yang sekarang. Aku tidak terlalu mengerti sesibuk apa ia. Aku merasakan hal yang aneh. Saat aku sudah benar-benar mencintainya, ia seakan menjauh. Ada sebuah komitmen yang ia katakan sebelum ia pergi. Kini ia telah sibuk dan melupakan semua komitmen yang ia ucapkan sendiri. Sebuah komitmen untuk tetap menjaga hubungan ini walaupun terpisah jarak yang jauh.
“Sudahlah, cari saja laki-laki lain. Kamu masih muda. Calon arsitek lagi,” itulah kalimat yang selalu di ucapkan oleh mama Rika, sahabatku. Memang sangat mudah berbicara seperti itu. Tapi semuanya sudah terlambat, perasaan ini sudah amat mendalam. Perasaan ini sudah terlanjur ku serahkan seutuhnya pada Kian yang kini tidak seperti dulu.
“Hari jadi kalian saja tak ia ingat. Apalagi komitmen kalian.” Sambung Rika. Aku membenarkan semua perkataannya. Sudah berulang kali aku membuka hati untuk lelaki lain, namun sungguh aku tidak bisa aku begitu saja menyerahkan hati dan perasaan ini untuk lelaki lain.
Aku menekan keypad telpon genggamku.
“Kian, jawab pertanyaanku. Apa kau masih ingat dengan perkataanmu dulu?” sebuah sms terkirim. Hanya kecanggihan teknologi ini yang menjadi temanku. Teknologi ini yang membuatku tetap mencintai Kian. Lama aku menunggu balasan itu, tak kunjung tiba. Namun saat aku sudah hampir melupakannya, dua getaran yang menunjukan sebuah pesan masuk terdengar. Aku membukanya dengan hati yang berdebar.
“Yang mana? Nanti ya sayang, lagi sibuk. Nanti malem saya telf ya. Miss You.”
Bukan jawaban yang ku harapkan. Namun aku berharap saat malam datang aku bisa mengungkapkan kegundahanku padanya. Aku terus menunggu handphoneku berdering. Tidak kunjung terdengar. Hingga malam semakin larut. Aku memutuskan untuk menelponnya. Namun hanya nada sambung yang terdengar, lama dan kemudian di akhiri dengan suara operator yang mengatakan saluran sedang sibuk.
“Apa kau lupa?” aku memilih untuk meng-smsnya kembali. Tidak ada jawaban. Ini bukan kali pertama ia melupakan janji yang ia buat.
Aku menyesali ini. Aku sungguh menyesali perasaan ini. Tangis yang panjang ini tidak akan ia anggap. Salahkah aku benar-benar mencintainya, Tuhan? Selama ini aku bersabar menunggunya menjemputku dengan kebahagiaan di akhir cerita. Namun saat ini, komitmen yang ia buat, hancur. Tidak ada lagi sebait kata cinta yang terurai. Semakin lama, justru aku semakin merasa tidak mengenalnya. Malam ini aku hanya bisa menatap bulan sabit yang melengkung, seolah menyuruhku untuk kembali tersenyum. Aku merindukannya. Sudah satu tahun aku tidak bertemu dengan Kian. Tahun kemarin ia datang menemuiku, itupun hanya beberapa hari dengan alasan ia sedang sibuk.
Saat jarum jam menunjukkan angka tepat jam 12, aku kembali berusaha menghubunginya. Kali ini telponku di jawab. Sebuah suara berat terdengar dari seberang.

Jumat, 15 April 2011

Elang

(Nominator LCR bulan maret)
Tidak banyak yang tahu siapa Elang sebenarnya. Elang adalah seorang teman satu sekolahku. Saat duduk di kelas satu dulu, ia pernah memenangkan berbagai lomba dan olimpiade. Tapi siapa sangka di balik kecemerlangannya itu, ia sudah berpuluh kali keluar masuk buku hitam, bahkan nyaris di keluarkan.
Aku kembali memperhatikannya, pagi ini ia kembali keluar dari ruang guru. Wajahnya sangat tidak memperlihatkan penyesalan sama sekali. Tentu saja, karena ini bukan kali pertama ia bermasalah dengan guru. Menurut gosip yang beredar, ia selalu bisa melontarkan alasan yang cerdas, sehingga guru selalu menyelamatkannya. Elang adalah sosok fenomenal menurutku dan menurut beberapa teman. Ia kerap menggumpalkan tangan dan mendaratkannya berkali-kali dengan kuat ke pipi lawannya. Namun, ia akan dengan santai mengerjakan soal fisika yang disajikan guru. Saat anak lain berkutat dengan kamus English-Indonesianya, Elang sudah berbicara dengan lancar di depan kelas.
“Kamu mengidolakan saya?” lamunanku buyar, ketika sebuah suara menegurku yang sedang asik membicarakan dirinya. Elang sudah duduk tepat di sampingku.
“Banyak manusia geer ya di dunia ini,” jawabku berusaha menutupi kebenaran ucapannya. Elang tersenyum. Sinis. “Sukma Indah,” mataku terbelalak. Dari mana ia mengenal namaku? Dari dulu kami tidak pernah satu kelas. Akupun bukan anak yang terkenal. “nice to meet you,” tutup Elang sambil meninggalkanku pergi. Aku berusaha menyadarkan apa yang baru saja ku alami. Aku baru saja berbicara dengan Elang! Tidak pernah ku melihat ia menegur seseorang, kecuali itu sangat penting. Bahkan baru kali ini aku mendengar suaranya. Ajaib!



Rabu, 19 Januari 2011

Rumah Siput


Rusmini memegang erat pergelangan tangan kiri anaknya. Anak lelaki berambut tipis itu terus mengikuti kemanapun Rusmini melangkah. Tak pernah ia mengeluh, atau bertanya hendak dibawa kemana ia dengan ibunya.
“ Ingat Satria, jangan sekali-kali melepaskan tangan ibu!” Peringat Rusmini untuk kesekian kalinya. Bocah 6 tahun itu hanya bisa mengangguk. Rusmini sangat tau, arti dari anggukan anaknya itu, “Ibu, hendak kemana lagi kita?”
Sudah satu jam mereka mengikuti alur troatoar di kota yang baru mereka datangi. Kota yang berbeda dari sebelumnya, bahkan kota ini lebih jauh dari kota sebelumnya, karena di pisahkan oleh hamparan lautan yang luas. Yah, Rusmini saat ini menginjakkan kakinya di Sumatra.
“Ini di mana ibu?” ucap Satria untuk pertama kali di kota barunya itu.
“Lampung.” Jawab Rusmini seadanya. Satria mengangguk-anggukan kepalanya lagi, “tadi kita naik kapal kan, Bu? Kenapa kita tidak pindah juga?”

Minggu, 22 Agustus 2010

Cerpen 'sederhana' Ramadhan ::: Annisa

Oleh : Thera Febrika NurFajri

Nama aku Annisa. Sebelumnya, aku bernama Christiani Laura. Mingkin sebagian orang bisa menebak, mengapa aku mengganti namaku menjadi Annisa. Namaku diberikan oleh Muhamad Al-Jazalli, mahasiswa asal kota Mexico yang juga kuliah di satu perguruan tinggi di sebuah negara tetangga, Belanda. Di kota kincir angin itu, aku menuntut ilmu selama lima tahun. Dua tahun terakhir, aku mendalami islam, dan tepat pada bulan Ramadhan tahun kemarin, aku menjadi seorang mualaf. Terdengar ganjil memang, aku mengenal islam justru ketika aku berada di negara yang tidak bermasyarakatkan mayoritas islam.
Akhirnya aku menginjakan kaki kembali di kota kelahiranku. Saat itu di depan Bandara Radin Inten, Lampung masih terlihat sepi. Berbeda dengan keadaan

Rabu, 31 Maret 2010

Bunga si Buaya

((Sedang di kirim ke Radar Lampung))
Hidup itu adalah bagaimana cara kita untuk menjalaninya. Warna yang akan kita temui adalah sebuah pilihan yang kita telah pilih. Begitu juga denganku. Aku memilih untuk hidup sendiri. Aku memiliki ayah, aku juga memiliki ibu, namun mereka sama seperti aku, hidup sendiri-sendiri. Selama pernikahan ayah dan ibu hanya memiliki satu anak. Setelah mereka memilih bercerai, mereka ribut memperebutkan aku. Pertengkaran semakin panjang dan rumit, keributan dimana-mana. Dirumah hingga di pengadilan agama. Aku sebagai orang yang diperebutkan tidak pernah ditanyakan, pada siapa aku ingin tinggal., maka dari itu, aku memilih untuk, pergi. Dengan bermodalkan uang 250ribu hasil tabunganku, ijazah SMP, akta kelahiran, foto copy kartu keluarga dan KTP, aku menyebrangi selat sunda. Yang memisahkan daerahku dengan tempat tinggalku sekarang. Tempat yang ku tau adalah ibu kota Indonesia. Yah, pengetahuanku yang saat itu yang baru saja lulus SMP adalah Jakarta. Dibenakku, Jakarta adalah kota yang banjir dengan pekerjaan dan kemewahan. Namun, impianku sirna ketika aku sampai di sebuah terminal bus tepat di kota Jakata. Bangunan pertama yang membuatku terpana adalah Monas!
Hidupku dimulai saat itu. Uangku habis tak bersisa untuk membayar uang untuk menyewa sebuah rumah yang sebenarnya bukan rumah.

Minggu, 24 Januari 2010

BPN ISMKI kembali mengadakan Lomba Jurnalistik



tema kali ini PANDANGAN MAHASISWA TERHADAP PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA

Jadwal kegiatan :
Pembukaan pendaftaran dan pengumpulan karya : 28 Desember 2009 s/d 21 februarii 2010
Penilaian karya oleh juri :21 Februari s/d 9 Maret 2010
Pengumuman pemenang : 11-12 Maret 2010

cp : Engga Demartha (FK UNAND) 081363333010

LOMBA :
essay, poster, puisi dan fotografi
Insert : Rp 25.000 (dua puluh lima ribu rupiah)
di transfer ke :
BNI cabang UI Depok
0131623288
atas nama Selti Rosani

karya dikirim ke :
lombajurnalistik.bpnismki_2009@yahoo.co.id
dg menyertakan :
Nama:
FK :
Asal LPM :
Lembar bukti pembayaran (di scan)
dan nomor hape


Tema: Pandangan Mahasiswa terhadap penegakan Hukum di Indonesia
Sub tema:
1. Puisi
a. Hukum vs Keadilan

2. Poster
a. Pandangan mahasiswa terhadap penegak hukum di Indonesia

3. Essay
a. Sejauh mana hukum negeriku bertindak sbg pembela rakyat

4. Fotografi
a. Memoirs of Indonesian’s law 2009 (memoar law of indonesia in 2009)/ the law memoar of indonesia in 2009 (gak tau tulisan yg betul mana)


Insert peserta: 25rb

Persyaratan
Essay:
1. Setiap peserta diperbolehkan mengirim 2 (dua) artikel.
2. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan EYD yang benar, tidak vulgar, dan tidak mengandung SARA.
3. Panjang tulisan 5000-6000 karakter dengan ukuran kertas A4, diketik 1,5 spasi, font Times New Roman 12 pt, margin 4 cm batas kiri, 3 cm batas kanan, 3 cm batas atas, dan 3 cm batas bawah.
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Poster:
1. Peserta memilih 1 subtema yang disediakan
2. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 karya
3. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media (orisinil) dan belum pernah diperlombakan
4. Karya dikirim dalam format *.jpg
5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Puisi:
1. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim maksimal 2 karya
2. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media (orisinil) dan belum pernah diperlombakan
3. Karya dikirim dalam format *.doc
4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Fotografi:
1. Masing-masing peserta dapat mengirim maksimal 2 karya
2. Karya belum pernah dipublikasikan oleh media dan belum pernah diperlombakan
3. Bukan hasil editan aplikasi design graphic (Adobe Photoshop, Corel Photo-Paint,dll)
4. Karya dikirim dalam format *.jpg
5. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Hadiah:
1. Essay:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat
2. Poster:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat

3. Puisi:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat

4. Fotografi:
a. Juara I :Rp 1.000.000.00+sertifikat
b. Juara II :Rp 650.000.00+sertifikat
c. Juara III :Rp 350.000.00+sertifikat

5. Total Hadiah :Rp 8.000.000.00

Rabu, 14 Oktober 2009

Mana Ayahku

oleh: Thera Febrika NF

Ibu ingin menikah lagi? Apa-apaan ini? Baru kemarin ibu diceraikan oleh suami ketiganya, kini ia berkata bahwa ia baru saja menemukan bakal calon ayah baru untukku? Tidak ada masalah bagiku ibu mau menikah dengan siapa saja ataupun berapa saja, namun sampai sekarang, aku sendiri belum jelas siapa ayahku sebenarnya. Konon ibu pernah bercerita, ayahku adalah lelaki pertama yang ia ‘kawini’ bukan ‘nikahi’. Aku adalah anak dari lelaki tidak sah ibu. Ibu pernah bercerita sedikit tentang ayah dan mengapa ayah lebih memilih pergi ketimbang menikahi ibuku yang saat itu sedang mengandung aku. Kata ibu, ayah adalah seorang pekerja keras, pekerjaannya tidak tetap, ia selalu berpindah-pindah, dari tempat satu ke tempat lain. Itulah mengapa ayah tidak siap menjadikan kami satu keluarga. Ibu menceritakan itu semua dengan mimik muka yang sangat datar. Tidak ada goresan rasa sedih atau kekecewaan saat menceritakannya. Akupun tidak tahu kenapa bisa seperti itu.
“Apa ibu bersedih saat ayah tidak ingin menikahi ibu?” bagi sebagian orang pertanyaanku ini adalah pertanyaan yang sudah pasti jawabnya apabila dilontarkan pada seorang wanita yang tidak dipertanggung jawabkan kehamilannya seperti ibu. Namun, masih sembari mengoleskan lipstick merah mudanya, ia menggeleng singkat dan menjawab, “itu sudah pilihan ayahmu untuk tidak memilih ibu. Ibu akan menderita apabila semua itu di paksakan.”
Aku sadar, reputasi ibu sudah jelek di mata masyarakat. Semua orang yang berpendapat, ibu adalah perempuan murahan yang suka bergonta ganti suami. Namun, bukankah cara seperti itu lebih halal dibandingkan ibu harus kumpul kebo dengan para lelakinya? Yah, semua itu kembali lagi kepada siapa yang memikirkannya.
“Lalu, siapa yang akan menjadi ayahku lagi, Bu?” tanyaku pelan.
“Lanang,” sapa ibu pelan. Lanang adalah bahasa jawa untuk laki-laki, sapaan yang sering ibu lontarkan padaku, “siapapun ayah barumu nanti, itu pasti yang tebaik buatmu.” Bisik lembut ibu. Malam ini ibu begitu cantik. Ibu selalu berdandan sangat cantik setiap malam sabtu. Yah, hanya malam sabtu. Pekerjaan ibu adalah tukang salon keliling, itupun pekerjaan siang hari. Kata ibu, setiap malam sabtu ada langganannya yang mengharapkan ia datang.
“Lanang, jangan lupa kunci pintu. Belajarnya jangan hingga larut, nanti kamu sakit.” Pesan umum yang tidak pernah ibu lupakan.
***
Namaku Ali, Satrio Ali. Aku anak pertama dari lelaki pertama ibuku. Lelaki pertama tapi bukan suami pertama ibuku tepatnya. Aku menerima suratan hidupku dengan ikhlas, walaupun aku agak bingung bagaimana alur sesungguhnya kehidupanku. Aku memiliki ibu dan banyak ayah. Karena ibuku sudah berkali-kali menikah, tapi bukan dengan ayahku. Sejak kecil aku dirawat dan dibesarkan oleh seorang wanita yang hingga tua kini masih memiliki paras yang amat cantik, bernama Laksmi Arumdani. Ia sosok wanita sederhana dan sangat pendiam. Perkataan dan perbuatannya sangat sulit di tebak, mungkin itulah mengapa banyak keturunan Adam mengejar-ngejarnya. Ibuku sudah tiga kali menikah, alasannya cukup sederhana mengapa ia memilih hidup bergonta ganti pasangan, “lebih baik ibu lepaskan, daripada ibu harus menyakiti.” Yah, begitulah ibu.
Pagi ini ibu kembali berangkat berkerja dengan tas lusuh yang berisi peralatan salon kelilingnya.
“Lanang, apa hari ini kamu tidak sekolah?” Tanya ibu mendapatiku masih berpakaian biasa pagi ini.
“Hari ini dan besok, ada rapat guru, Bu.” Jawabku singkat.
“Oh begitu. Ibu berangkat dulu ya lanang, doakan ibu mendapat banyak pelanggan hari ini, agar nanti malam, ibu bisa mentraktirmu pecel bebek di tempat Mang Adang.” Aku mengangguk.
Ibu sangat memanjakanku. Ibu bilang, aku tidak boleh tumbuh menjadi anak lelaki yang liar. Ibu sangat ingin aku menjadi lelaki yang sukses dan tentu saja berprilaku baik. Pernah aku merasa bosan menghadapi semua, di usia remajaku, aku tak berani menentang perintah ibu untuk langsung pulang setelah sekolah. Aku langsung teringat ibu, kebaikan dan kerja keras ibu selalu terbayang saat ada niat untuk melanggar perintahnya. Biarlah aku seperti ini, ibu bahagia, itu sudah lebih dari cukup.
“Ali,”
“Astaghfirullah,” aku terbelalak kaget saat mendapati seseorang di dapur rumahku.
“Siapa kamu?! Jangan macam-macam di rumahku!” bentakku. Seorang lelaki, putih bersih dan sangat wangi tiba-tiba ada di dapur rumahku pagi itu.
“Jangan takut, aku adalah teman ibumu. Ia menyuruhku menungguimu selama ia bekerja.” Jawabnya lembut. Ibu? Tidak pernah ibu bercerita sebelumnya kepadaku. “perkenalkan, namaku L-O-I-S-E,” ia mengeja namanya. “dibaca, Luis”
Aku mengangguk. Hidungnya mancung, matanya sedikit coklat. Wajahnya lelaki, namun aku menangkap aura kelembutan pada dirinya. Bicaranyapun sangat lembut. Apa mungkin dia banci teman salon ibu? “Yah, mungkin saja.”
“siapa nama lengkapmu, Nak?” Tanya Loise yang setelah memperkenalkan diri, kembali duduk membelakangiku.
“Ali, hm, Satrio Ali.” Jawabku
“Sekolah?” tanyanya lagi.
“Dua SMK, jurusan mesin.”
“Pernah mendapatkan juara?”
“Dari SD aku selalu mendapatkan beasiswa.”
“Kau sangat pintar, aku yakin, ayahmupun pintar.”
Ayah? Apa ibu tidak pernah bercerita kalau aku tidak memliki ayah? “Tidak, ayahku sungguh manusia yang ama bodoh dan berfikiran sempit.”
“Mengapa?”
“Karena ia lebih memilih kepentingan dirinya dibandingkan tanggung jawabnya. Sudahlah, lebih baik, kita berbicara yang lain. Aku tidak ingin membicarakan hal cengeng seperti ini.”
Dari perkataanku yang terakhir, ia diam, tidak lagi bertanya ataupun berkata hingga ia menghilang sebelum ibu pulang. Ibu tidak bertanya apapun tentang orang kirimannya tersebut. Akupun malas membahasnya. Pasti hanya membuang waktu saja.
“Lanang, apa kau sudah tau nama calon ayah barumu?” Tanya ibu di sela diamnya. Aku menggeleng tanpa mengalihkan mataku dari buku yang sejak satu jam yang lalu ku baca.
“Dia sangat baik.” Sambung ibu. Ibu, mana mungkin dia memperkenalkan nama calon suaminya kepadaku.
“Ibu, ayahku, ayah kandungku, seperti apa dia?” tanyaku. Ibu terdiam, dan tersenyum. Memang ini pertanyaan yang selalu ku tanyakan setiap kali ibu memutuskan untuk kembali menikah,
“Ia seseorang yang amat sangat baik” jawab ibu pelan dan tenang. Mengapa ibu selalu memvonis semua orang baik, termasuk ayahku yang nyata-nyatanya meninggalkan ia dan aku yang saat itu masih ibu kandung. “Ibu sangat mencintainya,” sambung ibu. Kali ini aku dapat melihat suatu yang sebelumnya tak pernah ku lihat dari ibu, sebuah pancaran ketulusan.
“Apa ayah masih hidup, Bu?” aku kembali bertanya. Pertanyaan ini tak pernah ku tanyakan sebelumnya. Ibu terlihat kaget dengan pertanyaanku,
“Iya lanang, ia masih hidup. Saat ini ia sedang sangat merindukanmu.” Ibu menjawab sambil mengelus perlahan rambutku.
***
“Kamu lagi?” aku sedikit kaget mendapati Loise yang sedang asik membersihkan meja makan yang di atasnya sudah tersaji sepiring masi goreng dan segelas susu coklat. Menu pagi kesukaanku yang biasanya ibu yang menyiapkan.
“Maaf, sudah membuatmu kaget. Makanlah, aku sudah memasakanmu ini. Ini makanan kesukaanku, semoga kamu juga suka.” Ucap Loise. Aku duduk dan memakan semua tanpa memperdulikan Loise. Makanan kesukaannya sama persis seperti makanan kesukaanku yang setiap pagi ibu hidangkan sebelum aku berangkat sekolah. Selama aku melahap semua makanan, mata Loise tak lepas dari aktivitasku, membuatku sedikit risih, namun itu semua tak ku perdulikan. Nasi goreng yang sedang ku lahap ini sangat enak.
“Mengapa kau tidak sekolah?” tanyanya saat suapan terakhir telahku lahap bersih.
“Ada rapat guru, jadi diliburkan.” Jawabku singkat. “Siapa kamu sebenarnya?” tanyaku penasaran, sambil terus melahap sesendok penuh nasi goreng yang ia sajikan. Loise tidak langsung menjawab, ia terdiam.
“Menurutmu?” Loise balik bertanya. Aku mengangkat kedua bahuku, ”kalau aku bertanya, berarti aku tidak tau”
“Aku Loise, aku orang baik dimata ibumu,” jawabnya. Aku melirik ke arahnya, ia tersenyum lembut.
“Ibu selalu mengatakan seseorang baik. Banyak sekali orang baik di sekeliling ibu.”
“Kalau begitu, aku adalah orang yang kau anggap bodoh, dan berfikiran sempit.” Loise berkata, sambil berjalan meninggalkanku.
“Tidak, ayahku sungguh manusia yang ama bodoh dan berfikiran sempit.” Aku tiba-tiba teringat kata-kataku kemarin kepadanya. Berarti, “Hei, tunggu!!!!” panggilku. Aku mengejarnya keluar. Apa benar, ia ayahku? Yah, benarkah? Aku terlambat, ia sudah tidak terlihat lagi. Ayah?
“Lanang, sedang apa kau?” Tanya seseorang dari arah belakang. “Kau menangis?” Tanyanya.
“Ibu, baru saja ayah datang.” Ucapku bergetar. Ibu memelukku erat. Tak kuasa ku menahan tangis, aku sangat merindukan ayah. Aku sangat berharap bisa bertemunya lagi. Walaupun aku sangat membencinya.
“Lanang, kau sudah saatnya tahu yang sesungguhnya.” Ibu berkata pelan dan menggiringku masuk rumah.

“Namanya Loise Serfentoo. Ia lelaki keturunan Belanda yang memiliki warna rambut dan bola mata seperti orang Indonesia. Ia teman ibu dulu. Kita sama-sama membuka usaha salon. Ia sangat baik,” Ibu menghentikan ceritanya sejenak, menarik nafas, lalu meneruskannnya kembali, “Suatu hari, ia menyatakan cintanya pada ibu. Namun itu semua karena ia mencintai Doni, pria yang ibu sayangi.”
Aku terdiam. Berusaha menyaring cerita ibu, “Yah, Loise sadar memiliki kelainan. Ia suka sesamanya. Loise tidak bisa menerima kenyataan itu. Ia marah pada dirinya, ia sangat ingin menentang semua itu, lalu, ia meniduri ibu. Berharap ia dapat membuktikan bahwa ia adalah lelaki normal. Saat itu, ibu sangat kecewa, bersedih karena Doni mengetahui hal itu, dan seketika memutuskan cinta kami. “
“Ibu hamil, Loise bingung. Begitu juga Ibu. ‘Laksmi, aku ingin memperbaiki hidupku dulu. Kelak aku akan kembali untuk mempertanggung jawabkan bayi kita. Aku berjanji. Aku mencintaimu, karena kau mengandung anakku, anak hasil pembuktianku, bahwa aku adalah lelaki normal. Maafkan aku.’ Setelah itu ayahmu pergi meninggalkan ibu dan kau,”
Aku bergetar mendengarnya. Aku perlahan mulai mengerti cerita ibu. Aku mengerti, kenapa ibu menyembunyikan ini semua dariku. Aku ternyata lahir karena emosional ayah terhadap dirinya sendiri.
“Ibu selalu menikah dan memutuskan untuk mengakhirinya, karena ibu masih sangat mengharapkan tanggung jawab dari ayahmu. Ibu mencintai semua suami ibu, namun ibu sesungguhnya merindukan ayahmu. Selama ini, ia selalu mengirimkan ibu uang untuk membiayai hidupmu, menyekolahkanmu. Ia sangat sayang padamu, lanang. Nama Satrio Ali pun ia yang memberikannya, karena ia berharap kau menjadi kesatria bagi ibu, yang bisa melindungi ibu...”
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, aku bingung bagaimana aku harus menentukan sikapku.
“Lalu, siapa lelaki yang akan menjadi ayah baruku?” tanyaku.
“Dia Loise Serfentoo,” jawaban ibu membuat air mataku tak kuasa ku bendung. Tak bisa ku luapkan perasaanku kini, aku sangat bahagia karena sebentar lagi, aku akan berkumpul lagi bersama ayah. Aku yakin, ayah sudah bisa memperbaiki hidupnya, karena ia sudah kembali. Ayah, aku merindukanmu….

Ayo Berbisnis