Minggu, 22 Agustus 2010

Cerpen 'sederhana' Ramadhan ::: Annisa

Oleh : Thera Febrika NurFajri

Nama aku Annisa. Sebelumnya, aku bernama Christiani Laura. Mingkin sebagian orang bisa menebak, mengapa aku mengganti namaku menjadi Annisa. Namaku diberikan oleh Muhamad Al-Jazalli, mahasiswa asal kota Mexico yang juga kuliah di satu perguruan tinggi di sebuah negara tetangga, Belanda. Di kota kincir angin itu, aku menuntut ilmu selama lima tahun. Dua tahun terakhir, aku mendalami islam, dan tepat pada bulan Ramadhan tahun kemarin, aku menjadi seorang mualaf. Terdengar ganjil memang, aku mengenal islam justru ketika aku berada di negara yang tidak bermasyarakatkan mayoritas islam.
Akhirnya aku menginjakan kaki kembali di kota kelahiranku. Saat itu di depan Bandara Radin Inten, Lampung masih terlihat sepi. Berbeda dengan keadaan Bandara Soekarno Hatta, Jakarta saat saya transit yang sudah sangat ramai walaupun masih sangat pagi sekalipun. Aku memilih menuntut lmu di negeri orang bukan karena aku tidak mempercayai kualitas pendidikan di Indonesia, tapi karena aku merindukan sosok seorang Ayah. Sejak aku kecil, Ayah dan Ibuku berpisah. Ayahku berwarga negaraan Belanda, sedangkan Ibu seorang Indonesia. Ibu sebelumnya keberatan dengan keputusanku, namun lama kelamaan ibuku mulai memahami bahwa aku merindukan ayah.
“Christiani Laura?” sapa seseorang yang sepertinya mengenalku sebelumnya sambil menjulurkan tangan kanannya.
“Yes, sory, are you know me?” tanyaku sebelum menyambut uluran tangannya. Wajahnya sudah sangat tidak asing lagi, namun aku sungguh tidak mengingat namanya.
“Of course, I’m Bobby. Hmmmm... a curly Bob.”
“o ya, si keriting Bobby ternyata,”
Bobby adalah teman SD hingga SMAku. Dia sangat baik, dan sangat pendiam, ia adalah sahabatku, dulu. Sekarang ia sudah tidak keriting lagi, karena cukuran rambutnya plontos seperti tentara kalah perang.
“Ada apa dengan rambutmu, mengapa kau sembunyikan?” tanyanya. Aku sudah mengira, orang yang melihatku akan bertanya perihal jilbab yang aku kenakan.
“I’m a muslim now,” jawab saya pelan sambil sedikit menunduk.
“What?” Bobby terlihat sangat kaget. Mungkin Ibu tidak pernah bercerita apa-apa tentangku kepada siapapun. Ibu sudah tau aku memutuskan menjadi seorang muslim. Ibu tidak terlalu setuju, tapi ia tidak juga melarang, karena agama adalah kepercayaan personal. Mendengar jawabanku, Bobby terdiam hingga kami sampai di depan rumah. Bahkan ucapan terimakasihku karena ia telah menjemput sayapun tidak ia hiraukan. Ia tetap diam. Setelah sampai ke rumah aku beru tau kalau Bobby ingin menyatakan cintanya padaku, namun karena aku muslim, dia sepertinya kecewa.
***
Suasana rumah setelah aku tinggalkan lima tahun tidak banyak berubah, hanya saja aku melihat bangunan baru tepat di seberang rumah.
“Rumah siapa itu, Bu?” tanyaku sambil meneguk satu cangkir kopi.
“Rumah seorang sarjana peternakan, bujangan, namanya Raka.” Jawab ibu yang sedang menyelesaikan sulamannya.
“Pantas saja terlihat sepi, dia tinggal sendiri?” tanyaku lagi.Ibu mengangguk. Aku kembali memandang rumah mungil itu. Sepi, namun sangat rapi. Tidak seperti rumah anak muda lelaki kebanyakan yang identik dengan ‘acak-acakan’.
“Ura, kapan kau ingin mulai mencari pekerjaan?” tanya ibu. Ura adalah panggilan kecilku, dari nama ‘Laura’ dan tentu saja itu tidak dapat di ubah walaupun sekarang namaku Annisa.
“Ura masih ingin bersama ibu dulu. Ura juga masih ada sedikit tabungan hasil bekerja sata di Netherland untuk membahagiakan ibu.” Jawabku santai.
“Bekerja?” tanya ibu bingung.
“Iya bu. Ura dulu sering menulis artikel sederhana untuk di kirimkan ke majalah ataupun ke internet” jelasku. Ibu mengangguk mengerti. Lama kami terdiam, hingga aku mendengar kumandang adzan magrib yang terdengar begitu jelas dari rumahku.
“Ibu, Ura pergi ke masjid dulu ya,” pamitku. Sudah tidak sabar aku untuk beribadah di masjid. Di Belanda, aku jarang sekali melihat masjid dengan kubah di atasnya. Dulu tidak jauh dari kampusku ada sebuah bangunan yang dijadikan oleh umat muslim berkewarganegaraan Belanda namun imigran dari Turki. Disanalah setahun yang lalu aku melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim untuk pertama kali.
***
Pagi kedua aku di Indonesia, setelah lima tahun saya meninggalkan Indonesia. Berdebar dadaku saat aku mendengar bahwa besok akan memasuki bulan suci umat islam yang untuk ke dua kalinya akan ku hadapi, bulan penuh berkah, bulan ramadhan. Dari kecil, aku sudah menyaksikan umat muslim di desaku melaksanakan ramadhan. Mereka terbangun untuk sahur, berbuka serta tarawih bersama. Tahun lalu, ramadhan pertamaku sebagai umat islam aku laksanakan di Belanda. Ramadhan di Belanda saja bisa membuatku amat terenyuh. Walaupun di Belanda tentu saja tidak ada kumandang adzan, tidak ada orang berbondong-bondong berangkat serta pulang terawih, juga tidak ada teriakan-teriakan untuk membangunkan sahur seperti di Indonesia. Ramadhan di Belanda adalah kali pertama aku sholat berjamaah dengan jamaah paling banyak. Masjid penuh dengan manusia berbeda warna kulit yang biasanya dari negara Maroko, Turki, Somalia dan Indonesia, mereka rata-rata adalah mahasiswa yang menuntut ilmu di negeri kincir angin itu. Tidak sadar aku meneteskan air mata saat mendengar seruan imam, “Allah Akbar,” hatiku begitu tenang hingga tak bisa ku ungkapkan.
“Assalamualaikum,” sebuah salam ku tangkap,
“Waalaikumsalam,” jawabku. Seorang lelaki muda, tinggi, memakai kemeja putih, sedikit berjenggot. “Mba Annisa, ini ada sedikit sayur untuk nanti malam sahur. Jadi tinggal di hangatkan saja,” pria itu menyodorkan sebuah mangkuk dengan di tutup oleh seutas kain.
“Anda siapa? Mengapa anda tau nama saya Annisa?” tanyaku bingung. Ia kembali tersenyuk, dua lekukan di pipinya membuah hatiku seketika berdegup cepat.
“Saya Raka, Muhammad Raka, tetangga seberang rumah kamu, Ibumu, Bu Sarah sudah cerita banyak tentang kamu. Jadi, saya kirimkan sayur ini, untuk sahur kamu nanti malam.” Jelasnya. Aku meraih mangkuk itu. Harum sekali. Apa ibu juga bercerita kalau aku tidak bisa memasak sampai pria ini mengantarkan masakan buatku? Hufh, Ibu ada-ada saja... bathinku tersenyum.
“Terimakasih,” ucapku. Pria itu menganggukan kepala. “Silahkan masuk,” twarku. Lagi-lagi lelaki itu mengangguk. “Silahkan duduk, aku mengganti mangkuk ini dulu,”
Aku buru-buru mengganti mangkuk itu dan mencucinya. Ada perasaan gembira tak beralasan di hatiku. Aku begitu ingin kembali bercengkrama dengan lelaki bernama Raka itu.
Tidak lama aku kembali dengan mangkuk kosong dan menyerahkannya ke Raka.
“Terimakasih,” ucapnya, “kemana Ibumu?” tanyanya.
“Ibu sedang tidur, ada perlu?” tanyaku.
“Tidak.”
“..,” sejenak suasana hening. Tidak ada percakapan apa-apa. Aku dan Raka sama-sama menunduk. Ini kali pertama aku merasakan hal seperti ini.
“Annisa, aku sangat kagum padamu...”
Aku terhenyak kaget. Apa Raka sedang menyatakan cinta? Jantungku kembali berdetak kencang, tak karuan rasanya. Don’t be crazy, Nisa... aku membuang perasaan aneh itu tiba-tiba. Mengapa aku begitu bedebar ketika orang yang baru ku kenal belum satu jam ini berkata seperti itu,
“Annisa? Apa kau baik-baik saja?” Raka menyadarkan dari lamunanku.
“oh, ii, iya.. Ada apa? Hmm, apa tadi yang kau katakan? Ma..maaf..” jawabku terbata.
“Aku sangat mengagumimu,” ulangnya.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Disaat warga Indonesia banyak sekali menyianyiakan Islam, kau justru menjadi muslimah, dan mengenakan kerudung. Still istiqomah,”
“sorry, isti...isti.. apa tadi?” itu kata baru yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.
“Istiqomah. Itu artinya tetap pada pendirian. Tidak tergugah oleh apapun,”
“ooo.. aku mengerti...”
Raka tersenyum. Aku kembali melihatnya tersenyum, namun lagi-lagi ia menyembunyikan senyumnya dibawah tundukannya.
“Raka, aku harap kau orang yang baik,” ucapku pelan. Raka menatapku sambil menekukkan alisnya menunjukan bahwa ia tidak mengerti apa yang ku katakan. “Apa kau bisa mengaji?” tanyaku tiba-tiba.
“InsyaAllah aku bisa, ada apa?”
“Aku memilih masuk Islam. Karena aku sangat tenang setiap kali mendengar teman satu satu kamarku di Belanda dulu mengaji. Hatiku begitu tenang. Aku sangat ingin merasakan ketenangan itu lagi. Bisa kau mengajarinya?”
“Subhanallah, tentu saja Nisa, dengan senang hati,” jawabnya.
Aku mengembangkan senyum. Saat itu, Raka menunduk, seolah tidak ingin melihat senyumku. Namun, itu tidak masalah, yang penting aku akan segera bisa mengaji! Pertemuan pertama ini sunggu membuatku bahagia.
***
Mulai dari hari pertama ramadhan hingga seterusnya, Raka menjadi guru mengajiku. Ia sangat sabar mengajariku, mulai dari Iqra’ dengan satu huruf, hingga perlahan huruf arab tegak bersambung dapat ku kuasai. Kalau aku sedang bosan, Raka bercerita segala sesuatu tentang Islam, tentang Para Nabi dan Rosul Allah. Raka juga menjelaskan mengapa umat Islam wajib puasa di bulan Ramadhan. Aku terdiam setiap kali mendengar ceritanya. Dalam 2 minggu, aku sudah bisa membaca Al-Qur’an walaupun belum terlalu lancar dan benar. Namun raka selalu berkata, “Alhamdulillah, kau murid yang cerdas,” begitulah iya memberiku motivasi layaknya seorang anak kecil yang dipuji gurunya, aku bergitu bahagia.
Suatu hari, sesudah sholat isya, aku membuka Al-Qur’an dan membacanya. Pelan. Aku mulai merasakannya. Merasakan ketenangan yang dulu pernah ku rasakan saat mendengar temanku mengaji, bahkan ini lebih. Setets air mata tak terasa menetes membasahi kertas Al-Qur’an. Dalam hati aku berdoa, Wahai Allah, Terimakasih... Kau masih memberikanku kesempatan untuk merasakan kedamaian ini. Izinkan aku terus bersujud di jalan-Mu...
Aku menjadi lebih hidup sekarang. Ibu tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan ini. Aku dan Ibu sama-sama saling menghargai. Ibu tidak mendengarkan gunjingan-gunjingan teman-temannya saat mendengar anak semata wayangnya pindah agama. Ia selalu menanggapi semua dengan senyum dan alasan yang membuat mereka mengerti.
“Ura,” panggil Ibu, “Raka itu pria yang baik, baik sekali,” ucap ibu sambil mengusap kepalaku yang ku tidurkan di pundaknya. Aku diam-diam tersunyu. Sepertinya Ibu sependapat denganku.
“Apa tidak lebih baik kau menikah saja dengannya?” tanya Ibu, “karena dalam agamamu Ibu pernah mendengar bahwa dilarang berpacaran sebelum menikah,” aku terdiam.
“Ibu, apa Ibu yakin Raka orang yang baik?” tanyaku perlahan.
“Apa kau tidak yakin? Apa yang membuatmu tidak yakin?” Ibu kembali bertanya. Sulit sekali aku menjawab pertanyaan Ibu. Kesulitan itulah jawaban pertanyaanku, Raka adalah orang yang baik.
***
Idul Fitripun tiba. Aku berangkat untuk menunaikan sholat Idul Fitri bersama Raka. Berbeda sekali dengan keadaan lebaran di Belanda. Tahun kemarin aku merayakan Idul Fitri di sebuah masjid di Den Haag, namun kali ini aku merayakan Idul Fiti di salah satu kota kecil di Lampung, Indonesia. Suasananya sangat nyaman. Selesai bersalam-salaman, Raka membawakanku kue, opor ayam, dan ketupat! Ketupat! Sangat sulit ku dapatkan ketupat di Belanda. Di hari nan Fitri inilah, Raka mengemukakan keinginannya yang juga keinginanku. Yaitu,
“Jadilah Muhrimku...” pertama-tama aku tidak tau,apa itu Muhrim, namun Raka cepat-cepat menjadi sebuah kalimat yang lebih sederhana dan sering ku dengar di tivi,
“Will you marry me?”
Aku mengangguk pelan. Raka tersenyum seraya berkata, “Alhamdulillah.”
Sebuah pernikahan sederhana di dalam masjid sebulan setelah Idul Fitri. Aku bertambah mencintai Islam, karena Allah mengirimkan aku seorang Imam yang dapat membimbingku lebih baik lagi. Semoga Allah selalu meridhoi jalanku dan suamiku. Allah, I love You....
_SELESAI_

0 komentar:

Poskan Komentar

Ayo Berbisnis